Jumat, Desember 30, 2011

Tragis Amis

Kamu memaki
Kamu katakan, seharusnya tidak ada yang perlu dipilih

Dengan tangis dan amarah
Dengan dengki dan pasrah

Kamu menerkam

Mencari permukaan
Dari kedalaman yang dikais
Jauh..
Jauh..
Jauh..
Sendirian

Sampai sedia kala, kamu kira waktu berjalan

Kamu membungkam
Aku dibungkam
Berkompetisi dengan kesempatan

Kamu menerkam
Dengan tragis dan sedih
Dengan amis dan putih

Bolehkah kubayar, dengan terima kasih?

Selasa, Desember 27, 2011

Anak-anak

Anak-anak berkumpul. Mereka berjalan. Beriringan. Entah ke mana. Satu jalan. Sampai seorang di antara mereka berkata:

"Ah, maaf, sebentar. Tali sepatuku lepas. Harus kubetulkan."

Lalu ia menunduk. Melihat sepatunya. Meraih tali yang bisa menjegalnya. Mengikat perlahan sesuai teori; silangkan, masukkan. Bentuk, dan buat simpul.

"Baiklah, aku sudah selesai!"

Ia menengadah kembali. Anak-anak sudah pergi.

Klise

Aku ingin menjadi sebuah klise

Yang biasa kamu tangguhkan,
kamu sepelekan,
kamu abaikan,
kamu biarkan,
kamu lupakan,
kamu payahkan,
kamu tinggalkan..

Dan aku hancurkan.

Sabtu, Desember 24, 2011

Aku Harus Bertemu Kamu dengan Berjalan

Awalnya aku berada tepat di atas tanah. Tiarap. Hidungku menyentuh bebatuan. Tidak bisa bangun karena beban yang entah bagaimana bisa tercipta. Dan begitu kusadari, kepalaku sudah membesar dengan pikiran-pikiran menyedihkan, sementara hatiku tidak kalah meradang dan menjadi korban atas apa yang aku lakukan sendiri.

Kemudian aku meminta kepastian. Pelunasan. Penyelesaian. Karena semakin perih dan tidak mau bersabar. Berhenti berusaha karena putus asa duluan. Aku pikir, inilah yang memang seharusnya terjadi dari semula. Apa yang gagal sejak awal harusnya tidak perlu dipaksakan. Pernah kubilang kita terbiasa untuk perlahan saja, tetapi ternyata aku orang munafik yang tidak berlapang dada.

Sekarang semuanya ringan. Aku berharap untuk bisa berdiri dan berjalan, namun lebih yang kuperoleh. Aku melayang. Tanpa pikiran menyedihkan. Namun dengan hati yang masih meradang. Jauh, jauh sekali. Seperti hujan yang turun dari bumi ke langit. Diterpa angin yang, aku tahu, selalu hangat padaku yang dingin.

Yang aku mau bukan ini. Aku hanya ingin tegap berdiri. Di atas tanah dengan kaki. Dua kaki. Menatap lurus ke depan, dan perlahan berjalan. Dengan pikiran yang berukuran normal serta hati yang terus meradang.. Karena aku harus bertemu denganmu untuk menghilangkan rusak dan sesaknya.

Aku harus bertemu kamu dengan berjalan. Bukan merangkak tiarap. Atau melayang lalu menghilang. Aku akan berdiri sendiri. Bangkit. Dengan dua kaki. berdiri. Dan berjalan. Karena aku harus bertemu denganmu, sekali lagi. Nanti.

Fiksi

Apakah kita pernah berciuman?
Saat Sabtu malam, misalnya
Waktu hujan turun perlahan
Lalu kita berada
Pada suatu tempat tertutup

Berlindung
Bersembunyi

Menyematkan bibir satu sama lain
Sampai terbuka perlahan
Basah oleh lidah-lidah nakal

Apakah kita pernah berciuman?
Karena penasaran bagaimana ranum yang tercinta?
Atau
Karena dingin di luar sana,
dan berharap pada asa yang tercipta?

Apakah kita pernah berciuman?
Adakah pernah sesuatu terjadi?

Senin, Desember 19, 2011

Tidak Ada Pintu Terbuka

Aku tidak ingin kamu datang.

Aku tidak ingin kamu datang, membawa aku pulang dan berlaku seperti sedia kala. Di mana ada banyak pelukan dan kecupan, serta memori yang belum terlupakan. Sesuatu yang kamu simpan, jauh di sel-sel otakmu yang paling kecil, bukan tentang aku, namun tentang dia.

Seperti indera keenam. Aku menerobos pikiranmu, dan menemukan cita yang menunggu. Di setiap tembok yang kuhantam, ada namanya tertulis dan perlahan berbunyi melafalkannya. Berulang sampai menggema.

Aku tidak boleh datang.

Seharusnya aku tidak boleh datang, sekali lagi, mengunjungi sisi-sisi yang menggeliat ketika diberi sentuhan. Aku tidak punya izin, karena ialah milik yang lain.

Sayang, pergi lebih jauh malah membuatku bertanya siapa yang sebenarnya kamu pikirkan. Jelas tidak ada yang bisa kupercaya, lalu aku melupakan kata-kata, serta semua yang baiknya kuucap untuk menengahi utara.

Semoga tidak ada yang datang di antara kita.

Kamis, November 03, 2011

Usai Berjalan di Keramaian

Kamu tidak perlu menggenggam tanganku
Karena aku tidak akan hilang
Hanya berjalan pelan di belakang
Dan kalau kamu lenyap, yang kukatakan adalah,
Aku tidak apa

Aku ingin memanggil, mencari
Tetapi bayangan itu menahanku karena kamu memang miliknya
Lalu aku diam dan menunggu
Dan kalau kamu lenyap, yang kukatakan adalah,
Semoga kamu baik saja

Rabu, November 02, 2011

Nihil

Bayangan itu bernama kesempatan
Tersusun dalam kalimat yang cuma kamu mengerti artinya

Entah karena apa
Ternyata terabaikan
Tersimpan dalam keraguan
Terengkuh ketakutan
Dibiarkan pandangan

Mungkin palsu merubah makna
Mungkin terkira fiksi belaka
Kalau memang tiada jawaban,
lantas memang harus diakhirkan.

Kuku di Ujung Jemari

Kamu seperti kuku yang tumbuh di ujung jemari
Biasa kutunggu memanjang perhalan
Agar cantik rupanya, lentik nampaknya

Tapi semakin kubiarkan, kamu menyentuh bibir dan sela-selanya
Sampai tergigit dan ingin kuhabiskan saja
Sayangnya kalau menghilang, aku harus menunggu sekali lagi
Untuk tumbuh kembali, menjadi yang pernah terjadi

Kamu seperti kuku yang tumbuh di ujung jemari
Cakap yang selalu ingin kusakiti
Sampai lenyap dan bertumbuh
Meski sedih dan harus kutunggu

Malam Waktu Aku Menangis

Aku menangis di sela-sela suara dan pandangan mata
Mengucapkan benci dan sampai jumpa
Kupikir, lantas akan selesai begitu saja
Berhenti terluka dan menjadi yang berbeda

Aku ingin menulis tapi palsu merubah maknanya
Seolah jadi fiktif belaka
Dan entah mana yang bisa dipercaya

Semua akan membaik, begitu kukira
Ternyata pilah adalah salah yang ada pada masalah
Kini terkurung di tembok imajiner yang kubuat semata
Terperangkap dalam ketidaksempurnaan yang tidak bisa diterima

Semoga ada yang membuatku berharga.

Sabtu, Oktober 29, 2011

Aku Tidak Berubah

Kamu tidak berubah, ya.

Begitu katamu waktu itu. Aku tidak berubah. Masih seperti dahulu, ketika kamu pertama kali mengenalku. Sampa saat ini, aku tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikiranmu tentang aku. Tetapi, dengan lembut, kamu katakan padaku, aku tidak berubah.

Aku tidak akan berubah. Karena seberapa jauh pun aku tertinggal, kamu harus menemukanku sebagai seseorang yang sama. Alasannya semata, hanya agar kamu tidak kecewa.

Sebenarnya aku berusaha berubah. Menjadi sesuatu yang lain rupanya. Kupikir, dengan itu hidupku akan berubah. Orang lain akan menemukan aku yang baru, mencintainya, dan kami hidup bersama. Sayangnya, aku tidak berubah. Kamulah yang menjadi karenanya.

Masih terngiang, Kamu tidak berubah, ya.

Seolah kamu turut berbahagia. Seolah kamu mengharapkan aku seperti yang seadanya kutunjukkan seperti biasa. Seolah kita telah lama tidak berjumpa, dan memang begitu kenyataannya, dan kamu bersyukur aku masih sama seperti masa yang sebelumnya.

Aku senang kamu mengatakan padaku, kalau aku tidak berubah. Padahal aku berusaha berbeda, tetapi ternyata aku bukan yang lainnya. Masih satu dengan yang dahulu kala.

Apakah benar, aku tidak berubah?

Kalau ya, teruslah mengingatku. Lihat aku seperti dulu. Lalu kembali. Dan katakan hal yang sama, untuk kedua kalinya.

Sabtu, Oktober 22, 2011

Aku Baru Mengetahuinya

Munafik itu hitam yang membungkus putih

Kalau kau tanya seperti apakah rupa dan bagaimana bentuknya,
Maka kujawab saja:
Lihat itu, teman-teman yang biasa tertawa bersama

Kamis, Oktober 20, 2011

Sepuluh Ribu

Kutemukan uang sepuluh ribu di jalan.
Kalau kulaporkan pada polisi, nantinya diambil untuk dikorupsi.
Kalau kuambil sendiri, bisa kupakai untuk beli sebungkus rokok putih.
Kalau kucari siapa yang punya, semua bilang, "Itu milik saya."
Kalau kuamalkan di rumah ibadah, nampaknya nanti sasarannya salah.
Kalau kuberikan tukang minta-minta, nanti dia besar kepala.
Kalau kutukar dengan genting seperti kata nenek moyang, bisa-bisa terjadi kecelakaan.
Kalau kudiamkan saja, sayang juga kelihatannya.

Ada uang sepuluh ribu di jalan.
Aku bingung siapa yang buang.
Kasihan dia sendirian.
Biar kusimpan di dompet, agar dia bisa berteman.

Rabu, Oktober 19, 2011

Kabar

Sudahkah kamu bertemu subtitusi?
Apakah masih perlu berjuta,
atau telah datang satu yang sempurna?
Kalau ya, maka berbahagialah.

Pergi sana, berlawanan arah
Ketika berputar, pastikan aku masih ada.
Panggil saja bila menghilang
Karena aku mendengarmu, selalu.

Aku mengingatmu lalu menangis
Aku mengingatmu lalu menangis
Aku mengingatmu lalu menangis..

Tolong
Jangan lenyap
Jangan berlalu senyap.

Sebab kamu cuma satu
Dan masih terpikir, akan kembali untukku.

Kamis, Oktober 06, 2011

Semuanya Untukmu

Sayangku, sayangku
Kalau aku bicara padamu,
tolong lihat aku,
lalu tatap mataku,
dan katakan apa yang kau temu

Bilang
Kalau kau ingin badan
Tapi bukan pelacur jalanan
Aku siapkan diri di ranjang

Sayangku, sayangku
Kalau aku bicara padamu,
tolong lihat aku,
lalu tatap mataku,
dan mulai merayu-mendayu

Bilang
Kalau kau ingin perasaan
Tapi bukan sekadar sisaan
Aku berikan dada yang lapang

Sayangku, sayangku
Kalau aku bicara padamu,
tolong lihat aku,
lalu tatap mataku,
dan jangan kau takut begitu.

"Iya"

Aku takut marah, aku takut salah
Karena yang benar adalah: kamu bukan untukku
Kita bisa tertawa dan mengelakkan keraguan
Tapi pada masanya, kenyataan akan datang.

Keyakinan dan kesedihan dibatasi oleh selembar kertas tipis
Bila ada coretan yang tersisa,
maka tak lain berupa:
Aku menyayangimu sebenar-benar adanya.

Saya Rasa, Saya Sakit Jiwa

Saya rasa, saya sakit jiwa.
Ada sebuah suara yang bilang, "Hentikan saja! Hentikan saja!" tapi tetap dilakukan juga.
Ada sebuah suara yang bilang, "Ayo buka! Ayo buka!" lalu saya terluka karenanya.
Saya rasa, saya sakit jiwa.
Terus-menerus berkata bahwa tidak ada yang akan menjadi sebaik sebelumnya.
Bertahan dalam linier yang sepi dan rata.
Sendiri saja susah, mengapa sekarang harus berdua?
Saya rasa, saya sakit jiwa.
Seperti orang jatuh cinta.
Mengingat pagi petang, siang malam pun tak lupa.
Bangun tidur, ada dia.
Hendak tidur, muncul juga.
Seperti merindu kekasih hati rasanya.
Saya rasa, saya sakit jiwa.
Atau cuma sekadar obsesi belaka.
Tapi kalau berulang, apa namanya?
Kalau bisa, saya ingin mengirim boneka.
Ke rumahnya, tanpa nama.
Sebagai tanda cinta.
Boleh juga belasungkawa.
Atau suka cita.
Pun hanya tanda mata.
Saya rasa, saya sakit jiwa.
Karena saya ingin mati di tangannya.
Ditembak dengan peluru bertuliskan dia punya nama.
Untuk saya yang merasa, saya sakit jiwa.
Dari anak perempuan pertama.
Masih perlu kusebut siapa?
Saya rasa, saya sakit jiwa.
Kalau tidak sakit apa-apa, maka tolong sembuhkan saya.
Karena saya merana..
Dan tidak mau sakit jiwa.

Kamu Berlalu

Aku mengucapkan kata rindu dan kamu menjawabnya dengan serupa.
Sama.
Persis.
Mengulang saja.
Seperti Rekaman. Dan aku tidak tahu apa-apa yang harus kupercaya.

Dalam bayanganku, kamu sudah pergi melewati garis horizontal. Namun masih nampak ketika kulihat dari tegak vertikal. Ada punggungmu. Ia berlalu. Aku mendengarmu. Bercerita, tentang Adinda.

Tolong.. Palingkan wajah itu.
Kembali padaku.
Tidak perlu seperti dulu. Aku hanya ingin bertemu dengan mata yang belum pernah kujumpa sebelumnya.
Aku berjanji akan mendengarmu.
Lebih sabar.
Sampai malam.
Semuanya akan kudengarkan..

Kamis, September 29, 2011

Mundur

Sampai kini, aku masih menghitung dengan satu, dua, tiga.

Tapi kalau nyata kulihat, maka berbalik adanya.

Mundur menuju minimum, menghilang sampai minus.

Dua belas akan kembali pada dua belas.

Ketika waktunya tiba, aku tahu semuanya tepat.

Senin, September 26, 2011

Bibirmu Membentuk Tanda Tanya

Manusia selalu bertanya akan hal yang tidak mengenakan hati. Tetapi, disadari atau tidak, mereka tidak mempertanyakan pada hal yang membahagiakan diri. Pernahkah kamu mendengar seorang pria kaya bertanya, "Mengapa aku harus dilimpahi harta?" atau wanita cantik bertanya, "Mengapa aku molek dan mempesona?" Kukira, kamu tidak pernah mendengarnya.

Banyak sesuatu yang tidak dipahami anak-anak. Namun, sebenarnya, kita lupa bahwa semakin bertambah usia, ternyata kita kembali menjadi anak-anak.

Dahulu, aku bermain bergandengan tangan dengan semua teman-temanku. Perempuan, atau laki-laki. Seiring berjalan waktu, sedikit demi sedikit aku, atau mungkin kita, merasa enggan dan tidak mau saling bersentuhan. Kini? Melepas pakaian bersama pun bukan lagi hal rumit. Seperti dahulu, waktu masih kecil.

Kamu tahu, jarak terdekat antara manusia ditentukan oleh bibir. Yang entahlah itu terbuka, atau menyatu. Bukan tangan atau kaki. Bukan hidung atau pipi. Bibir. Dua pasang bibir.

Anak-anak bertanya, "Mengapa papa dan mama berciuman?" karena mereka tidak tahu apakah itu hal baik atau buruk. Orang dewasa tidak bertanya, "Mengapa kita berciuman?" karena seharusnya tahu, bahwa memang saling menginginkan. Sampai waktu, entahlah, mengapa jarak terdekat ditentukan oleh bibir. Dua pasang bibir.

Mengapa manusia berciuman? Coba tanyakan itu pada Tuhan yang tidak melarang sentuhan. Kahlil Gibran bilang, manusia menutup mata ketika berciuman, karena hal terindah di dunia tidak terlihat. Mengapa manusia berciuman? Mengapa?

Injil mengatakan Adam dan Hawa telanjang di surga. Mereka memakan buah pengetahuan dan akhirnya berusaha menutupi daun mereka karena rasa malu. Qur'an mengatakan Adam dan Hawa memakai pakaian. Setelah memakan buah terlarang, pakaiannya menjadi compang-camping. Aku mengatakan Adam dan Hawa, memakai atau tidak memakai pakaian, bosan hanya bergandengan tangan atau berpelukan. Lalu mereka mencoba berciuman, menggunakan dua pasang bibir, lalu menjelajah ke tempat-tempat lainnya dengan bibir yang sebelumnya dikulum atau terkulum. Merekalah yang memulainya, memulai ciuman.

Mereka bingung apa lagi yang belum mereka sentuh dan rengkuh. Lantas sadar bahwa bibir mereka belum menyentuh dan merengkuh. Kemudian, mereka diusir dari surga.

Mereka mengajarkan anak-anak mereka.

Mereka menjadikan ciuman sebagai naluri lahiriah.

Sampai pada saat ini tiba.

Dan sebagian dari kita telah melakukannya.

Selasa, September 20, 2011

Tanah, Hujan, dan Matahari Tersisa

Bukan Tanah yang menyerap Hujan.

Tapi Hujan yang memaksa masuk ke dalamnya.

Dengan hati-hati mendalami tiap luka, melepas dahaga, memberi hidup pada yang bertumbuh.

Lalu pergi dari hulu ke hilir, bermuara di sungai menuju sampai lautan.

Kemudian kembali ke langit, dan kamu menunggunya dengan setia.

Seperti biasa, karena ialah sang kekasih abadi.

Kamu, Tanah yang tidak berarti.

Kamu, Tanah yang pernah sekali dinanti.

Setiba waktu kamu bilang benci Hujan, tak lain karena Hujan selalu bisa mengambilmu kapan saja.

Aku Matahari.

Kamu tidak akan membenci karena aku Matahari.

Bukan Hujan.

Sedikit namaku tidak tersentuh pada salah satu bagian dadamu.

Maka, pergilah.., pergilah.

Hujan akan bertanya apa kabarmu dan membawamu kembali ke paraduan.

Jangan buang waktu.

Camkan;

Hujan yang memasuki dirimu.

Bukan kamu yang meresapi Hujan.

Aku Matahari yang menjadi saksi.

Aku Matahari yang hendak mengadili.

Aku Matahari..

Yang meminjam Hujan dari Tanah.

Yang mengembalikan Hujan untuk Tanah.

Sabtu, September 17, 2011

Aku Takut Terluka, Aku Takut Menderita

Rasanya lucu
Seiring masa berlalu, aku semakin tidak mengenal jiwamu
Hanya mempelajari raga
Aku rindu waktu-waktu dahulu
Semoga bisa kembali lagi.

Kamu katakan padaku;
luruskan apa yang menyimpang,
bubarkan segala merugi,
dan berkawanlah saat henti.
"Lakukan saja, seperti itu."

Aku berlarian karena takut terluka
Aku tidak percaya karena takut menderita
Aku mengucapkan tanda karena takut terluka
Aku tidak berdaya karena takut menderita.

Bukan kamu yang kutangisi,
tapi kepayahanku karena tidak bisa bertahan lebih lama.
Padahal aku tahu perasaanku sendiri,
tapi tidak kuasa meleburkan semuanya.
Karena takut terluka, karena takut menderita.

Kamis, September 15, 2011

Tidak Peduli dan Tidak Apa

Aku menulisnya pada kertas besar dan kertas kecil,
tapi kamu tidak mencarinya.

Kalau kubilang tak apa,
kamu yakin semua baik-baik saja.

Maka,
selamanya kamu tidak akan tahu tentang apa dan bagaimana.

Setengah Arwah

Seseorang, tolong jadikan aku manusia
Bukan yang setengah jadi, atau apa
Sebab aku tidak tertolong dengan adanya
Dan napasku mulai tercekat dalam rongga
Hendak terhisap jelaga.

Selasa, September 13, 2011

Akan Terus Menjadi Pikiranku

Kupikir,
kalau kutunggu, maka aku akan tahu.

Semoga sampai tiba waktu,
kamu akan berlalu,
dan aku, percaya padamu.

Kupikir,
kalau kamu berlalu, maka kamu akan tahu.

Semoga sampai tiba waktu,
aku akan menunggu,
dan kamu, percaya padaku.

Senin, September 12, 2011

Pengganti

Dia memang masa lalu yang tidak berlalu, tetapi semoga aku menjadi pengganti yang tidak terganti.

Dia memang kenangan yang tetap dalam angan, tetapi semoga aku tetap menjadi pengganti yang tidak terganti.

Dia memang memori yang tersimpan dalam hati, tetapi semoga aku terus menjadi pengganti yang tidak terganti.

Ketika terbangun, aku sadar kalau aku hanya akan menjadi pengganti. Baik untuk yang pertama, atau kedua kali. Sampai kini.. Masih tetap pengganti.. Pun begitu, semoga, aku tidak terganti.

Cukup katakan ya, kapan aku harus pergi.

Minggu, September 11, 2011

Dua Bulan

Bukan kehilanganmu yang menjadi duka
Tetapi kenyataan kalau kamu mempertahankan masa lalu-lah yang menciptakan luka
Dan aku tahu, aku tidak perlu mati karenanya
Cukup meninggalkan dan pergi sama-sama
Kedua arah yang berbeda, kamu kepadanya dan aku entah pada siapa.

Aku mengerti apa yang tidak kamu sadari
Kalau kamu ingin kembali padanya, maka kembalilah
Karena kita menghabiskan waktu tak lain untuk menunggu ketika tiba saatnya
Bahwa di antara kita cuma memiliki kehilangan yang ada.

Sabtu, September 10, 2011

Tuna Susila Mencari Cinta

Mereka mendatangiku pada malam-malam tertentu
Satu persatu, dari waktu ke waktu

Mengecupku
Mencoba menarik napasku

Kamu tidak tahu
Bahkan tidak perlu

Tapi, tolong aku..

Selasa, Agustus 30, 2011

Agustus - November

Seharusnya aku mengerti dan memperingati diriku sendiri. Bahwa aku adalah masa kini yang belum terlampaui, sehingga tidak memiliki harga atau pesan sama sekali.

Seharusnya juga, aku ingat, bahwa masa lalu yang selalu menciptakan senyum, sepahit apa pun bentuknya.

Aku belum terbiasa, dan sebaiknya cepat terbiasa. Yang kamu ketahui kadang membunuhmu, aku tahu benar itu. Sebelum waktunya aku terkapar terbunuh, ada bolehnya mati di tangan sendiri.

Aku (Lebih) Tahu

Aku tahu,
tapi pura-pura tidak tahu.

Aku tahu,
tapi tidak mengatakannya.

Aku tahu,
tapi tidak melakukan apa-apa.

Aku tahu,
tapi menunggu kesadaran dirimu.

Jumat, Agustus 26, 2011

Kamu Terlihat

Aku melihatmu berpelukan dengan kekasihmu yang dulu. Kamu hendak mengantarnya pulang setelah bertemu dengan teman-teman. Bagimu, itu selepas salam.

Aku melihatmu berciuman dengan kekasihmu yang dulu. Kamu menemani untuk membukakan pintu rumahnya. Pikirmu, kalian saling merindu.

Aku melihatmu bercumbu dengan kekasihmu yang dulu. Kamu menutup pintu dengan kaki dan membenamkannya di sofa biru ruang tamu. Katamu, semua akan baik saja.

Aku melihatmu bersetubuh dengan kekasihmu yang dulu. Kamu menggendongnya sampai tingkat dua, masuk ke kamarnya, kemudian ke tubuhnya. Bisikmu, "Aku masih mencintai dia."

Aku melihatmu.

Entah dari ingatan atau khayalan.

Aku, hanya melihatmu..

Kamis, Agustus 25, 2011

Kotak A

Kalau kubuka,
Aku akan melihat dia
Lalu menangis sejadi-jadinya

Dan mengingat...

Sebaiknya, aku tidak ada.

Selasa, Agustus 23, 2011

Tolong Perhatikan Aku

Tolong perhatikan aku, dan katakan sesuatu
Apa pun itu, jabarkan satu-persatu
Sampai habis waktu yang dihitung dengan abu

Kumohon, pandanglah, dan bicaralah
Atau sebelumnya aku harus menjadi lemah
Karena marah, kesah, sampai desah

Kupikir aku tidak perlu mati karena luka
Semoga, begitulah benar adanya

Selasa, Agustus 16, 2011

Dari Kricika Ungu Muda

Mintuna tercinta..

Tolong kabarkan padaku sebuah berita menyedihkan tentang bagaimana cara kita berpisah nantinya.

Lebih cepat lebih baik. Aku ingin segera mengadu nasib sendirian dan tanpa beban perasaan.

Aku minta maaf untuk semua kata janggal yang terucap. Tetapi, aku bercermin dan tiap paginya bertemu dengan sosok lain yang berusaha menjadi sempurna.

Tidak lain untuk mampu menjadi wanita yang menyatakan:

Aku mencintaimu, apa adanya. Kamu tidak perlu percaya padaku agar aku pun tak harus melakukannya. Semoga besok, kamu mau menyayangiku, mengatakannya, dan membuatku berharga.

Jumat, Agustus 12, 2011

Adam, Tolong Ajarkan Padaku

Adam, tolong ajarkan padaku bagaimana caranya mengkhianati Tuhan.

Lalu ceritakan seperti apa rasanya bercinta dengan rusuk sendiri.

Bukankah di surga, kau lakukan semuanya?

Sampai terlempar ke dunia karena buah pengetahuan.
Sampai terlempar ke dunia karena jatuh cinta pada seorang wanita.
Kemudian kamu mengenal cinta.
Kemudian kamu kekal di dalamnya.
Dan kamu maafkan Hawa.
Dan kamu jaga sampai akhir hayatnya.

Adam, apakah Tuhan tidak cukup menemanimu sebelumnya?
Adam, tolong ajarkan padaku bagaimana caranya mengkhianati Tuhan.
Adam, tolong ajarkan padaku bagaimana caranya mencintai zat yang berbeda.

Cerita

Aku mendengar cerita dari nenek moyang manusia. Tertera pada batu dan daun-daun yang umurnya abadi. Aku mencari kata: "Kita" pada kisah-kisah fabel hingga legenda, sampai tanpa kusadari, aku tenggelam dalam alinea; yang tertera pada batu dan daun-daun berumur abadi. Aku mencari kata: "Kita" pada kisah-kisah mite hingga sage, sampai kusadari, aku mati dalam wacana.

Kamis, Agustus 11, 2011

Ibu, Lakukanlah

Lakukanlah, Ibu.

Bunuh dia. Relakan saja. Dorong dari tingkat tiga. Sampai hempas dan berhenti bicara. Ibu bilang, dia tidak berguna.

Lakukanlah, Ibu.

Berikan dia pada orang lain. Lupa pernah hidup di janin. Agar lepas Ibu bermain. Ibu bilang, benci dia kemarin.

Lakukanlah, Ibu. Lakukanlah.

Dia tidak pernah meminta kelahirannya. Dia tidak memilihmu sebagai Ibunya. Dia tahu bisa mati kapan saja. Maka, lakukanlah!

Tolong, Bu. Lakukan. Lakukanlah. Dia mohon. Ya?

Selasa, Agustus 02, 2011

Asing

Sekelabat, pertanyaan muncul:
"Apakah aku mengenalmu?"

Waktu tidak menunjukan ada siapa di balik namamu
Bahkan peluk dan cumbu tidak membayar perkenalan
Aku tidak tahu siapa kamu, sedikit pun!
Dan kini, bagaimana caraku melanjutkannya?


Apakah aku mengenalmu?
Sungguh, katakan, apakah aku mengenalmu?
Mengapa terasa asing, apakah itu aku atau karenamu?
Lalu, apa yang harus aku lakukan?
Lekas jawab karena aku tidak tahu
Seperti apakah kamu dan bagaimana harusnya kita berlaku

Aku ragu
Dan tolong camkan itu

Senin, Agustus 01, 2011

Kamu Pasti Mengerti

Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Saat ini, untuk nanti.
Aku takut memori perlahan mati dan aku mulai melupakan kamu.
Dengan sosok dan janji darimu, yang sampai kini aku yakini.

Kamu, akan membawa aku ke sana.
Ke tempat teduh untuk melakukan satu hal: minum kopi.
Kemudian, kita akan bicara panjang.
Bahkan lebar.
Sampai luas.
Hingga dunia tertutup oleh huruf-huruf yang kita lontarkan.

Aku rindu.
Sungguh.
Percayalah.
Untuk kembali pada tiga tahun lalu.
Pada waktu aku dan kamu bertanya, "Hai, ini siapa?"

Aku ingin menebus maaf.
Untuk yang terjadi dua tahun lalu.
Tolong, jangan menghilang, sampai saat itu.
Satu tahun belum cukup untuk mengembalikan aku padamu.
Kamu padaku.
Kita pada kita.
Seperti dahulu, yang kita sebut: kembar.
Hanya sampai situ dan tidak perlu lebih lagi.

Kamu tahu, kamu benar-benar tahu.
Cerita tentang Gadis Berkabut yang hilang ketika tengah dicandu.
Dan, kumohon, jangan berubah.
Tetap jadi Pria Terang yang manja dan banyak bicara.

Aku butuh kamu.
Itu masalahnya.

Sabtu, Juli 23, 2011

Brrrmm...

Belakangan, masyarakat Ibu Kota protes kepada pemerintah karena semakin berkurangnya armada angkutan umum. Yang biasanya sampai dalam waktu 1 jam dari Manggarai sampai Blok M di waktu berangkat kerja, saat ini harus bangun setengah jam lebih pagi agar tidak terlambat sampai tujuan.

Pemerintah juga kewalahan menangani masalah ini. Pasalnya, armada angkutan umum berkurang dengan sendirinya dari tahun ke tahun. Mulai dari koasi, angkot, mikrolet, metromini, kopaja, bus trans, sampai bemo, bajaj, becak, dan tukang ojek, semuanya perlahan punah. Kendaraan-kendaraan itu perlahan teronggok satu-per-satu di Bantar Gebang, sampai hutan Kalimantan. Mau dilenyapkan, sayang. Mau disimpan, sembarangan. Mau dimusnahkan, masih bisa dipakai. Mau dipertahankan, tapi sampai kapan? Hingga kemudian, kendaraan yang menyimpan banyak sejarah itu berubah menjadi rumah masyarakat pinggiran, mainan anak kecil, sampai kandang binatang.

Di terminal, orang-orang berbincang:

"Gila. Ini gila. Hampir 1 jam menunggu dan belum ada bis lewat. Ini sudah keterlaluan!"

"Iya, mas. Saya saja hampir 2 jam. Mau jalan kaki, takut celaka. Motor nggak punya, mobil apa lagi. Mau naik sepeda, takut celaka juga karena armada taksi makin banyak."

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan bis-bis itu, ya? Demo mogok? Hal ini benar-benar menyusahkan masyarakat. Tidak boleh dibiarkan berlanjut lebih lama."

Di Istana Negara, orang-orang berbincang:

"Mampus kita, mampus. Masyarakat menuntut kendaraan umum. Padahal alternatif taksi sudah diperbanyak, tapi sia-sia. Bahan bakar malah merugi. Polusi tidak berkurang. Malah polisi yang makin kaya karena banyak orang kena tilang. Kita tidak tahu sampai kapan bisa meredam kesabaran masyarakat."

"Loh, tapi bapak pernah bilang, mau mengurangi jumlah kendaraan umum karena mengganggu ketertiban?"

"Iya, itu maksudnya saya yang mengurangi. Bukan mereka yang berhenti sendiri. Tidak bisa begini caranya. Kok berhenti seenaknya, tidak ada yang mau melanjutkan usaha bapak mereka jadi supir atau kenek bis. Tidak boleh begini caranya."

"Tapi, bukankah karena itu jumlah pengemis dan pengamen berkurang? Tingkat kesehatan masyarakat juga meningkat karena banyak yang memilih naik sepeda dan jalan kaki. Yah, meski seiring dengan itu, tingkat kecelakaan juga meningkat.. Menurut kabar terakhir, pendapatan perkapita kita juga meningkat meski belum menunjukkan angka yang berarti loh, pak."

"Tetap saja fenomena ini harus terungkap penyebabnya. Tingkat simpati masyarakat menurun karena pengemis berkurang. Kesenian kita tidak terbudidaya dan pasaran lagu Melayu menurun. Bagaimana pun, kita butuh orang-orang seperti itu. Kita harus melakukan sesuatu. Sudah kodrat dan anak-anak mereka untuk menjadi buruh. Merekalah orang yang berperan seperti itu demi menyelamatkan Ibu Kota, bahkan keseluruhan negara."

Di warung kopi, orang-orang berbincang:

"Payah ini orang muda. Tidak ada lagi yang mau meneruskan perjuangan kita sebagai supir. Mereka kalah oleh macetnya Blok M - Pasar Minggu. Suara mereka tidak keluar lagi untuk mencari penumpang dan gemerincing receh mulai hilang dari peredaran. Semua karena mereka sibuk bicara tentang cita-cita!"

"Ya, betul. Dulu, kita melompat dari satu bis ke bis lain untuk mengamen, berharap bisa jadi terkenal. Hasilnya, paling banter kita bisa menang lomba keroncong di kecamatan. Coba lihat sekarang, anak cucu kita tertipu gemerlap layar kaca dan bernyanyi, I love you.. I love you.."

"Apa yang mau dikata. Jaman sekarang tidak ada lagi yang mau jadi buruh. Supir, pengemis, pengamen, seperti kita bukan cita-cita idaman. Sebentar lagi tukang bakso, ketoprak, somay, juga akan punah. Cita-cita anak sekarang lebih tinggi. Tidak bisa didikte lagi. Nggak dipikirkan sama mereka kalau bajaj itu masih harus jadi warisan. Guru-guru juga menyuruh anak kita menulis karangan tentang cita-cita. Nanti mereka akan menceritakan ingin jadi supir kapal terbang, bukan kopaja punya bapaknya. Apa boleh buat."

Di terminal, orang-orang yang masih menunggu bis mencoba membunuh waktu dengan menimbang-nimbang pekerjaan mereka. Antara mencari pekerjaan yang lebih terjamin, atau bekerja keras sampai mampus agar bisa meraih cita-cita: menjadi orang kaya.

Di Istana Negara, orang-orang menyusun wacana guna menghancurkan fenomena angkutan umum. Rencana-rencana dibangun sedemikian rupa mulai dari lomba supir terbaik sampai janji memperbaiki kualitas kendaraan umum. Rencana tersebut dibahas dengan modal ratusan juta dan semakin diperbesar, agar bisa meraih cita-cita: menjadi orang kaya.

Di warung kopi, orang-orang menyeruput kopi panas seraya mengunyah pisang goreng dengan gigi yang sudah tidak lengkap. Mendiskusikan nasib anak bangsa yang sibuk bicara tentang cita-cita mereka, tanpa sedikit pun menyinggung pekerjaan buruh seperti orang tua mereka.

Sabtu, Juli 16, 2011

Selamat Tinggal Vrisaba

Suatu waktu, Vrisaba memanggil.

Ia sedih!
Ia pedih!
Ia perih!
Dan lari kepadaku.

Lucu, seperti dahulu.

Sentuhan lama yang pernah dicandu..
..sudah berlalu!

Jumat, Juli 15, 2011

Kricika di Kelas Sebelah

Tubuh tegapmu berbicara
Selalu.

Seraya melangkahkan kaki dari anak tangga pertama
Menuju dua
Tiga
Tidak terhingga
Kamu lalui, begitu saja.

Selasa, Juli 12, 2011

Aku Melihatmu Memasuki Ruang

Aku bisa melihatmu memasuki ruang.

Dengan seragam putih abu, melewati pagar sekolahmu. Cantik sekali. Setiap warna senada denganmu, setiap kain yang menyapu menambah elok rupa tubuhmu. Aku menyaksikan kamu melewati lorong-lorong dengan penuh kebanggan, sesekali merapikan rambut dan melempar senyum kepada teman yang ramah. Cantik sekali.

Aku bisa melihatmu memasuki ruang.

Membuka pintu mobil abu-abu, dengan kaki jenjang yang putih menggoda. Cantik sekali. Setiap jarak yang terlewat, setiap lampu merah jalan, matamu seperti menyiratkan sesuatu. Aku menyaksikan kamu turut bernyanyi mengikuti alunan radio, sesekali mengelus bibir dan menumpu kepala pada tangan kiri yang dibalut gelang-gelang menarik. Cantik sekali.

Aku bisa melihatmu memasuki ruang.

Mendekap lengan, dengan senyum terurai. Kamu bahagia. Kamu dipuja. Cantik sekali. Setiap langkah yang kamu tapak menimbulkan bunyi ketegasan yang wibawa. Aku menyaksikan kamu sesekali bicara, bertanya mana yang pantas untukmu dan untuk kalian. Cantik sekali.

Aku bisa melihatmu memasuki ruang.

Berselimut, lalu tertawa. Cantik sekali. Di kamar merah, semuanya terjadi. Setiap lekuk yang kamu bentuk dan harum yang membekas. Sungguh mengundang. Aku menyaksikan, dan sungguh aku bisa menyaksikan, kamu memeluk dan bercumbu, melenguh, dan menyelesaikannya. Cantik sekali.

Aku bisa melihatmu memasuki ruang.

Kamu bicara di sana. Sungguh berkharisma. Cantik sekali, dan aku tidak bisa berkata apa-apa.

Aku bisa melihatmu memasuki ruang.

Menangis sendirian karena kamu lemah. Tetap cantik. Sangat cantik.

Aku bisa melihatmu memasuki ruang.

Kamu selalu sempurna.

Aku bisa melihatmu dari celah-celah pagar, atau dari lubang kunci.

Aku tidak lagi kuasa melihatmu memasuki ruang. Kamu, terlalu bersinar..

Senin, Juni 27, 2011

Sampai Lalu Layu

Ada yang dilerai
Pada haru, sendu membiru
Ada yang terbuai
Pada sendu, haru membiru

Sampai lalu layu
Merindu kembali waktu merayu

Ketika usai, aku dicerai
Ketika selesai, aku terderai

Ketika usai, aku diburai
Ketika selesai, aku terurai

Sampai lalu layu
Merindu kembali waktu merayu

Dimulai
Terkulai

Digerai
Terbelai

Sampai lalu layu

Sabtu, Juni 18, 2011

Sesuai Dengan Apa yang Tertulis

Aku kangen kamu.

Dari celah bahu yang beradu, kupikir, perlahan aku bisa tahu ke mana matamu memburu. Apakah masih hangat seperti dahulu, atau telah kamu berikan, entah kepada siapa, asal bukan aku?

Aku kangen kamu.

Sebelum tengah bulan, kala kamu tidak menyelamatkan aku. Hanya peluk tanpa cumbu, genggam tanpa kecup, dan ucapan tanpa penyelesaian. Sampai habis waktu, dan kamu berhenti mengingat harum tubuhku.

Aku kangen kamu.

Juga malam-malam kita.

Berdua, bertiga, berbelas-belas.

Tetapi, kamu, tidak pernah, mengatakan, apa pun.

Jarak

Ternyata, kamu telah menciptakan sesuatu.

Pantas saja kamu lupa akan apa yang harus kamu katakan. Menarik tangan, dan menyanggah perbuatan. Menjadikannya permintaan, bukan kebutuhan, atau kesengajaan yang dijadikan kecelakaan karena naluri saling menginginkan. Kamu telah menciptakan Maha yang mungkin akan abadi waktunya. Hanya kembali tiada seumpama aku mati, lalu ditiupkan ruh lagi, lantas bertemu denganmu di kehidupan berikutnya. Tak lain, untuk mengulang kesalahan dan membiarkan dirimu menciptakan sesuatu yang tak mampu untuk terabaikan dan diabaikan, sekian kalinya.

Sungguh, kamu telah menciptakan sesuatu.

Sajak dari Murahan

Tolong katakan apa yang kamu rindukan,

dan akan kuberi semuanya.

Di tempat serta waktu yang kamu inginkan,

sampai batas yang nanti kita janjikan.

Tolonglah, bilang.

Karena,

kamu tidak boleh diambil orang..

Jumat, Mei 06, 2011

Nol dan Satu

Orang dulu bilang, yang mencipta 'satu' pada akhirnya mendukung kekosongan. Menjadikan penghabisan. Bisa dengan kesedihan, bisa juga kegembiraan. Ada yang hidup, atau berjumpa kematian.

Suatu waktu, aku bermimpi. Ada dirimu dan cintaku di sana. Karena ini mimpiku, aku mendapati teman di keterangan dan kembali sendiri di keteduhan. Inginnya berlari mengejar. Tapi aku takut terbakar.

Kalau aku kembali bangun, lalu kau dapati aku mati, sesungguhnya 'orang dulu' benar-benar mengerti maksud kehadiran.

Senin, Mei 02, 2011

Balada

Aku ingin mencintaimu dengan istimewa yang terjaga.
Sampai lupa mana yang dulu atau tengah kala.
Lalu perlahan percaya, dan berterima kasih untuk yang telah bicara.

Aku ingin mencintaimu dengan istimewa yang terjaga.
Seperti manusia yang ditolong di tengah belantara.
Kehausan akan rindu Hawa.
Dan disapih selaik bayi yang menyusu di dada ibunya.*
Kemudian kembali dewasa untuk berkata,
"Lihat, aku telah baik-baik saja."

Aku ingin mencintaimu dengan istimewa yang terjaga.
Pun kalau-kalau, tiada ingat dirimu mana yang derai, mana yang tawa.
Aku masih ingin mencintaimu dengan istimewa yang terjaga.




*) Dari Kahlil Gibran - Kidung Cinta

Rabu, April 27, 2011

Malam

Malam memang ditakdirkan untuk selalu menjadi gelap. Yang baru aku sadari, ternyata gelap menelan semuanya dalam senyap. Berbeda dengan terang yang menyisakan bayang. Seputih apa pun, terang bisa terinjak hitam. Lain dengan keteduhan, hitam terinjak hitam.

Rasanya sedikit curang. Ada terang dalam tiga waktu bagian. Pagi, siang, dan senja. Sedangkan gelap hanya ada dalam malam. Lambat laun pun, malam disebut malam ketika langit menghitam. Dan mentari yang menyembul, menghapus paraduan malam. Bahkan, hadirnya bulan demi mentari, merusak kelam malam. Gelap, tidak pernah dibiarkan sendirian.

Sabtu, April 23, 2011

Benda yang Dibunuh Sekali Lagi

Pada hari itu, aku menjatuhkan sesuatu.

Benda yang penting. Dari orang yang berharga. Tak sengaja terlepas dari pengawasanku, sehingga ia terjatuh. Aku melihat di mana ia tertinggal, tapi kubiarkan. Terpikir untuk menyelamatkannya dari kesendirian yang mungkin akan melandanya, setelah selama ini ia selalu ada bersamaku. Kukenalkan ke mana-mana, dan kubanggakan dengan penuh cinta. Sayangnya, yang tidak pernah kusangka, harganya tidak lebih dari apa-apa. Aku tidak menyayanginya.

Sesuatu itu, sampai kini masih mendatangiku melalui mimpi. Bertanya apa kabarku, dan apakah tidak pernah sekali pun aku merasa rindu dengannya. Dengan segala kenangan yang ada. Mulai dari yang pertama sampai terakhir jumpa. Ia terjatuh di aspal, dan aku menatap dingin tanpa tanda tanya.

Pernah sebelumnya kupikir, apa yang sebenarnya terjadi dengan sampah-sampah di jalanan. Baik yang benar sampah, pun bukan. Mengapa bisa terjatuh? Berlanjut rata dengan tanah? Tidak berada di tempat yang seharusnya? Diam begitu saja, diterpa angin dan hujan melanda? Ke mana pemiliknya? Sebegitu jahatnya kah, untuk meninggalkan mereka untuk waktu yang berikutnya?

Yang tidak kuduga, aku akan melakukan hal yang sama. Pada hari itu, aku menjatuhkan sesuatu. Benda yang penting. Dari orang yang berharga. Tidak kuselamatkan. Dan kubiarkan begitu saja. Tidak ada kabarnya. Tidak ada rindunya, sampai kuungkapkan penyesalan yang ada.

Apakah dia baik-baik saja? Berada di tangan Tuhan, atau manusia? Hancur dilindas kendara, atau berhasil menyelamatkan diri dari celaka? Seperti apa dendam yang dipikirkannya padaku, yang kini menaruh rindu ingin jumpa dan mengajaknya tidur bersama?

Kini, entah mengapa dan bagaimana, aku mulai mengerti perasaan benda-benda yang dianggap mati. Yang kemudiannya dibunuh sekali lagi, setelah ratus-ratusan kali, sebelum ribu-ribuan berikutnya.

Aku ketakutan. Maafkan aku.

Senja Abu-abu

Tuhan, berikan aku kabar tentang kekasih-kekasihMu

Sebagaimanakah rupa mereka yang mengilu,

di balik senja abu-abu,

apakah rindu? Sendu? Pilu? Ragu?

Atau, menelan semuanya jadi satu?

Lalu, aku akan pulang ke rumahMu

Ke rumah Tuhan, dengan wajah manusia

Merengkuh yang tidak kumiliki untuk mengembalikan semuanya

Sehingga kelabu memerah kalbu

Tak lagi senja abu-abu

Bukan lagi rana atau fana,

pun lana atau lara.

Jumat, April 22, 2011

Apakah Kamu Sengaja?

Apakah kamu sengaja?

Agar aku tidak bisa membedakan, mana yang mimpi, mana yang nyata.. Dengan kau sisakan sia-sia tubuhmu, di setiap pincang. Mulai dari aroma, hingga lekuk badan. Sungguh, apakah kamu sengaja?

Lalu pelan-pelan, di depan batang hidungku, kau lenyapkan semuanya. Sengaja meneduh arah angin. Sekali lagi, untuk meninggalkan sisa sia-sia tubuhmu. Mengapa kamu sengaja melakukannya?

Untuk meninggalkan pesan, kah? Atau kesan indah tiada tara?

Tidakkah ada sedikit kasihan untuk pengemis yang meraup hati di jalanan? Yang, terakhir kali, kau tinggalkan sisa sia-sia tubuhmu?

Apakah kamu sengaja?

Minggu, April 03, 2011

Sendiri, Berdiri

Tampaklah ia, dan kulihat dirinya. Kupikir tertawa, ternyata diam saja. Inginnya kusapa, tapi bagaimana? Tolonglah tersenyum, bilang baik-baik saja, kemudian kembali. Dengan ucapan terima kasih, dan kisah nyata yang berbahagia.

Kamis, Maret 31, 2011

Menarik

Satu tarik, pelan-pelan
Dua tarik, berkejaran
Tiga, empat, ketagihan
Lima, enam, jangan dilepaskan
Tujuh, delapan, sembilan, boleh hembuskan
Sepuluh tarik, cepat habiskan!

Jumat, Maret 25, 2011

#dearmom

Meski terlambat, selamat atas pernikahanmu.

Pernikahan tanpa pengesahan. Tanpa izin oleh pengecut yang masih tinggal menumpang, dan berani-beraninya mengucap hukum agama.

Aku tidak perduli siapa yang benar dan bagian mana yang salah, karena aku bersumpah untuk lepas tangan dunia dan akhirat. Berbahagialah, aku cukup memperhatikan.

Bila maumu meninggalkan aku, maka tinggalkanlah.

Seperti balita yang kau sisakan air susu, lantas tenang tanpa rengek manja. Yang bercengkerama dengan sastra, seni, dan matematika. Lalu berubah menjadi diriku yang sekarang.

Bila maumu meninggalkan aku, maka tinggalkanlah.

Seperti anak bungsu yang kau biarkan sendiri saja di rumah. Sementara anak lelaki kesayanganmu dibawa sampai ke ujung dunia, tanpa bertanya kabar pada anak sulung yang depresi menganggap dirinya sebagai anak yang tidak diinginkan.

Bila maumu meninggalkan aku, maka tinggalkanlah.

Seperti perempuan puber yang lupa di mana rumah yang seharusnya. Namun di lain waktu, kau bawa kebahagiaanku dan membiarkannya menghubungiku dengan parau dan ketakutan, bercerita bahwa dirinya bersembunyi karena takut-takut dibunuh.

Bila maumu meninggalkan aku, maka tinggalkanlah.

Sesuai dengan diriku kini, yang tahu sebagaimana indahnya sentuhan dan perihnya ditinggal sendirian. Aku paham perasaanmu. Sungguh paham. Oleh karena itu, kubilang, berulang, bila maumu meninggalkan aku, maka tinggalkanlah..

Tetapi..

Jangan setengah-setengah. Tinggalkan seluruhnya.

Seperti balita yang masih kau kecup selamat tidur, kala itu. Yang kau berikan tangan untuk dipeluk, dan kau manja dengan ala kadarnya, namun membuatku bahagia.

Jangan setengah-setengah. Tinggalkan seluruhnya.

Seperti anak bungsu yang sebelumnya kau jaga, tetapi kau tinggalkan dengan orang yang berbahaya. Dan, setiap hari kau tanya, “Apakah Dinda sudah pulang? Sudah bersih-bersih? Dan sudah makan?”

Jangan setengah-setengah. Tinggalkan seluruhnya.

Seperti perempuan puber yang menemanimu di setiap perjalanan menuju persidangan. Mendengarkan amarah melalui selular, dan membantumu mengembalikan warna telinga, hidung, mata, dan pipi yang merah karena mengeluarkan air mata.

Jangan setengah-setengah. Tinggalkan seluruhnya.

Sesuai dengan diriku kini. Yang kau campakkan tetapi masih kau harapkan. Setelah sebelumnya pernah kau katakan, “Yang penting, untuk anak-anak..” Tinggalkan saja aku. Tak apa, sungguh tak apa. Pun engkau beradu di paraduan, aku akan baik saja. Kalau memang hanya masalah waktu, maka, tetap, jangan setengah-setengah.. Tinggalkan seluruhnya.

Keduanya adalah lelaki pilihanmu. Terlepas dari kecelakaan, atau tidak. Salah satunya mengalir dalam darahku, dan tidak kupungkiri keadaannya. Aku tidak menerima keduanya. Tetapi bila kau menginginkan mereka, maka lakukan sesukamu.

Bila akhirnya kau memutuskan untuk memilih satu dan pergi bersamanya, lantas pergilah.

Dan, jangan setengah-setengah.

Tidak ada yang membicarakan kematian di sini. Seperti yang pernah seseorang petuahi padaku, “Asal kita tahu keadaan masing-masing ialah baik saja, kita tidak perlu berjumpa dan mengucap semalam.”

Ketika di lain sisi aku terus bersyukur pada Tuhan karena aku tidak kekurangan sesuatu apa pun, aku di sini sibuk menangis tanpa menyebutkan ada permasalahan apa. Inginnya menyalahkanmu, tetapi tidak bisa. Karena, keberadaanku yang salah.

Ketika di lain sisi aku mengingat manusia-manusia yang sibuk mencintai peranmu, aku di sini sibuk mengeluh dan meminta. Inginnya menyalahkanmu, tetapi tidak bisa. Karena, keberadaanku yang salah.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Terima kasih. Terima kasih.

Terima kasih.

Apa pun itu.

Aku sayang Bunda.

Minggu, Maret 06, 2011

Simpang Siur

Siapa yang berada sendirian,
di ruangan,
dan ditemani tangan?

Aku.

Siapa yang menunduk kesepian,
di keteduhan,
dan ditemani pelukan?

Aku.

Siapa yang menyapih keluhan,
di laknat kubangan,
dan ditemani kecupan?

Aku.

Sebenarnya akulah yang menyedihkan.
Meski aku meminta maaf kali berulang, tubuhku tidak akan berubah menjadi cermin untuk dia. Pun kini aku menyerupai, seolah, bak dirinya. Seperti yang kau, atau mereka pernah katakan, sebelumnya.

Kamis, Maret 03, 2011

Menyedihkan

Kupikir,
menyenangkan..

Ngilu,
tajam.

Dan, yah,
menyenangkan.

Selasa, Maret 01, 2011

Seusai Pernyataan

Berikan jawabannya!

Kalau kau pikirkan, akan kutunggu.

Kalau kau pastikan, akan kuseru.

Tidak akan kuburu dengan waktu.

 

Kita sudah terbiasa untuk perlahan saja.

Mulai dari awal jumpa, hingga akhir jua.

Dan jangan kurusak dengan memaksa.

Dan jangan kau rusak dengan terpaksa.

Amoral

Sudahlah, cukupkan saja bicaramu.

Segera turunkan baju, dan tanggalkan pengait-pengait yang menghalangi pandangan. Lucuti milikku, kemudian mendekatlah. Tidak perlu pakai ucapan, ‘kan kusapih kudapan, perlahan, ke dalam ranum yang tidak bernama.

Jangan berontak, dan jangan berucap. Kalau desah menggelisah bisa lebih jujur menjawab pertanyaan dari derau debat, maka mari kita lanjutkan. Sehuruf ‘A’ akan menjadi tanda persetujuan, sekira dirimu dan aku akan berbaring dengan pusara malu yang melompat ke depan dan belakang.

Persetan!

Untuk apa mencari alasan lagi, ketika bibirku mencubit apa-apa milikmu, dan tubuhmu menggelinjang pasrah tanpa perlawanan? Cukupkan bicaramu, dan nikmatilah! Semua akan baik-baik saja.

Bahasalah yang tidak menyatukan ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’, tetapi bahasa tubuh menceraikan semuanya untuk melebur jadi satu. Kalau kamu senang, menjeritlah, “IYA!” dan sekali pun tidak senang, teruslah bergairah hingga lepas malam.

Kamu akan terbangun dengan lengan yang melingkar. Merasa hina, namun ketagihan. Munafik. Tetapi, datanglah kembali. Dengan racauan yang akan kucegat dengan bondong liur lidah. Kemudian, akan kupaksa dirimu seperti sebelumnya.

Berhentilah bicara, dan poloskan dirimu.

Senin, Februari 28, 2011

Aku Mau Rumah

Ayah, Ibu, aku mau rumah.

Tidak apa bila tiada pintu, pun jendela di sana. Biarkan saja aku terperangkap di dalamnya, mengendus dan menghembus udara yang sama. Sampai habis dan lenyap begitu saja, lalu membuat diriku kebas, dan terperangkap untuk selamanya. Benar, sungguh tidak apa. Sama sekali tidak apa-apa.

Kakak, Adik, aku mau rumah.

Kalian boleh bertandang, mengucap salam dan membawa senyuman. Menghancurkan segala, dan membuat lubang yang mengasingkan diriku di dalam panas pedas kebencian. Boleh, benar-benar boleh. Tiada masalah, tidak ada masa yang salah.

Aku mau rumah!

Berikanlah, hancurkan kemudian, lalu beri kembali, dan hancurkan lagi!

Asal berikan apa yang kupinta. Tetap baik saja, pun aku terjebak di dalamnya.

Sungguh! Aku lelah dicegat matahari. Biarkan aku bercinta dengan gulita dan keteduhan. Sia-siakan aku, dan jangan panggil namaku, cukup hancurkan dengan bilah caci dan maki, lantas aku pasti menghampiri. Asal, tolong, kumohon. Aku mau rumah..

Minggu, Februari 27, 2011

Tespen #2 (Untuk Bella di Melawai)

Aku adalah binatang lajang
Yang kemaluannya dipajang-pajang
Di pinggiran jalan

Dihargai ranjang semalam
Dan kondom sepasang
Serta makan cukup membuat kenyang

Kubuat kamu mengerang girang
Lantas hati terasa lapang
Dengan apa yang kupegang
Di waktu sebelum terang

Kubuat-buat mengejan
Dengan peluh saling menghunjam
Dan terdiam

Atas nama hati yang kelam
Mencari penikmat lanjutan
Kembali memajang
Di pinggiran jalan
Untuk hidup mendatang




Jumat, Februari 25, 2011

Sejurus Gelap

Sejurus sebelum, aku menikmati

Sejurus sesaat, aku benci diriku sendiri
Sejurus sesaat, kucumbu liar fantasi
Sejurus sesaat, segala tanggal dan pergi
Sejurus sesaat, kutanya, "Hanya segini?"
Sejurus sesaat, kujawab, "Memang begini."
Sejurus sesaat, masih mampu rupanya berdiri
Sejurus sesaat, aku mau sekali lagi

Sejurus setelah, aku menikmati.

Akhirnya

Pedih yang kucaci melirik lirih
Membisik terpanggil, menagih,
"Kapan lagi? Berkasih-kasih?"
Kemudiannya mati, memilih

Letih yang kurindu kini mendengus
Hilang nihil dalam tandus
Sampai, sampai, sampai terus
Mati, tergerus

Sesekali, datang menghampiri
Mencari sepi yang ikhlas diberi
Lembut yang melemah hati, kini,
Bersiap dipetik mati

Pedih memerih kembali, akhirnya
Letih memulih kembali, akhirnya
Sepi menyapih kembali, akhirnya
Mati kembali, akhirnya

Jumat, Februari 18, 2011

Sambil Lalu

Lirih sendu aku merayu
Tenang, perlahan, tidak terdengar
Mencekik perih, sampai pelik

Bertanya:
"Lalu aku harus bagaimana, dan melakukan apa?"

Sabtu, Februari 12, 2011

Pilar

Dua wanita.

Dengan pakaian yang sama, gaun pendek, sedikit di atas lutut mereka. Berwarna putih dengan pita perak yang mengikat pinggang. Ditambah, potongan kerah berbentuk persegi, dengan bordir kupu-kupu perak kecil membentuk huruf 'L'.

Potongan rambutnya pun tiada jauh berbeda. Pendek, agak bergelombang. Seluruh poninya disapu ke belakang dengan bando perak dari kain yang paling halus sejagad-raya.

Mereka berdiri di samping pilar. Saling membelakangi. Yang pertama menghadap ke timur, dan yang kedua menghadap barat. Dari balik pilar, mereka bisa mendengar satu sama lain berucap, bicara. Tanpa menjawab, karena memang bukan lawan bercakap.

Teman wanita pertama, datang. Mengucap, "Selamat siang," dan sementara bercengkerama. Ketika usai dan melanjutkan perjalanan ke arah barat, ia akan bertemu wanita kedua, dan melakukan hal yang sama.

Teman wanita kedua, datang. Mengucap, "Selamat petang," dan sementara bercengkerama. Ketika usai dan melanjutkan perjalanan ke arah timur, ia akan bertemu wanita pertama, dan melakukan hal yang sama.

Matahari telah hilang. Tenggelam ke barat. Disaksikan wanita kedua, dengan penuh keanggunan dan rasa bahagia. Kucing-kucing mulai berdatangan, meminta makan dan bermanja-manja. Dengan tetap diam di tempat, bertahan pada balik pilar yang menghadap ke barat. Wanita kedua menyapih semuanya sampai segala menjadi baik-baik saja. "Meong," ujar kucing, mengisyaratkan selamat malam.

Matahari telah kembali. Terapung dari timur. Disaksikan wanita pertama, dengan penuh keanggunan dan rasa bahagia. Kucing-kucing mulai berdatangan, meminta makan dan bermanja-manja. Dengan tidak diam di tempat, berjalan menjauh pilar yang menghadap ke timur. Wanita pertama membimbing semuanya sampai segala kebaikan terkuras begitu saja. "Meong," ujar kucing, mengisyaratkan selamat pagi.

Dua wanita.

Dari balik pilar yang sama.

Lain arah mata.

Beda kehidupan.

Satu yang pertama, dua untuk sisanya.

Kamis, Februari 10, 2011

Lupa

I

Tak apa,
sungguh tak apa bila
kau lupa..

Namun jangan bertanya,
"Pernahkah?"
dan kau buang segalanya.

II

Melupakanmu bukan akhir dari segalanya.
Karena hanya aku yang hancur,

dan kamu tiada apa-apa.

III

Dan singa-singa mulai lupa akan gagahnya.
Melembut lemah
diracuni betina.

Mati,
lalu terurai..
Hempas di atas tanah
yang basah.

IV

Ternyata benar.
Tiada yang lupa di antara kita.

Hanya ingatan palsu yang berada.

Ternyata benar.
Tidak pernah ada cinta.

V

Aku tidak lupa.
Tidak pernah lupa.

Hanya..,
datang ketika rindu saja.

Sabtu, Februari 05, 2011

Kekasih Hujan

Dari titik air yang lupa gravitasi, dan seenaknya menghampiri jendela yang sudah usang ini, ialah kamu salah satunya yang terpantul dengan nyawa. Inginnya kuseka, kuhapus sampai tiada bersisa, kuhilangkan dan kuenyahkan agar air yang serupa dirimu tak lagi-lagi kembali mengunjungi jiwa yang luruh kering kerontang. Kalau sesekali kamu berpikir bahwa akulah transparansi rasa sepi dan diikat tirani, maka kamu benar. Dan bila kamu teruskan siraman rohani dengan air suci kebanggaan, berilah aku waktu untuk melihat sejauh mana kamu mampu menembus zaman.

Dengan Orang Lain

...Dan aku bercinta dengan malam-malam yang pernah kamu bilang tiada akan kurengkuh.

Untuk harga diri, kepuasan dini, dan hidup hakiki, melawan sepat sepi di balik harum kopi yang memantulkan wajahmu..

...Dan lagi-lagi aku bercinta dengan malam, membunuh yang abadi dan memang benar pula kata-katamu, sederas apa pun peluh yang kukejar dan erang yang kudamba, dalam setiap malam-malam pengharapan tanpa cinta sesungguhnya, ternyata bukanlah kamu yang menyapu buncah dari sekam gelap selepas mentari lelah.

Kamis, Februari 03, 2011

Dengan atau Tanpa Kesedihan

Dari balik kaca besar yang buram karena kepul asap dan hangat, aku memperhatikan manusia-manusia yang berjalan dengan atau tanpa kesedihan. Beberapa saling bergandengan tangan atau menepuk punggung di belakang, namun seperti yang sebelumnya terucap, mereka berada antara dengan atau tanpa kesedihan.

Di sini memang kau bisa bertemu banyak orang, dengan atau tanpa kesedihan. Baik yang milikmu, atau bukan. Memanggil nama orang lain dan kadang-kadang menyebut nama Tuhan sendirian. Melangkah berat, atau sengaja tok-tok-tok memamerkan tingginya, rampingnya, indahnya, seninya, dan mahalnya kaki mereka. Untunglah tidak dengan rincing yang menjadi, sehingga setelah mereka melangkah dengan wangi yang mengundang, aku diam saja dan tidak terpancing gairah. Tetap bertahan memperhatikan yang selanjutnya hidup dengan atau tanpa kesedihan, di balik kaca yang semakin rabun karena kepul asap dan hangat.

Kalau bayi-bayi lewat dengan atau tanpa kesedihan dari wajah orang tua yang penasaran akan seperti apa mereka dewasa, yang kubayangkan adalah kejahatan. Mungkin mereka akan seperti aku, yang kini entah dengan atau tanpa kesedihan, asik berkumul dengan kepul asap atau hangat, tanpa bisa bercermin di kaca besar, karena mereka hanya memantulkan apa yang ada di seberang.

Manusia itu lucu, dengan atau tanpa kesedihan, mereka akan datang kemari dan menunggu diperhatikan. Dengan atau tanpa senyum sumringah, mencari kesayangan dan penjelasan dari nama-nama yang mereka sebutkan. Dan sekali lagi, dengan atau tanpa kesedihan, mereka bisa mencari-cari kesenangan..dengan lupa pernah menjadi dan akan menjadi seperti apakah dirinya dan kesedihannya.

Kursi

Laki-laki di hadapanku itu, entah siapa namanya, dari mana asalnya, dan bagaimana dia bisa berada di sini, cukup mengganggu pikiranku. Sedikit mengusik pandangan pula, karena senyum tipisnya sesekali membuatku mencandu dan tak lekas pergi dari sini, sesudah beberapa waktu asap rokoknya menghardik, seolah bicara, "Aku tahu kamu memperhatikan aku."

Tidak mungkin kalau aku berdiri, membawa kopiku yang sengaja tidak juga kuhabiskan karena menurut dirinya yang juga tidak mencumbu gelasnya, dan menghampiri dia. Mengatakan bahwa aku melihat dirinya sedari tadi dengan seksama, bahkan sebelum dia memutuskan untuk melahap apa yang tengah dikunyah kini. Ya, aku memperhatikan bibirnya, giginya, lidahnya, bahkan gusinya yang segar, memikirkan berapa jumlah harta tak bertulang yang pernah terkulum di dalamnya, bercinta.

Dahinya dikerutkan. Jemarinya menyentuh dagu dengan janggutnya yang tipis, atau rambut di kepalanya yang juga tipis, dipotong necis. Sorot matanya tajam dan aku percaya dia berintuisi tepat. Bila kuberikan tulisanku ini padanya, aku yakin dia hanya tersenyum dan menyungging bibirnya ke kiri.

Aku benci dia, entah mengapa.

Tetapi dia menjadi fatamorgana sekarang, tanpa sempat kusapa selamat siang, hingga aku tidak tahu apakah dia nyata atau mimpi belaka.

Aku benci dia, entah mengapa.

Tetapi setiap hisap rokoknya membuatku tetap di sini. Ya, aku benci dia karena tidak menyadari bahwa aku menunggu dirinya menghabiskan santapannya, pergi dari sini, meninggalkan aku, lantas semuanya tenang kembali.

Siapa dia? Dari mana asalnya? Bagaimana bisa berada di sini? Harusnya dia tahu bahwa sedang diberi pertanyaan yang pantasnya dia jawab karena takdir Tuhanlah yang membawa dia ke sini, sampai dengan kebetulan, yang disengajakan, kemudiannya diluruskan, dibenarkan, lalu dipaksa jadi kenyataan, dan dibulatkan sebanding perkenalan..

Sungguh, dia tidak dapat dimaafkan. Sama sekali tidak. Sama sekali tidak termaafkan.

Selasa, Februari 01, 2011

Rasanya Sedih

Rasanya sedih. Sedih sekali.

Melihat apa yang tertulis, tersebut, dan terucap. Karena belum ikhlas, belum rela, belum mampu. Masih egois dan terperangkap emosi, untuk memiliki lagi, seutuhnya dan untuk selama-lamanya. Sampai siapa yang membuang telah hilang manisnya, telah sembuh lukanya, telah tinggal bekas-bekasnya.

Rasanya sedih. Sangat sedih.

Dengan dan oleh muara kesalahan. Penyesalan, tanpa pengakuan, tanpa perasaan. Kemudian datang kembali, tertatih, memohon ampun. Sayang, tegang, dan tiada terpegang. Menunggu lapang..entah kapan.

Minggu, Januari 30, 2011

Cita-cita

Kalau ditanya punya cita-cita apa, mungkin gue akan menjawab panjang lebar dan butuh waktu untuk mendengar dan menelaah apa yang gue katakan. Jelas, karena gue selalu bicara--terlalu--cepat ketika semangat.

Pernah sekali gue menulis tweet, bertanya, "Besar nanti gue jadi apa, ya..?" dan beberapa ada yang menjawab bahwa gue akan menjadi seorang pengacara, karena gue memang berminat dan berharap di sana. Atau juga, bergabung di LSM dan komunitas sosial lainnya, melihat gue yang senang sekali untuk hal-hal semacam itu. Ada juga yang bilang kalau gue akan menjadi penulis, psikolog, bahkan sampai peramal.

Yang pasti, satu hal yang menjadi cita-cita gue adalah, gue ingin jadi istri. Ketawa? Gih, sana.

Sampai usia gue 14, gue trauma dengan pernikahan, dengan keluarga, dengan sosok suami merangkap ayah, dan segalanya yang berhubungan dengan itu. Bagaimana kalau gue mengalami hal yang sama seperti bunda? Bagaimana kalau anak gue bernasib seperti gue nantinya? Apa gue harus mengulang kehidupan menyeramkan itu, yang perlahan kini mulai terhapus sedikit demi sedikit, bukan karena dilindungi topeng, tetapi memang dari diri gue sendiri yang asli.

Ketika usia gue bertambah, bahkan tahun ini gue akan menginjak usia 17 tahun, pandangan gue semakin luas dan mimpi gue pun mencoba mendekati realita. Gue senang pergi ke pernikahan, melihat pasangan yang--semoga saja--berbahagia. Gue masih tetap menangis, entah karena sedih atau terharu, ketika melihat keluarga kecil yang saling sayang. Padahal yang mereka lakukan tidak banyak, cuma seorang ayah yang memakaikan sepatu ke anaknya, atau ketika pasangan suami istri sedang berusaha menyapih anak mereka. Iri? Mungkin. Jelasnya, gue ingin seperti itu, tidak sabar, dan berharap keinginan gue tidak dianggap muluk.

Gue ingin menikah. Gue ingin menikah karena gue memang siap dan bukan kesepian, karena gue mencintai pasangan gue, bukan karena kasihan atau terpaksa. Gue ingin tinggal di rumah putih bergaya kolonial, dengan banyak foto keluarga dan perabot minimalis. Tidak banyak sekat, dan cukup satu tingkat. Dengan ruang makan menghadap ke halaman, tempat anak gue tumbuh nanti. Di pintu kulkas tertempel foto-foto non-formal dan hasil karya anak gue, dan di dalam kulkas itu sendiri, ada stok makanan dan cemilan yang dinikmati bersama-sama.

Setiap minggunya kami punya quality time, agar hubungan kami tidak menjauh dan merenggang. Gue akan berusaha mengenal teman-teman anak gue, sehingga gue tahu harus menghubungi siapa ketika anak gue tidak terdengar kabarnya. Gue ingin bereksperimen di dapur bersama suami gue nanti, membuat kejutan untuk anak-anak. Atau yang paling mudah saja, gue ingin menonton acara televisi bersama mereka.

Gue kehilangan masa kecil gue, dan gue yakin kalau gue akan mendapatkannya lagi melalui anak gue. Dan gue harus bersabar untuk itu, karena kalau terburu-buru, yang ada gue hanya akan mengulang kesalahan yang sama, bukan?

Mungkin muluk, mungkin berlebihan, dan mungkin juga keterlaluan, tetapi itulah mimpi dan cita-cita gue yang sebenar-benarnya, yang sesungguhnya. Kalau gue bisa punya suami yang seperti amanah nenek gue; bertakwa, bertahta, dan berharta, gue tidak keberatan kok, untuk tinggal di rumah dan cuma mengurus anak. Tanpa bantuan pembantu pun tak apa, gue akan berusaha membuat semuanya menjadi sempurna. Gue ingin anak gue merasa betah di rumahnya sendiri.

Aih, menulis ini saja bikin gue mau menangis sendiri.

Teman-teman dan seorang guru gue ketika SMP pernah bilang begini, "Olga itu kayaknya, kalau nggak yang paling cepat menikah, pasti yang paling lama!" dan mungkin memang begitu adanya, ahaha. Untuk waktu dekat sih, semoga saja penyakit 'kering cinta' gue bisa sembuh, sehingga gue cepat belajar menerima orang lain.

Bukankah gue sudah terhitung besar? Gue tidak menyebut dewasa, karena gue tidak berhak menilai soal itu. Dan karena gue semakin bertumbuh, gue rasa paradigma pribadi gue yang menganggap bahwa gue masih anak-anak dan belum pantas bicara cinta, harus mulai dihilangkan. Tidak ada salahnya menangis karena orang lain, atau karena perasaan tidak berbalas, gue pikir.

Seandainya gue bisa 'cepat sembuh', gue akan mendapatkan cita-cita gue, kok. Menikah. Jadi pengantin. Jadi istri yang berbahagia, dan pasangan yang nyaman. Dengan rumah menyenangkan dan anak-anak yang manis. Cukup itu, cita-cita terbesar gue.

Aminin, ya.

P.S. : Masalah menikah dengan pilot? Oh, itu masih gue harapkan dan yakini sampai sekarang!

Sabtu, Januari 29, 2011

Beliau yang Dingin

Beliau benar-benar dingin.

Bahkan setelah apa yang pernah terjadi di antara kami, entah dengan atau tanpa pakaian, beliau masih mampu mengalahkan panas matahari dengan senyum dingin dan mata kesepian. Seolah waktu, tempat, bahkan warna, menjadi kaku mengikuti gerak langkahnya. Berubah menjadi hitam putih. Dengan sudut sembilan puluh derajat, atau kurang lagi dari pada itu, tajam menusuk, namun menagih dan mencandu. Sakitnya, perihnya, hingga bekas-bekas lukanya.

Sungguh dingin! Barangkali, dunia membeku seiring bertumbuhnya beliau menjadi dewasa, atau dirinya terperangkap dalam sosok kekanak-kanakan yang mampu dilecehkan, tetapi kembali dingin dan tidak merasa apa-apa? Sungguh, beliau benar-benar dingin, sebenar-benarnya kaku dan selayak-layaknya hitam putih, yang menyebabkan beku dan perasaan tertusuk, tanpa sesuatu apa pun yang beliau lakukan, tanpa sesuatu apa pun yang sesungguhnya pernah beliau rasakan, dan terpanahkan dengan gumpal tiada bertulang.

Sabtu, Januari 22, 2011

Gugur Bunga

Di kanan kiri jalan, kamu bawakan gugur bunga untuk menghias sampai tiba cabang.

Warnanya merah kebiru-biruan,
seperti wajah tercekik mengendap napas, lalu hilang pucat, ditelan ajal.

Rabu, Januari 19, 2011

Rindu Rumah

Aku mau pulang

Kembali ke rumah,
pun tiada orang di sana,
dirubung capung-capung nakal
dan debu pengikat napas.

Aku hanya mau pulang
Sesedih apa pun keadaan.

Sabtu, Januari 15, 2011

Cemas

Apa yang sedang terjadi?
Tolong katakan, karena aku ketakutan sekarang.

Semua baik-baikkah? Adakah yang kurang?
Bisa seseorang pastikan, semua aman dan pada tempatnya?

Tolong.
Aku mohon.

Mereka

Mereka memekik, "Mati!". Namun, tiada di antara mereka yang membinasakan diri, pun mengenyahkan jiwa-jiwa sepi penuntut harga diri.

Mereka memekik, "Mati!". Lalu hidup kembali, lagi dan lagi. Berhenti, lalu mencoba sekali. Lantas memaki, "Ayo akhiri kehidupan ini!".

Mereka tidak bisa memekik, "Mati!". Karena sudah hilang pengemis-pengemis iri. Dimakan tirani. Kehilangan nyawa, dan benar-benar mati.

Mereka bertanya dari kubur hati, "Mengapa tiada yang mengerti? Bahwa kami tidak mau mati, hanya tidak ingin hidup lagi..?".

Jumat, Januari 14, 2011

Aku Selalu Takut

Aku selalu takut.

Kalau-kalau ketika tidak kudapati dirimu hari ini, kamu telah lenyap saat matahari terbit kembali. Aku tiada memiliki waktu untuk mengucapkan perpisahan, karena kata-kata terakhir sudah terhapus masa dan hilang dari ingatan.

Tidak, aku tidak menginginkan perjumpaan terakhir berlalu abu. Karena itulah aku selalu takut.

Mungkin jahat, dan sangat jahat, dengan segala yang tersabda dan tersebutkan. Atau yang disabda dan disebutkan. Namun, jelas, yang menyabda dan menyebutkan yang salah.

Aku selalu takut.

Takut tidak bisa bertemu. Baik untuk yang pertama, terakhir, atau kembali lagi. Takut tidak bisa bicara. Karena ruhmu pergi, dan aku terkejut sampai-sampai membisu, biru. Takut, aku tidak merasakan apa-apa ketika kamu melepaskan tubuhmu. Sehingga aku hidup menjadi segumpal penyesalan.

Aku selalu takut, kini aku merindu. Dan yang aku tahu, aku menyayangi kamu. Hanya itu. Cukup itu.

Sabtu, Januari 08, 2011

Sedikit pun Tidak

Bersenangkah dirimu?

Aku tidak mencecap apa-apa selain yang kamu tahu telah kurengkuh.
Bisa terdengar pacu waktu semakin melaju, menjelaskan perasaanmu..
Tetapi, lain denganku, tiada merasa apa-apa.

Kamis, Januari 06, 2011

Marah

MENGANJINGLAH HIDUP! Dan segala betina yang bercinta dengan lengah-lenguh kemunafikan. Tanpa kelihaian. Menunggu karma setelah Sodom dan Gomora. Bibir-bibir perawan yang sarat akan basah nafsu. Dengan gemulai buta bisu, menyalahkan nyawa namun tidak mencapai regang. Aku akan berhenti sampai kata, "Ya, sudahlah," tetapi apa yang kamu lihat esok hari tidak lebih dari serangga yang mati termutilasi.
© Tulisanku!
Maira Gall