Malam memang ditakdirkan untuk selalu menjadi gelap. Yang baru aku sadari, ternyata gelap menelan semuanya dalam senyap. Berbeda dengan terang yang menyisakan bayang. Seputih apa pun, terang bisa terinjak hitam. Lain dengan keteduhan, hitam terinjak hitam.
Rasanya sedikit curang. Ada terang dalam tiga waktu bagian. Pagi, siang, dan senja. Sedangkan gelap hanya ada dalam malam. Lambat laun pun, malam disebut malam ketika langit menghitam. Dan mentari yang menyembul, menghapus paraduan malam. Bahkan, hadirnya bulan demi mentari, merusak kelam malam. Gelap, tidak pernah dibiarkan sendirian.
Tulisan Olga di blog ini bagus sekali, tapi judul tulisan Olga pendek-pendek, sehingga sepertinya tidak begitu SEO friendly. Dan saya juga membaca tulisan Olga di Koran MEDIA INDONESIA terbitan 1 Mei 2011. Selamat Olga penulis berbakat.
BalasHapusTerima kasih!
BalasHapusIya nih, aku memang nggak pandai bikin judul, dulu malah hampir nggak pernah ngasih judul :( Kalau ngirim artikel, pasti judulnya kena revisi mulu, hiks :'(
Terima kasih, mohon bantuannya :D
masuk media indonesia, serem. hahaha mau baca dong. sini ga pernah beli koran soale.
BalasHapusKok serem, sih? -..-
BalasHapusArtikel biasa kok. Jurnalistik, bukan sastra. Gue aja nggak punya :p