Jumat, Desember 21, 2012

Aku ke Mana

Seberapa yakin manusia dengan bayangannya? Padahal di antara bayangan itu, tidak ditemukan mata atau segala lainnya. Hanya gelap saja.

Sejauh mana manusia mengetahui akan-akan yang mungkin datang dan bisa minta izin berpulang? Yang boleh saja tidak pernah berencana untuk mengada-adakan dirinya menampil sosok dari samar andai-andai?

Pernah sekali tersebutkan tentang ikat yang tidak bisa dimasuki binatang liar; tidak pula ditumbuhi gulma atau diserang hama. Telah dijampi sedemikian rupa oleh air segala Dewa yang Maha.

Kadang, yang tidak bisa ditinggalkan seharusnya dilalui dengan saling meninggalkan. Tanpa bicara, tanpa tatap mata. Tanpa temuan, tanpa mencari pengetahuan. Sebab ucapan akan selalu menjadi kata-kata. Baiknya berhenti berulangan, agar hilang kesempatan menggema. Lalu, lenyap pula dendam-dendam yang ada sebab gema kata-kata.

Minggu, Desember 16, 2012

Semar Datang Berkunjung

(Inspirasi dari Sembilan Semar karya Seno Gumira Ajidarma. Dibuat dalam rangka mengisi acara Diskusi Kontemporer di Plasa FISIP UI, 6 Desember 2012)

---

Aku ingin mengisahkan cerita

Tentang lelaki berdada, yang berjambul dan tua wajahnya

Siang itu, ia datang ke Ibukota

Menunjuk langit dan menumpah caci marah lewat getar di bibirnya

Lalu orang-orang bertanya, Untuk apa ia di sini?

 

Tidak ada yang tidak tahu siapakah ia

Tangan kanannya ke atas, seraya menyimpan kiri di belakang

Maka di bundaran HI itu, orang-orang berkumpul

Melihat pertunjukan makhluk buruk rupa yang kehadirannya menimbul tanda-tanda

 

Ada apakah gerangan?

Bukankah orang-orang sudah senang dengan ketenangan yang ada sekarang?

Melalui bungkam sepi dari lembar-lembar nominal,

Melalui jalur yang ada di pintu belakang,

Atau,

melalui perpanjangan tangan dari para penjilat; dari para pengerat

 

Tetapi, ia tidak berhenti

Membikin macet di jalanan, mengkarya sendat yang penasaran

Suara-suara mulai terlisan, Bukankah itu Semar?

Yang datang ketika kebenaran terancam?

Buat apa ia di sini?

Apakah ia tidak melihat berita tentang Ibukota yang bersahaja?

Tentang buncit-buncit yang bersandar santai tidur di kursi parlemen?

Tentang kerontang yang dipilah antara mati atau masuk penjara?

 

Seorang Komandan mulai beranjak dari kursinya

Hendak naik helikopter untuk menangkap Semar lewat jala

Sebab, Semar yang datang memberi peringatan, hanya akan mengganggu ketenangan

Mengacak tugas dari lembar yang disembunyikan diam-diam

Mengacau birokrasi yang diatur lewat lima, enam, sampai sembilan angka kosong

Menguruskan lemak-lemak yang bercampur dingin darah hitam

Mencabut kuasa atas-bawah dan tinggi-rendah; menyisipkan tengah-tengah

 

Abdi kebenaran datang mengucap salam pada Komandan

Lebih dulu muncul dan menyapakan wibawa

Tersenyum dan merembes matanya yang basah

Bercerita tentang kehadiran di hiruk yang menambahkan pikuk

Menyampai bahwa ia memberi peringatan

Kalian pikirkanlah sendiri, karena Semar tidak memberi ceramah

Tidak perlu seminar untuk menjelaskan maksudnya

Semar hanya datang untuk memberi tanda-tanda

 

Kemudian Komandan diam selepasnya pergi

Memikirkan tanda yang sekira Batara Ismaya terkutuk berikan

Iyakah ada yang perlu dibetulkan?

Benarkah hadir sebentuk yang perlu dikendalikan?

Karena sesangkanya,

bukankah korupsi sudah mendamaikan kota di lingkaran setan?

Selasa, Desember 04, 2012

Maya, Kaca, Nyata

Dulu, Maya menghibur Kaca guna menghadap Nyata yang menjauh dan membilang panggilannya. Bertahan sampai waktu lama, sangat lama, tidak terhingga. Lalu, kini Nyata menghibur Kaca, agar terdapatkan Maya yang bersembunyi. Melayang entah sampai kapan, sampai di mana. Iyakah digenggam, atau terabaikan.

Senin, November 26, 2012

Mimpi Tiga Malam

Kita bercinta pada malam mimpi pertama. Aku menengadahkan kepala, menghadapmu yang menunaikan tugas. Kita tersenyum pada sesuatu yang tidak lucu. Terkirakan, ada bahagia.

Ada Ibu pada malam mimpi kedua. Beliau membenci kekasih anaknya sampai berubah muka, menjadi bukan milik manusia. Mungkin tukang sihir. Mungkin penjaga neraka. Beliau membenci kekasih anaknya yang sudah bercinta pada malam mimpi pertama.

Sesahabat yang baik muncul pada malam mimpi ketiga. Menyampaikan pesan tentang kabar yang memburuk. Tentang apa yang lenyap dan menghilang. Telah dienyahkan. Membicarakan kekasih yang bersedih-sedih dan tenggelam merindu pualam.

Lalu terhentilah pada malam mimpi keempat. Pada tanggal dua puluh enam. Karena kekasih kembali pada nyata yang tertunda. Yang pasti kembali karena ia satu-satunya.

Jumat, November 23, 2012

Sadar

Manusia banyak bicara tentang masa depan. Tentang pasangan hidup. Tentang anak cucu yang akan ditimang. Tentang hitungan akan kekayaan yang diharap bisa membawanya berlayar sampai habis arung laut.

Manusia banyak bicara tentang masa depan. Di antaranya, ada yang berpikir bahwa hal terjauh dari peradaban adalah waktu lalu. Lampau yang tidak kembali. Lampau yang bisa berulang.

Manusia banyak bicara tentang masa depan. Manusia banyak bicara tentang, Aku tahu, aku tidak akan.

Kamis, November 22, 2012

Säkerhets Tändstickor

Sudah malam. Purnama mengkilap. Angin menyapa lewat sisi jendela yang terbuka. Hujan belum datang, aku belum datang. Batang itu sudah dinyalakan. Mati dengan cepat. Tidak sempat menghabisi tubuhnya. Tanpa tiupan, tanpa hembusan. Kita saling menghangatkan.

Minggu, November 11, 2012

Lepas Salah Waktu

"Mungkin saya adalah jawaban dari pertanyaan Anda. Tetapi kalau datang pada lepas salah waktu, maka tiada arti apa-apa. Memang, yang abadi ialah sang Maha Bajingan."

Rabu, November 07, 2012

Logika Alam

Lucu kalau mengingat kita mendasarkan sosial dengan teori. Sementara alam, kita menolak berlogika. Untuk kepercayaan itu, baiknya diteruskan saja agar tidak ada yang kecewa. Semoga aku mampu melawan logika alam, sampai segala sempurna.

Senin, November 05, 2012

Puncak

"Aku ingin mati di gunung. Di hutan. Yang dekat dengan alam. Jauh dari manusia."

Begitu katamu, sekitar dua tahun lalu. Saat ini, kamu pun sedang memanjat gunung. Orang-orang yang menyayangimu bertanya dengan penuh kesedihan tentang kapan kamu akan kembali. Aku mencoba membuat pengertian, kamu sedang memanjat gunung.

Iya, kamu memanjat gunung. Mendakinya. Mencoba meraih puncaknya. Sendirian. Mungkin dengan Kuku, kucing perak kecil yang tidak membuatmu takut. Aku ingin ikut, tapi kamu bilang belum saatnya.

Kalau kamu sudah sampai di puncak, kemudian kamu akan dihadapkan pada dua pilihan. Tetap berada di sana atau turun pulang. Tidak ada yang bisa memaksamu untuk memilih jawaban. Namun, kalau pulang, aku ingin kamu membawa pesan. Melalui bunga putih yang tidak pernah mati. Padahal, aku sering bilang aku benci bunga. Karena mirip persembahan untuk orang tidak bernyawa. Tetapi, karena ia abadi, maka aku mau menerima, bahkan memintanya.

Semoga kamu cepat mencapai puncak. Kabarilah ketika waktunya tiba. Pulang sebelum sampai pun tak apa. Karena lengan selalu terbuka untuk menenggelamkan kamu dalam pelukan orang-orang tercinta.

Jumat, November 02, 2012

Untuk Perempuan dengan Dusta dalam Pakaiannya

Selamat pagi.

Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Tuhan selalu bersamamu.

Aku tidak bisa menanyakan apa kabar. Karena tanpa perlu saling melempar basa-basi, tentunya kita saling tahu keberadaan masing-masing. Sahabatmu mengerti tentang bagaimana perasaan benci yang tumbuh liar di dalam dirimu. Sementara, sahabatku tahu tentang logika iba yang aku utarakan karena kehidupanmu yang begitu sempurna dengan petik sebelum dan sesudahnya.

Aku selalu ingin bicara dan menyampaikan rasa. Membiarkan kamu mencoba tulisan-tulisan dari suara yang selalu terendahkan. Aku paham sekali tentang posisi atas dan bawah. Kamu dan aku. Kamu banyak membicarakannya. Aku melihatnya sebagai selimut ketakutan.

Padahal, aku menjaganya untukmu. Banyak yang tidak kamu ketahui tentang waktu satu tahun atau kurang dari itu. Kalau memang benci, kalau memang rendah, seharusnya kamu mampu berpikir bahwa aku sama dengan pengisi waktu.

Namun, lain ceritanya kalau kamu menemukan cita dalam kesuka-sukaan. Bukan suka yang datangnya stagnan. Melainkan timbul tenggelam. Karena kamu mabuk lebih cepat pada gelas pertama yang belum habis seluruhnya. Setelah menguap, kamu menunggu isian, bukan memenuhinya sendiri. Ketika menunggu, kamu selalu melihat minuman orang lain yang selalu nampak dapat membuatmu lebih berfantasi.

Bisakah berhenti dan tunjukkan harga diri dalam hidup bahagia yang tidak pernah tidak kamu agungkan itu?

Kalau memang benci, kalau memang rendah, apa yang perlu kamu cemaskan?

Logika ibaku ingin mengasihanimu dengan cara yang berlebihan..

Rabu, Oktober 31, 2012

Lebam

Ada yang datang kepadaku seraya menangis

Kalimat pertama yang ia katakan hanya isak yang bercampur abjad-abjad tanpa tata

Di antara ucap yang ia perdengarkan,

"Aku tidak tahu harus berbuat apa

"Dan aku tidak mengerti akan cara membalas jasa"

Padahal, setiap basuh lebam di jiwamu berhasil menghidupkan aku

Kalau-kalau menghilang, maka apa yang bisa aku teruskan?

Sabtu, Oktober 27, 2012

Terpikir Sudah Dipecundangi

Perlukah balas untuk sesuatu yang kamu agungkan karena takut kekalahan?

Padahal, kita serupa apa yang menyeruak sama

Dan bila yang maya tidak memantulkan nyata berbalik, sebenarnya tiada karangan-karangan fiksi yang kamu dendami

Aku kalah sekali, kamu menang sekali

Kamu menceritakan pada yang dikasihi tentang anak kecil dengan tulisan dari suaranya

Mengira keadaan berubah menjadi siapa di atas dan siapa di bawah

Serupanya tidak, sungguh tidak

Sebab aku belum mengerti, kamu juga belum mengerti

Rabu, Oktober 17, 2012

Kado

Ada kotak cokelat yang kamu isi dengan ranun-ranum benci. Sedikit dendam, kerlip maki, hirupnya amis. Kalau kamu bungkus kertas kuning, mengikatnya dengan pita hijau, dan dililit dalam lembayung, bukankah kotakmu akan tergeletak dengan rapi?

Ada kotak cokelat yang kamu isi dengan ranum-ranum benci. Kamu sulap serupa hibah yang masih bisa kamu tarik kembali. Masih terjaga di antara meja dengan lima kursi. Kecuali usai, kamu tidak bisa kembali.

Rabu, Oktober 10, 2012

Bukan Bulan

Kukira bulan, ternyata bukan. Samar-samar lampu taman berdiri dengan pancang yang sewarna dengan malam. Mengaburkan cerah abu-abu kekuningan. Tetapi, kalau sama-sama indah, maka tiada yang perlu salah. Tiada yang harus marah. Selama masih diluruskan, selama masih terpahamkan akan beda yang nyata dan yang maya, maka menataplah dan berkaca. Karena cahaya masih dingin, dan sinar tidak berbalik merindumu.

Minggu, September 23, 2012

Hujan di Hari Jumat

Akhirnya hujan.

Ketika mereka berlari mencari keteduhan, aku berjalan sambil menengadahkan kepala. Mencium rintik yang menderas. Membiarkannya mengusap kepalaku, membasuh pikiran. Sesampainya pada tempat di mana aku harus berhenti bermain dengan hujan, mereka bertanya padaku tentang kekuyupan.

"Aku yang memanggil hujan ini."

Lalu mereka tertawa. Lalu aku tersenyum saja.

Selasa, September 18, 2012

Mari Berlari

Jangan berkata engkau tidak bisa berlari

Karena ketika ada yang terganti, engkau paham bahwa semua pasti bisa diakhiri.

Senin, September 17, 2012

Pasang

Kalau purnama merupa
Tidak sama dengan nyata bahwa ia akan menyapa

Mungkin saja akan ditinggikan derajatmu
Seperti pasang yang menyurut harap di perbatasan

Menyisir pesisir

Semakin jauh..
Semakin jauh..
Dan semakin jauh..

Sabtu, Agustus 25, 2012

Usap

Mereka bertanya perkara aku yang tidak percaya
Lalu kuungkapkan cerita tentang sebuah sentuhan

"Tahukah kamu perihal usapan?

"Ada manusia yang mengusap rambutku
Kepalaku dibelainya seksama
Memainkan telinga
Mengistirahatkan tangan di leherku yang hangat
Lalu ia akan mengelus pipiku
Mencubit kecil, kemudian pergi
Begitulah

"Aku yang tersipu pasti akan ditinggalkan
Dan kalau ada perasaan yang terkuasai
Aku masih mampu menjadikan pikiran
sebagai tameng untuk tidak sakit hati"

Jumat, Agustus 24, 2012

Jalan

Semoga saja yang berhenti berada pada sinyal merah
Tanpa tanda seru yang memberi isyarat maju atau mundurnya
Karena yang memantulkan cahaya bisa saja melajukan jurang
Sementara jalan yang hijau terlalu ramai kanan kirinya

Menipis

Suatu hari, engkau berkata takut akan kehilangan cinta
Kalau-kalau bahu yang beradu tiada hangat lain membeku
Berubah kaku, lalu membisu

Engkau tergundahkan bak menuntut persamaan rasa
Menagih jawab yang ingin kau perdengarkan
Membandingkan harga
Meminta posisi

Dan bila benar tak mampu tertangguhkan
Mengapa kau usah pertahankan
Mengapa tak dibiarkan untuk habis tanpa sisa
Agar mudah engkau teruskan hitung berikutnya

Kalkulasi mundur yang engkau cemaskan
Akan tetap menghilang seiring waktu Yang Maha Bajingan

Dan bagaimana, kalau cinta itu memang tiada pernah ada?

Kamis, Agustus 16, 2012

Pandang

Ada mata yang tidak bisa beradu satu sama lainnya
Karena jarak yang terlewat akan mendekat dan saling mengecuplah mereka
Melupa janji-janji akan manusia terdahulu
Yang saling berkata bahwa mereka memiliki satu sama lainnya


Kita memang tidak bisa berjumpa, Sayang
Apa yang belum selesai meringankan tangan untuk menyentuh hati dalam dada
Menelusup bahu yang ingin saling menekan dan menghangatkan
Menghirup wewangian yang tidak berubah
Mendengar suara yang dikatakan selalu menjadi penenang penuh damba


Ada mata yang tidak boleh bertemu
Karena sedikitnya sesuatu terhisap dan tidak bisa lagi kembali
Seperti kecintaan dan idealisme tentang nasib
Yang ingin diubah takdir, tanpa tahu arah jalannya

Minggu, Juli 22, 2012

Di Antara

Ternyata, berada di antara lebih membuat manusia merasakan rasa. Pun tidak ada yang dimengerti manakah pangkal dan ujungnya, berhenti sebelum ulam tiba menimbulkan retorika; Apakah manusia benar ada atau tiada..

Minggu, Juli 08, 2012

Aku Tidak Mengerti Manusia

Seharusnya aku mengerti akan manusia. Andai saja, mereka tidak bicara tentang kemungkinan-kemungkinan, maka bisa dipastikan semuanya menapak tanah dengan kaki yang telanjang.

Sabtu, Juli 07, 2012

Disudahi

Ada waktu ketika yang hilang tidak akan ditemukan kembali. Yang pergi tidak berpulang. Yang datang tidak mengucapkan salam. Berjalan sambil lalu. Sampai masanya tiba untuk dikatakan, kalau tiadalah ada makna di antara kata yang selalu mengartikan kata lainnya. Semoga semua selesai tepat pada waktunya.

Paksa

Entah kenapa perasaanku tidak pernah sampai kepada ujung jariku. Karenanya, kuucapkan saja tanpa memikirkan apa-apa, dan membiarkan mereka menari untuk mengucap kata-kata bisu. Seperti yang biasa kita lakukan dahulu.

Seharusnya kita sama-sama mengerti akan apa yang pernah terjadi di antara waktu-waktu yang tersembunyi. Bukan sembarang orang mampu menelusup selayak angin yang berhembus terhadap air yang mengalir. Dan apa yang ada dalam dua, bukan permainan dan sulit diikhlaskan.

Apakah ada yang berkata, Padahal dia hanya? Kalau salah satu berkata ya, maka jelaslah sudah dengan warna bisu yang kini tengah membuta dan hendak amnesia. Rupanya aku dan kamu memang tidak berarti apa-apa.

Lantas kita harus bagaimana? Lalu kamu bertanya akan keinginan-keinginan manusia yang abstrak dan tidak sesuai akan buaianmu yang sempurna. Aku bisa apa? Kalau tidak ada jawabannya, benarlah dibuang saja dan tidak perlu kembali kepada salah satunya.

Karena ada kehidupan, Sayang.

Zat yang kita lupakan karena keegoisan dan harga diri, entah rendah atau tinggi. Dan, memang, ada sesuatu yang hanya kita berdua miliki sampai nanti, sampai mati. Sampai berhentilah kita bilang cinta karena mulai memahami kebodohan manusia yang memedih ditinggalkan dan perih untuk mulai diacuhkan.

Aku rindu sampai memilu tapi engkau tiada pernah ada. Engkau rindu sampai memilu tapi aku tidak mungkin percaya akan peluk yang selalu membatu.

Ternyata, bukan masalah tiada sesuatu apa pun yang dapat menengahi kita, Sayang.

Tetapi memang kita berada tertutup di dalam gua batu dan terhalang oleh pilar Maha Abadi yang kokoh serta hampa udara.

Sehingga sedikit apa pun tak akan mengusik karena memang tiada pernah ada apa-apa. Pengakuan yang kupaksa agar berhentilah terguncang jiwanya oleh fakta yang mengatakan bahwa aku pengganti yang akan terganti..

Memang sebaiknya, salah satu meninggalkan saja.

Jumat, Juni 29, 2012

Senja di Perbatasan

Apakah kamu tahu cerita tentang Senja yang memakan manusia? Di mana berbondong makhluk berakal dan bernyawa tenggelam mengikuti rona serat-serat jingga yang membentang di ufuk menuju barat. Di sana, Senja menghantarkan manusia menuju perpisahan yang tidak terabaikan dan tidak terobati—tidak mungkin kembali. Ada cibir keangkuhan matahari yang tengah menutup matanya kali itu, seolah bicara tentang arti keleluasaan dan kelapangan dada yang tidak akan pernah dimengerti. Aku juga tidak tahu, tidak memahami isme-isme yang memerahkan wajah ketika kita menatap Senja berdua. Ah, kalau-kalau bisa berjalan dan terhisap seperti dalam lubang hitam, asal bersamamu aku tahu aku akan baik saja. Karena tidak perlulah kukerat Senja untuk disimpan dalam kartu pos yang bisa memuntahkan lautan dan menyebabkan ketidak-berdayaan. Di dalam Senja selalu ada jiwa-jiwa abadi yang menelan kesetiaan dengan perpisahan—seperti aku dan kamu misalnya.

Seribu, Tiga

Ada waktu ketika ia sadar bahwa pilihan kedua memang tidak pernah sebaik pilihan pertama. Saat masa yang berada di antara itu tiba, maka mengeluhlah ia. Lalu dibayar dengan lenguh-lenguh penghabisan. Dan semuanya kembali seperti biasa—mengulang untuk terus mengulang.

Jumat, Juni 15, 2012

Manusia Hina

Kita bertatap mata
Lalu menelanjangi jiwa
Mencari kata cinta yang tersembunyi di bilik harga diri
Menemukan angkuh yang menyentuh di ruang-ruang birahi
Penyerahan akan mati-mati dahulu dan hidup-hidup yang dipaksakan



Ada kita!
Ada bicara!
Ada katup tertutup yang mengecup satu lainnya
Sama seperti asam rasa buah kebencian
Yang biasa melenguh dengan ratap manja pria dan wanita

Kamis, Juni 14, 2012

Habis Titik

Aku terapung di tengah lautan wajah yang kau muntahkan; tanpa pernah menyentuh hati analog yang kau buang dan jadikan jalang.

Padahal, senja tidak menarik wajahnya kembali. Semburatnya mengarah ke mana aku membawa tubuhku untuk sampai pada dunia abadi milik abu-abu pagi.

Ah. Bernapaslah dengan hembus "Padahal". Lalu ucapkan kata perpisahan. Rengkuhan pun sudah lelah melebur di tubuhmu..

Dan seharusnya, komplementasi ada karena kau sebut 'kita' pada sisi-sisi suara yang berbicara..

Kamis, Juni 07, 2012

Ti-ada

Aku ada dan kau bilang bahagia
Aku ada tapi kau tak bangga


Aku tiada dan kau bilang tidak bahagia
Aku tiada tapi kau tak kecewa

Selasa, Juni 05, 2012

Dua Permainan

Selalu ada dua permainan--di antara mereka yang berbisik atau melantangkan kata dari ranum bibir yang pernah menguncup kecupan.

Selalu ada dua permainan--di antara yang berputar menuju utara atau yang terbentang di lengkung selatan; mungkin bertemu di arah berlawanan.

Selalu ada dua permainan--di antara kebohongan putih dan pekat kejujuran; pun menyerupai jelaga lalu menjelantahkan fiksi dan fakta.

Selalu ada dua permainan--di antara geming dan hening; salah satunya membisu, lainnya lumpuh, keduanya sampai pada rabun yang menjingga.

Selalu ada dua permainan--di antara kau dan aku, di antara manusia, di antara yang berdiri di balik dunia batas.

Kamis, Mei 24, 2012

Sayang, Apakah Cinta Itu?

Maka ia menjawab:

Cinta adalah rasa, Sayang. Sebuah penyedap di antara kecup yang selalu kau tagihkan di bibirku. Manis kalau kusebutkan, "Aku mencintaimu," dan sebagaimana disesuaikan akan kebalikannya. Namun, seperti yang kusampaikan.. Cinta adalah rasa, Sayang. Penggugah di sela-sela ciuman yang panas dan basah. Tak perlu makna, tak butuh logika.

Selasa, Mei 22, 2012

Ganjil

Aku merentangkan tangan dan menundukkan kepala ketika hendak memelukmu,
Sementara kamu bersedekap dan menengadahkan wajah untuk sekadar memanggil namaku.

Mengapa aku mendengarkan racau bisa ular beracun,
Sementara kamu meminta nyanyian burung dari surga langit ketujuh.

Padahal kubuka pintu penyesalan selebar kedua kaki untuk kamu nikmati,
Sementara kamu mengintip jendela untuk mengancam jiwa bunuh diri.

Karena aku pernah cinta, tapi kamu buta.
Karena kamu sudah cinta, tapi aku mati rasa.

Senin, Mei 21, 2012

Pengganti Pilihan

Mengapa kau ucapkan berulang?

Kata yang mengutara pada pilar-pilar berbeda
Berbunyi sama
Tanpa cela
Muasal sipu memerah malu-malu

Mengapa kau ucapkan berulang?

Kalau dibiarkan tertinggal
Adakah makna di balik bisikan romansa
Adakah makna di balik bujukan kembali
Kulihat, kau jilat ludah dan dimuntahkan dalam darah

Mengapa kau ucapkan berulang?

Agar kita genap berbilang?
Agar ditemukan komplementasi di antara bayang?
Agar segala gundah berubah tenang?
Agar kecurigaan berhenti menerjang?
Agar ada nama sebelum kau sebut sayang?
Agar dahaga yang kau lepas berakhir melayang?
Agar rindu tak tertangkup selesai menyerang?

Mengapa kau ucapkan berulang?

Sementara
Janji-janji baru
Kuperuntukkan
Bagi engkau
Yang bernilai

Minggu, Mei 06, 2012

Kamu Mempertanyakannya

Kalau memang nyata, ke manakah ia berlari? Atau, apakah ia berlari? Karena keterjagaan memintaku mengerti tidak ada yang memberiku arti.

Jiwa, terlelaplah di sini. Cukupkan sendi-sendi yang beradu menuju paraduan bidadari. Biarkan raga terhisap sampai mati dan kau peduli.

Jiwa, berhentilah! Lantangkan kata yang kau sembunyikan sebelumnya. Sajak kesepian yang kau duga dan pesan yang mengelakan makna suka cita.

Keberadaan itu duka. Surat dari Alam Raya. Yang bermain kembali dan kembali. Tidak abadi dan tidak hakiki.

Ah, Jiwa.. Andai kau gunakan mata untuk melangkah dan rasa untuk bicara. Maka tak perlulah kau biarkan peka melenguhkan sentuhnya.

Namun, mari, sudahilah. Yang meninggalkan luka tidak menyisakan sia. Yang meninggalkan luka tidak menyiakan sisa..

Jumat, Mei 04, 2012

Terjaga

Kemudian aku meminta padamu;
Apa yang kudengar ialah apa yang kau sabdakan
Apa yang kulihat serupa apa yang kau tunjukkan

Semoga, sampai kesadaranku tiba
Kamu masih berada di sana



Dan tiada apa pun yang meresah
Sampai kukira aku belum terlambat mengerti artinya

Jumat, April 27, 2012

Kricika, Kricika

Untuk Kricika tercinta,

Kalau kubilang aku merasakan kamu ada, apakah berarti kamu sudah lenyap sebenarnya?

Karena katanya, kita tidak tahu apa yang dimiliki sampai sesuatu itu hilang. Dan bila benar kamu nyata, maka sesuai skenario yang ada, kita menguasai masing-masing.

Ah, lama tidak jatuh cinta membuatku lupa seperti apa itu ketakutan dan rasa cemburu. Kemudian kamu mengingatkannya kembali, tanpa berbuat apa-apa. Selama kamu tidak ke mana-mana, aku berhenti bertanya mengapa.

Pun percaya masih sesuatu yang kuanggap tiran, setidaknya aku berjalan menuju arahnya. Dan semisal aku bertemu dengan akhir perjalanan, terima kasih untuk membuka pintu ketika aku mengetuknya.

Kamu sudah meraihku. Merengkuh dan menyimpan dalam saku.

Aku tidak bisa menulis kata-kata indah. Lalu kita memiliki warna yang berbeda serta rona yang tidak sama. Tetapi, kamu pasti mengerti, bukan begitu?

Ucapmu waktu itu seolah menjadi janji untukku--"Dan semuanya adalah milikku."

...dari Kricika tercipta

Selasa, April 24, 2012

Seperti Ciuman Pertama

Aku lupa rasanya berciuman sampai setengah tahun silam
Rupanya, cecap bibir memang penutup yang tidak tergantikan
Bukti pernyataan akan manakah tujuan akhir atau peristirahatan
Kecup aku sekali lagi, jangan berhenti, jangan ada yang dilewati..

Senin, April 23, 2012

211

Dua ratus sebelas hari.

Waktu yang kamu berikan untuk memberdayakan aku sampai buruk dan terjungkal.

Lucu.

--

Kalau kubicarakan, maka dalam pikiranmu adalah tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Padahal dengan menyimpan dendam dan membiarkan kamu hangus akan balasannya, sudah lebih dari tercukupkan.

Namun terjaga pun aku tak sampai..

Semogalah kembali pada paraduan masing-masing.

Minggu, April 22, 2012

Satu Ratus

"Sudah tepat."

Pikirku begitu. Manakah yang baik, benar pun belum tentu. Lalu waktu akan mengusaikan semuanya, sampai kusebutkan nantinya berulang;

"Padahal, padahal.."

Atau;

"Andaikan misal.."

Sabtu, April 21, 2012

Teiresias

Dan dengarkanlah apa kata Teiresias ketika ia berbicara;

Paduka bernoda tapi tak mengerti

Paduka berdosa tapi tak menginsafi

Selasa, April 03, 2012

Tanah Basah

Hujan kali ini tidak membawa serta angin
Lain dengan pertengahan pada bulan April
Waktu tanah basah dipijak mengantar pulang
Dan embun di jendela menjemput sebuah ciuman

Senin, April 02, 2012

Sartan

Adakah sakit?
Ah, kasihan
Sedikit iba dalam hidup yang sempurna
Dan aku yang mengganggunya
Maafkanlah
Kuberi angin yang bermakna
Agar kembali tanpa cela
Sosok lemah berbahagia

Rabu, Maret 28, 2012

Para Paradigma

Apa yang lebih sulit dari melepas para paradigma. Andai pucuk berbicara, maka ulam mengganti artinya. Bertemulah pada makna berbeda.

Lalu kamu mencari kemungkinan dan menarik kesimpulan. Memberi pengertian pada apa yang kamu pahami sendiri tanpa bertanya, tanpa percaya.

Selasa, Maret 27, 2012

Aku Rindu Waktu

Aku rindu Waktu.

Aku rindu Waktu seperti debu yang menghambur dari bilik-bilik rasa pilu. Yang beradu seperti masa-masa indah terdahulu, yang mencari makna di balik selimut sendu ketika kamu merayu.

Aku rindu Waktu.

Aku rindu Waktu yang mulai dilupa selayak biru yang kamu sapu perlahan namun tertuju. Yang diluka bagai tirai membesat dua atau satu, yang dirangkap nila namun akhirnya membekas ungu.

Aku rindu Waktu.

Bukan kamu.

Sama-sama

Tentang segala kecupan
Yang pernah diberi
Apakah mereka sekali memiliki arti?

Karena kalau ia datang mengingatku
Sekejap hangat dan basah bibirku mencecap

Dan ya, kita tiada akan berjumpa
Untuk kemudiannya

Sayang, tertawalah
Lalu berjanji kamu akan bahagia
Seraya kita berhadap-hadapan;
"Terima kasih untuk waktunya
Pergilah sekarang
Kamu sudah tidak diperlukan"

Tetaplah Hujan Melayang

Kalau hujan
Bisa meluruhkan perih perlahan
Maka aku menari bersamanya
Sampai lepas
Satu-satu wajah dari muka
Dua-dua jiwa tertinggal
Atau tiga-tiga insan tanpa ikhsan

Seharusnya, hujan mengerti
Dan memang akan memahami
Andai kata yang kekal berhenti sejenak
Memberi waktu kepada hujan
Agar tidak jatuh, masuk dalam tanah

Jumat, Maret 23, 2012

Kekasih

Aku masih haus tanya
Namun, kalau kucecap apa
Maka dijawab dengan kecup yang kudamba
Lalu tidakkah iya atau terbalik kau berkata
Dan nihil akan apa yang kukira

Minggu, Maret 18, 2012

Waktu Marah

Tenanglah
Karena perlahan ada yang mengikatnya untukmu
Di belakang layar tanpa sedikit pun kamu sadar
Ia mengerang pengampunan
Seraya pintu ditutup perlahan
Dan hanya bayangan yang nampak kau lihat
Sendi-sendi beradu
Berbalik arah lantas kaku
Kemudian ia tidak bisa menjerit
Dikecup damba yang menghirup
Dikoyak riuh sampai ungu-merah-biru
Tidak perlu pekat
Usahlah jelaga dibiarkan saja
Asal tersingkap jari-jemari yang pernah berkata
Terharap pergi sebelum mati, atau mati sebelum pergi?
Kembali pada sendi-sendi beradu
Semoga kamu hidup hingga cerca sadar dalam fakta

Kamis, Maret 15, 2012

Masih Cerita

Ada yang lewat
Ada yang tertinggal
Apakah kamu yang bertanya
Atau aku yang menduga

Lalu, apa yang mau kamu katakan?
"Seandainya engkau datang lebih dulu"?
Atau aku yang mengutara
"Seandainya aku datang lebih dulu"?

Entahlah
Sudahlah
Cukuplah
Usailah

Adalah Permainan Semesta

Pernah sampai waktu kita berjalan sendirian. Muak dengan hidup. Tumpah dalam segelas-dua gelas pekat yang menjaga di panjang-panjang waktu. Atau oleh lima sentimeter terhirup untuk menghubungkan satu nafas kepada yang berikutnya. Lalu meruah pada ejaan-ejaan yang dimengerti oleh diri sendiri. Membangun benteng di tengah nada minor.

Tetapi, Semesta senang memainkan siapa-siapa yang menjejak kakinya pada tanah, bukan mereka yang lupa daratan. Memujikah kita akan pertemuan? Tidak. Dan yang Maha Bajingan semakin berkuasa menggerakan tali pada tangan dan kaki, hingga berantakan dan terikatlah dengan sebuah kesalahan.

Ada yang dilempar. Tidak dipertanggung-jawabkan. Dan di sanalah entah kesenangan atau kesedihan bermuara, benang kusut tidak terurai dan bergantung satu sama lain. Mungkin untuk selamanya.

Sayang, aku lebih percaya bahwa yang Maha Memainkan akan memberi hujan--yang sudah sering turun--atau angin, atau panas, atau apa pun yang kunjung menghancurkan. Sampai terpisah dan kita akan mencari manakah yang pantas, manakah yang benar, manakah yang sesungguhnya. Benda tajam dari peran keempat atau kelima, mungkin belum ada artinya.

Selama masih bisa dipercaya, selama masih mampu terabaikan, mengertilah bahwa ada sesuatu yang diciptakan tidak untuk berdua. Karena aku juga berusaha, dan tinggal kamu semestinya mencari sumber-sumber kekekalan.

Selasa, Maret 13, 2012

Dunia Semu

Aku terjebak dalam kabut cantik pada abu-abu pagi
Dibawa ke dunia antah-berantah di mana semua hitam putih
Tiada beda dengan kini
Namun, pikir,
Abu-abu pagi?
Apa yang lebih indah dari abu-abu pagi?
Jingga sore hari?
Tidak bisa dan tidak mungkin terjadi
Waktu tidak berjalan di sini
Tiada kujumpa matahari
Dijerat sudah dalam jebak kecil riak-riak air
Dalam kabut pagi
Lalu, ada biru yang mengungu abu-abu

Kamis, Maret 08, 2012

Siapa yang Egois?

Sebenarnya, siapa yang egois?

Ketika kamu dapati surat yang tertera akan nama pujaan jiwa, dan dikatakan olehnya bahwasan ia tidak benar-benar mencintaimu tapi mencari orang yang sungguh-sungguh mencintainya?

Lalu kamu rengkuh dalam-dalam, koyak dengan kejam, dan buang sejauh kamu tak mampu memandang. Ada marah memerah, terurai melalui setitik-dua titik yang tidak terhapuskan.

Sebenarnya, siapa yang egois?

Tolong katakan siapa, agar jelas mana kanan dan kirinya. Atau sekadar lurus berkelok dan jatuh kemudiannya. Siapa yang egois? Siapa?

Senin, Maret 05, 2012

Angka Membilang

Apakah beda dari kali Pertama dan Kedua?

Selain waktu yang memisahkan di antara mereka, dan jenjang berikutnya yang turut mengikuti untuk perlahan jadi nyata. Maka, apakah beda dari kali Pertama dan Kedua?

Kecuali kenangan yang tersimpan, lalu menagih janji di atas lembar-lembar keputusan lama. Entah masih disesali atau berkunjung diakhiri. Maka, apakah beda dari kali Pertama dan Kedua?

Ternyata, segala yang menyiksa tidak pernah berarti apa-apa setelah terbiasa. Pun perih dirasa, namun adalah merindu kala berhenti engkau dicoba.

Angka-angka membilang dan kutemukan nihil akan ada kelainannya.

Rupanya, aku masih baik saja.

Selasa, Februari 28, 2012

Terbiasa

Satu kali
Lalu dua
Kalau lebih lagi
Maka, tiada beda

Tidak perlu pulalah

Diulang kembali
Mulai bilangan pertama
Sampai habis angka

Lalu akan kuberi
Untuk yang dipeluk nihil

Boleh Kalau Dilupa

Aku ingin bercerita tentang Bunga.

Ia tidak mekar untuk manusia, tetapi mati karenanya.

Aku ingin berkisah tengan Langit dan Awan.

Di mana ada jarak di antara keduanya.

Senin, Februari 13, 2012

Rumah Gila

Aku tinggal di Rumah Gila
Di mana semuanya waras dan normal saja
Di mana wajar oleh duka dan sedikit luka
Di mana serak pecah merobek kulit-kulit muda

Aku tinggal di Rumah Gila
Di mana manusia bicara sambil menjeritkan makna
Di mana binatang sudah naik kodratnya
Di mana sepi-sepi suara menghardik dan mencerca

Aku tinggal di Rumah Gila
Di mana kau kirakan di sanalah letak sempurna
Di mana kau jadikan tawa sebagai air mata
Di mana kau tanamkan dendam-dendam jiwa

Rumah Gila bukan surga
Rumah Gila bukan neraka
Rumah Gila hanya tempat tinggal biasa

Aku tidak gila!
Hanya tinggal di Rumah Gila

Kamis, Februari 02, 2012

Satu-satu, Dua-dua, hampir Tiga

Pada langkah satu-satu
Ada yang menyapa dan bertanya siapakah namanya
Apa yang terjadi dengan wajah tertutup muka

Bolehkah kuberi pertolongan?
Sedikit suara yang selalu bicara,
Baik-baiklah
Biar menemani

Sampai langkah dua-dua
Ada sentuh yang dicinta
Mungkin penawar sakit
Mungkin penyembuh luka
Mungkin kau lupa sedih dan perih
Oleh pengganti yang buruk rupa

Dan kesadaranmu sampai
Pada harga diri yang terancam
Maka tak pulalah capai terhitung tiga-tiga
Hampir berhenti di ganjil yang kedua

Pergi karena tidak didapatkan
Mati karena tidak diizinkan

Lalu berlalu
Lalu berlalu
Lalu berlalu

Senin, Januari 30, 2012

Satu-satu, Dua-dua

Aku ingin menyiksamu dengan kenangan

Agar kamu tahu setitik-dua titik akan waktu yang pernah berharga keadaannya
Sampai rusak oleh nila yang tidak terobati, meski salah satu mati karena pilu namun rindu

Aku ingin menyiksamu dengan kenangan

Ketika ada yang datang, ia memberiku kabar bahwa kamulah yang menyisakan bekas
Maka tiada artinya pun ingin kucerai hingga berai hingga terurai hingga derai-derai terkulai

Aku ingin menyiksamu dengan kenangan

Andai kata pernah sesuatu kamu tinggal demi kesalahan yang tidak kunjung selesai

Selasa, Januari 17, 2012

Ah, Sudahlah

Aku kalah

Karena lemah

Aku lemah

Karena salah

Aku salah

Karena marah

Aku marah

Karena payah

Aku payah

Karena susah

Aku susah

Karena..

Kukatakan, “Ah, sudahlah!”

Senin, Januari 16, 2012

Aku Juga Bisa Bahagia

Jangan benci aku
Seperti sembilu yang menyayat ragu-ragu
Menyiakan sisa yang kau sapu dengan tirai abu-abu
Dan tertutup oleh dosa-dosa debu

Benci aku dengan ketenangan jiwa
Caci sampai sekecil-kecilnya
Sempurnakan cerca
Sumpahi aku dengan seksama

Sayang
Walau boleh kuabaikan
Semoga tidak meninggalkan

Sayang
Sayang
Aku juga bisa bahagia..

Sabtu, Januari 07, 2012

Suara

Pernah, dahulu.

Ada satu suara yang bila kudengar bunyinya, tidak terasa menyenangkan, tetapi aku tahu bahwa aku menyukainya.

Sampai terpikir untuk mendengar selamanya, baik melalui erang atau sekadar membisik saja. Aku selalu ingin mendengarnya. Jauh dan dekat, keras dan lembut.

Semoga ini menjadi surat yang terakhir.

Untukmu, dariku.Yang tidak terkira, sekali waktu menjadi berharga.

Mari Bersedih-sedihan

Pernahkah ada pertanyaan berputar
Ketika kita berciuman?

Misalnya tentang perasaan
Di saban waktu yang Maha Bajingan
Lalu menyisakan sia-sia sesal

Yang tidak selesai, yang tidak usai

Pernahkah ada pertanyaan berkabar
Ketika kita berpelukan?

Boleh juga tentang pengakuan
Sebelum yang abadi mengambil iman
Menyulap jadi ragu

Yang tidak selesai, yang tidak usai..

Persetan!
Kenapa aku yang jadi menunggu?

Aku bicara tanpa kata
Karena kamu tidak akan mengertinya

Bisa saja lewat delik
Atau bahagiaku yang bagimu serupa pelik

Seumpama, kita berhadap-hadapan
Lalu aku memalingkan muka
Punggungi saja
Biarkan masing-masing melewati jalannya
Selayaknya, yang pernah kupinta, terakhir kalinya..

Karena aku tidak mau menunggu
Dan semoga, kamu paham akan maksudnya

© Tulisanku!
Maira Gall