Kamis, Oktober 06, 2011

Saya Rasa, Saya Sakit Jiwa

Saya rasa, saya sakit jiwa.
Ada sebuah suara yang bilang, "Hentikan saja! Hentikan saja!" tapi tetap dilakukan juga.
Ada sebuah suara yang bilang, "Ayo buka! Ayo buka!" lalu saya terluka karenanya.
Saya rasa, saya sakit jiwa.
Terus-menerus berkata bahwa tidak ada yang akan menjadi sebaik sebelumnya.
Bertahan dalam linier yang sepi dan rata.
Sendiri saja susah, mengapa sekarang harus berdua?
Saya rasa, saya sakit jiwa.
Seperti orang jatuh cinta.
Mengingat pagi petang, siang malam pun tak lupa.
Bangun tidur, ada dia.
Hendak tidur, muncul juga.
Seperti merindu kekasih hati rasanya.
Saya rasa, saya sakit jiwa.
Atau cuma sekadar obsesi belaka.
Tapi kalau berulang, apa namanya?
Kalau bisa, saya ingin mengirim boneka.
Ke rumahnya, tanpa nama.
Sebagai tanda cinta.
Boleh juga belasungkawa.
Atau suka cita.
Pun hanya tanda mata.
Saya rasa, saya sakit jiwa.
Karena saya ingin mati di tangannya.
Ditembak dengan peluru bertuliskan dia punya nama.
Untuk saya yang merasa, saya sakit jiwa.
Dari anak perempuan pertama.
Masih perlu kusebut siapa?
Saya rasa, saya sakit jiwa.
Kalau tidak sakit apa-apa, maka tolong sembuhkan saya.
Karena saya merana..
Dan tidak mau sakit jiwa.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall