Sabtu, Juli 23, 2011

Brrrmm...

Belakangan, masyarakat Ibu Kota protes kepada pemerintah karena semakin berkurangnya armada angkutan umum. Yang biasanya sampai dalam waktu 1 jam dari Manggarai sampai Blok M di waktu berangkat kerja, saat ini harus bangun setengah jam lebih pagi agar tidak terlambat sampai tujuan.

Pemerintah juga kewalahan menangani masalah ini. Pasalnya, armada angkutan umum berkurang dengan sendirinya dari tahun ke tahun. Mulai dari koasi, angkot, mikrolet, metromini, kopaja, bus trans, sampai bemo, bajaj, becak, dan tukang ojek, semuanya perlahan punah. Kendaraan-kendaraan itu perlahan teronggok satu-per-satu di Bantar Gebang, sampai hutan Kalimantan. Mau dilenyapkan, sayang. Mau disimpan, sembarangan. Mau dimusnahkan, masih bisa dipakai. Mau dipertahankan, tapi sampai kapan? Hingga kemudian, kendaraan yang menyimpan banyak sejarah itu berubah menjadi rumah masyarakat pinggiran, mainan anak kecil, sampai kandang binatang.

Di terminal, orang-orang berbincang:

"Gila. Ini gila. Hampir 1 jam menunggu dan belum ada bis lewat. Ini sudah keterlaluan!"

"Iya, mas. Saya saja hampir 2 jam. Mau jalan kaki, takut celaka. Motor nggak punya, mobil apa lagi. Mau naik sepeda, takut celaka juga karena armada taksi makin banyak."

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan bis-bis itu, ya? Demo mogok? Hal ini benar-benar menyusahkan masyarakat. Tidak boleh dibiarkan berlanjut lebih lama."

Di Istana Negara, orang-orang berbincang:

"Mampus kita, mampus. Masyarakat menuntut kendaraan umum. Padahal alternatif taksi sudah diperbanyak, tapi sia-sia. Bahan bakar malah merugi. Polusi tidak berkurang. Malah polisi yang makin kaya karena banyak orang kena tilang. Kita tidak tahu sampai kapan bisa meredam kesabaran masyarakat."

"Loh, tapi bapak pernah bilang, mau mengurangi jumlah kendaraan umum karena mengganggu ketertiban?"

"Iya, itu maksudnya saya yang mengurangi. Bukan mereka yang berhenti sendiri. Tidak bisa begini caranya. Kok berhenti seenaknya, tidak ada yang mau melanjutkan usaha bapak mereka jadi supir atau kenek bis. Tidak boleh begini caranya."

"Tapi, bukankah karena itu jumlah pengemis dan pengamen berkurang? Tingkat kesehatan masyarakat juga meningkat karena banyak yang memilih naik sepeda dan jalan kaki. Yah, meski seiring dengan itu, tingkat kecelakaan juga meningkat.. Menurut kabar terakhir, pendapatan perkapita kita juga meningkat meski belum menunjukkan angka yang berarti loh, pak."

"Tetap saja fenomena ini harus terungkap penyebabnya. Tingkat simpati masyarakat menurun karena pengemis berkurang. Kesenian kita tidak terbudidaya dan pasaran lagu Melayu menurun. Bagaimana pun, kita butuh orang-orang seperti itu. Kita harus melakukan sesuatu. Sudah kodrat dan anak-anak mereka untuk menjadi buruh. Merekalah orang yang berperan seperti itu demi menyelamatkan Ibu Kota, bahkan keseluruhan negara."

Di warung kopi, orang-orang berbincang:

"Payah ini orang muda. Tidak ada lagi yang mau meneruskan perjuangan kita sebagai supir. Mereka kalah oleh macetnya Blok M - Pasar Minggu. Suara mereka tidak keluar lagi untuk mencari penumpang dan gemerincing receh mulai hilang dari peredaran. Semua karena mereka sibuk bicara tentang cita-cita!"

"Ya, betul. Dulu, kita melompat dari satu bis ke bis lain untuk mengamen, berharap bisa jadi terkenal. Hasilnya, paling banter kita bisa menang lomba keroncong di kecamatan. Coba lihat sekarang, anak cucu kita tertipu gemerlap layar kaca dan bernyanyi, I love you.. I love you.."

"Apa yang mau dikata. Jaman sekarang tidak ada lagi yang mau jadi buruh. Supir, pengemis, pengamen, seperti kita bukan cita-cita idaman. Sebentar lagi tukang bakso, ketoprak, somay, juga akan punah. Cita-cita anak sekarang lebih tinggi. Tidak bisa didikte lagi. Nggak dipikirkan sama mereka kalau bajaj itu masih harus jadi warisan. Guru-guru juga menyuruh anak kita menulis karangan tentang cita-cita. Nanti mereka akan menceritakan ingin jadi supir kapal terbang, bukan kopaja punya bapaknya. Apa boleh buat."

Di terminal, orang-orang yang masih menunggu bis mencoba membunuh waktu dengan menimbang-nimbang pekerjaan mereka. Antara mencari pekerjaan yang lebih terjamin, atau bekerja keras sampai mampus agar bisa meraih cita-cita: menjadi orang kaya.

Di Istana Negara, orang-orang menyusun wacana guna menghancurkan fenomena angkutan umum. Rencana-rencana dibangun sedemikian rupa mulai dari lomba supir terbaik sampai janji memperbaiki kualitas kendaraan umum. Rencana tersebut dibahas dengan modal ratusan juta dan semakin diperbesar, agar bisa meraih cita-cita: menjadi orang kaya.

Di warung kopi, orang-orang menyeruput kopi panas seraya mengunyah pisang goreng dengan gigi yang sudah tidak lengkap. Mendiskusikan nasib anak bangsa yang sibuk bicara tentang cita-cita mereka, tanpa sedikit pun menyinggung pekerjaan buruh seperti orang tua mereka.

4 komentar

  1. Inspiratif tapi tak membosankan!! kapan nih ngobrol2 udah di add tapi gak pernah ol hahaha

    BalasHapus
  2. Terima kasih! :D Eh, invitationnya nggak gue terima! Gue yang add aja deh, MSN lo apa? :p

    BalasHapus
  3. terlalu hijau sampai tidak bisa dibilang sebagai hijau.

    BalasHapus
  4. Kayaknya gue pernah membaca pernyataan itu, deh.

    Maknanya apa? Terlalu amatir sampai tidak bisa dibilang amatir? Atau?

    BalasHapus

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall