Bahkan setelah apa yang pernah terjadi di antara kami, entah dengan atau tanpa pakaian, beliau masih mampu mengalahkan panas matahari dengan senyum dingin dan mata kesepian. Seolah waktu, tempat, bahkan warna, menjadi kaku mengikuti gerak langkahnya. Berubah menjadi hitam putih. Dengan sudut sembilan puluh derajat, atau kurang lagi dari pada itu, tajam menusuk, namun menagih dan mencandu. Sakitnya, perihnya, hingga bekas-bekas lukanya.
Sungguh dingin! Barangkali, dunia membeku seiring bertumbuhnya beliau menjadi dewasa, atau dirinya terperangkap dalam sosok kekanak-kanakan yang mampu dilecehkan, tetapi kembali dingin dan tidak merasa apa-apa? Sungguh, beliau benar-benar dingin, sebenar-benarnya kaku dan selayak-layaknya hitam putih, yang menyebabkan beku dan perasaan tertusuk, tanpa sesuatu apa pun yang beliau lakukan, tanpa sesuatu apa pun yang sesungguhnya pernah beliau rasakan, dan terpanahkan dengan gumpal tiada bertulang.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!