Selasa, September 20, 2011

Tanah, Hujan, dan Matahari Tersisa

Bukan Tanah yang menyerap Hujan.

Tapi Hujan yang memaksa masuk ke dalamnya.

Dengan hati-hati mendalami tiap luka, melepas dahaga, memberi hidup pada yang bertumbuh.

Lalu pergi dari hulu ke hilir, bermuara di sungai menuju sampai lautan.

Kemudian kembali ke langit, dan kamu menunggunya dengan setia.

Seperti biasa, karena ialah sang kekasih abadi.

Kamu, Tanah yang tidak berarti.

Kamu, Tanah yang pernah sekali dinanti.

Setiba waktu kamu bilang benci Hujan, tak lain karena Hujan selalu bisa mengambilmu kapan saja.

Aku Matahari.

Kamu tidak akan membenci karena aku Matahari.

Bukan Hujan.

Sedikit namaku tidak tersentuh pada salah satu bagian dadamu.

Maka, pergilah.., pergilah.

Hujan akan bertanya apa kabarmu dan membawamu kembali ke paraduan.

Jangan buang waktu.

Camkan;

Hujan yang memasuki dirimu.

Bukan kamu yang meresapi Hujan.

Aku Matahari yang menjadi saksi.

Aku Matahari yang hendak mengadili.

Aku Matahari..

Yang meminjam Hujan dari Tanah.

Yang mengembalikan Hujan untuk Tanah.

2 komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall