Sabtu, Agustus 25, 2012

Usap

Mereka bertanya perkara aku yang tidak percaya
Lalu kuungkapkan cerita tentang sebuah sentuhan

"Tahukah kamu perihal usapan?

"Ada manusia yang mengusap rambutku
Kepalaku dibelainya seksama
Memainkan telinga
Mengistirahatkan tangan di leherku yang hangat
Lalu ia akan mengelus pipiku
Mencubit kecil, kemudian pergi
Begitulah

"Aku yang tersipu pasti akan ditinggalkan
Dan kalau ada perasaan yang terkuasai
Aku masih mampu menjadikan pikiran
sebagai tameng untuk tidak sakit hati"

Jumat, Agustus 24, 2012

Jalan

Semoga saja yang berhenti berada pada sinyal merah
Tanpa tanda seru yang memberi isyarat maju atau mundurnya
Karena yang memantulkan cahaya bisa saja melajukan jurang
Sementara jalan yang hijau terlalu ramai kanan kirinya

Menipis

Suatu hari, engkau berkata takut akan kehilangan cinta
Kalau-kalau bahu yang beradu tiada hangat lain membeku
Berubah kaku, lalu membisu

Engkau tergundahkan bak menuntut persamaan rasa
Menagih jawab yang ingin kau perdengarkan
Membandingkan harga
Meminta posisi

Dan bila benar tak mampu tertangguhkan
Mengapa kau usah pertahankan
Mengapa tak dibiarkan untuk habis tanpa sisa
Agar mudah engkau teruskan hitung berikutnya

Kalkulasi mundur yang engkau cemaskan
Akan tetap menghilang seiring waktu Yang Maha Bajingan

Dan bagaimana, kalau cinta itu memang tiada pernah ada?

Kamis, Agustus 16, 2012

Pandang

Ada mata yang tidak bisa beradu satu sama lainnya
Karena jarak yang terlewat akan mendekat dan saling mengecuplah mereka
Melupa janji-janji akan manusia terdahulu
Yang saling berkata bahwa mereka memiliki satu sama lainnya


Kita memang tidak bisa berjumpa, Sayang
Apa yang belum selesai meringankan tangan untuk menyentuh hati dalam dada
Menelusup bahu yang ingin saling menekan dan menghangatkan
Menghirup wewangian yang tidak berubah
Mendengar suara yang dikatakan selalu menjadi penenang penuh damba


Ada mata yang tidak boleh bertemu
Karena sedikitnya sesuatu terhisap dan tidak bisa lagi kembali
Seperti kecintaan dan idealisme tentang nasib
Yang ingin diubah takdir, tanpa tahu arah jalannya

© Tulisanku!
Maira Gall