Kalau ditanya punya cita-cita apa, mungkin gue akan menjawab panjang lebar dan butuh waktu untuk mendengar dan menelaah apa yang gue katakan. Jelas, karena gue selalu bicara--terlalu--cepat ketika semangat.
Pernah sekali gue menulis tweet, bertanya, "Besar nanti gue jadi apa, ya..?" dan beberapa ada yang menjawab bahwa gue akan menjadi seorang pengacara, karena gue memang berminat dan berharap di sana. Atau juga, bergabung di LSM dan komunitas sosial lainnya, melihat gue yang senang sekali untuk hal-hal semacam itu. Ada juga yang bilang kalau gue akan menjadi penulis, psikolog, bahkan sampai peramal.
Yang pasti, satu hal yang menjadi cita-cita gue adalah, gue ingin jadi istri. Ketawa? Gih, sana.
Sampai usia gue 14, gue trauma dengan pernikahan, dengan keluarga, dengan sosok suami merangkap ayah, dan segalanya yang berhubungan dengan itu. Bagaimana kalau gue mengalami hal yang sama seperti bunda? Bagaimana kalau anak gue bernasib seperti gue nantinya? Apa gue harus mengulang kehidupan menyeramkan itu, yang perlahan kini mulai terhapus sedikit demi sedikit, bukan karena dilindungi topeng, tetapi memang dari diri gue sendiri yang asli.
Ketika usia gue bertambah, bahkan tahun ini gue akan menginjak usia 17 tahun, pandangan gue semakin luas dan mimpi gue pun mencoba mendekati realita. Gue senang pergi ke pernikahan, melihat pasangan yang--semoga saja--berbahagia. Gue masih tetap menangis, entah karena sedih atau terharu, ketika melihat keluarga kecil yang saling sayang. Padahal yang mereka lakukan tidak banyak, cuma seorang ayah yang memakaikan sepatu ke anaknya, atau ketika pasangan suami istri sedang berusaha menyapih anak mereka. Iri? Mungkin. Jelasnya, gue ingin seperti itu, tidak sabar, dan berharap keinginan gue tidak dianggap muluk.
Gue ingin menikah. Gue ingin menikah karena gue memang siap dan bukan kesepian, karena gue mencintai pasangan gue, bukan karena kasihan atau terpaksa. Gue ingin tinggal di rumah putih bergaya kolonial, dengan banyak foto keluarga dan perabot minimalis. Tidak banyak sekat, dan cukup satu tingkat. Dengan ruang makan menghadap ke halaman, tempat anak gue tumbuh nanti. Di pintu kulkas tertempel foto-foto non-formal dan hasil karya anak gue, dan di dalam kulkas itu sendiri, ada stok makanan dan cemilan yang dinikmati bersama-sama.
Setiap minggunya kami punya quality time, agar hubungan kami tidak menjauh dan merenggang. Gue akan berusaha mengenal teman-teman anak gue, sehingga gue tahu harus menghubungi siapa ketika anak gue tidak terdengar kabarnya. Gue ingin bereksperimen di dapur bersama suami gue nanti, membuat kejutan untuk anak-anak. Atau yang paling mudah saja, gue ingin menonton acara televisi bersama mereka.
Gue kehilangan masa kecil gue, dan gue yakin kalau gue akan mendapatkannya lagi melalui anak gue. Dan gue harus bersabar untuk itu, karena kalau terburu-buru, yang ada gue hanya akan mengulang kesalahan yang sama, bukan?
Mungkin muluk, mungkin berlebihan, dan mungkin juga keterlaluan, tetapi itulah mimpi dan cita-cita gue yang sebenar-benarnya, yang sesungguhnya. Kalau gue bisa punya suami yang seperti amanah nenek gue; bertakwa, bertahta, dan berharta, gue tidak keberatan kok, untuk tinggal di rumah dan cuma mengurus anak. Tanpa bantuan pembantu pun tak apa, gue akan berusaha membuat semuanya menjadi sempurna. Gue ingin anak gue merasa betah di rumahnya sendiri.
Aih, menulis ini saja bikin gue mau menangis sendiri.
Teman-teman dan seorang guru gue ketika SMP pernah bilang begini, "Olga itu kayaknya, kalau nggak yang paling cepat menikah, pasti yang paling lama!" dan mungkin memang begitu adanya, ahaha. Untuk waktu dekat sih, semoga saja penyakit 'kering cinta' gue bisa sembuh, sehingga gue cepat belajar menerima orang lain.
Bukankah gue sudah terhitung besar? Gue tidak menyebut dewasa, karena gue tidak berhak menilai soal itu. Dan karena gue semakin bertumbuh, gue rasa paradigma pribadi gue yang menganggap bahwa gue masih anak-anak dan belum pantas bicara cinta, harus mulai dihilangkan. Tidak ada salahnya menangis karena orang lain, atau karena perasaan tidak berbalas, gue pikir.
Seandainya gue bisa 'cepat sembuh', gue akan mendapatkan cita-cita gue, kok. Menikah. Jadi pengantin. Jadi istri yang berbahagia, dan pasangan yang nyaman. Dengan rumah menyenangkan dan anak-anak yang manis. Cukup itu, cita-cita terbesar gue.
Aminin, ya.
P.S. : Masalah menikah dengan pilot? Oh, itu masih gue harapkan dan yakini sampai sekarang!