Untuk harga diri, kepuasan dini, dan hidup hakiki, melawan sepat sepi di balik harum kopi yang memantulkan wajahmu..
...Dan lagi-lagi aku bercinta dengan malam, membunuh yang abadi dan memang benar pula kata-katamu, sederas apa pun peluh yang kukejar dan erang yang kudamba, dalam setiap malam-malam pengharapan tanpa cinta sesungguhnya, ternyata bukanlah kamu yang menyapu buncah dari sekam gelap selepas mentari lelah.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!