Benda yang penting. Dari orang yang berharga. Tak sengaja terlepas dari pengawasanku, sehingga ia terjatuh. Aku melihat di mana ia tertinggal, tapi kubiarkan. Terpikir untuk menyelamatkannya dari kesendirian yang mungkin akan melandanya, setelah selama ini ia selalu ada bersamaku. Kukenalkan ke mana-mana, dan kubanggakan dengan penuh cinta. Sayangnya, yang tidak pernah kusangka, harganya tidak lebih dari apa-apa. Aku tidak menyayanginya.
Sesuatu itu, sampai kini masih mendatangiku melalui mimpi. Bertanya apa kabarku, dan apakah tidak pernah sekali pun aku merasa rindu dengannya. Dengan segala kenangan yang ada. Mulai dari yang pertama sampai terakhir jumpa. Ia terjatuh di aspal, dan aku menatap dingin tanpa tanda tanya.
Pernah sebelumnya kupikir, apa yang sebenarnya terjadi dengan sampah-sampah di jalanan. Baik yang benar sampah, pun bukan. Mengapa bisa terjatuh? Berlanjut rata dengan tanah? Tidak berada di tempat yang seharusnya? Diam begitu saja, diterpa angin dan hujan melanda? Ke mana pemiliknya? Sebegitu jahatnya kah, untuk meninggalkan mereka untuk waktu yang berikutnya?
Yang tidak kuduga, aku akan melakukan hal yang sama. Pada hari itu, aku menjatuhkan sesuatu. Benda yang penting. Dari orang yang berharga. Tidak kuselamatkan. Dan kubiarkan begitu saja. Tidak ada kabarnya. Tidak ada rindunya, sampai kuungkapkan penyesalan yang ada.
Apakah dia baik-baik saja? Berada di tangan Tuhan, atau manusia? Hancur dilindas kendara, atau berhasil menyelamatkan diri dari celaka? Seperti apa dendam yang dipikirkannya padaku, yang kini menaruh rindu ingin jumpa dan mengajaknya tidur bersama?
Kini, entah mengapa dan bagaimana, aku mulai mengerti perasaan benda-benda yang dianggap mati. Yang kemudiannya dibunuh sekali lagi, setelah ratus-ratusan kali, sebelum ribu-ribuan berikutnya.
Aku ketakutan. Maafkan aku.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!