Rabu, April 23, 2014

Dari Dulu

Bibirku sudah habis dikuliti lebih dulu, sebelum perbincangan romantis ini berakhir

Aku meremas pergelangan tangan dan mencabiknya diam-diam, meninggalkan bekas biru dan merah sebagai ganti dari bibir yang belum puas kubuat berdarah

Sampai sakitnya mulai terasa, aku mencari kulit mati di sela-sela kuku untuk kutarik dan membuat perihnya terbuka

Lalu berpura-pura mencucinya dengan pembersih tangan instan, agar merembes ke dalam luka

Menambah cekat tenggorokanku yang sudah tertahan sejak awal ucapan terlontar

Gigiku sudah tidak menggerutuk, ia lupa caranya dan ia tidak mampu mengatur besar suara

Ia terlalu takut untuk menggigit lidah sampai setengahnya, maka sedikit saja ia mengatupkan diri pada papila, sampai berbekas merah dan sariawan parah

Dalam bayanganku, pulang nanti aku akan menggantungkan diri

Tapi, di mana? Dan dengan menggunakan apa?

Aku hanya ingin menulis wasiat, membiarkan banyak orang membacanya, dan membuat sesal seumur hidup pada orang terakhir yang mengajakku bicara

Pada orang yang mengomat-kamitkan mulutnya sambil menatapku tajam tanpa membaca apa-apa di sana, atau mungkin tidak peduli dengan apa yang tampak di air wajahku

Aku memang sudah lama mati di hidupnya

Suatu Hari, Suatu Hari..

Suatu hari, perempuan berkulit putih, hidung mancung, dan mata kenari akan datang ke kehidupanmu

Ia tidak malas bangun pagi, tidak pilih-pilih makanan, dan tidak meninggalkan ibadahnya

Kamu bisa berakhir pekan dengannya di mall mewah tanpa canggung, membawanya dengan anggun, dan mengelus rambutnya yang panjang selama berada di perjalanan

Kamu tidak perlu lagi menggenggam tangannya terus-terusan, karena kamu percaya, ia tidak akan ke mana-mana

Dan kamu tahu, berjalan di sampingnya sudah cukup memberi keangkuhan untukmu menunjukkan betapa sempurna si Kesayangan

Ia mendengar apa yang kamu dengar, belajar tentang apa yang kamu suka, dan tersenyum saat kamu melakukan kesalahan

Mungkin kamu akan lelah sedikit karena ia tidak boleh kena debu dan asap, tapi karenanya kamu mau berusaha untuk menciptakan hidup paling nyaman

Ia pendiam, cuma bicara tentang hal yang membuatmu senang, dan selalu punya cara untuk diterima orang lain

Ia suka seni, ia mengagumi kamu, ia bersedia diajarkan dan dilindungi oleh kamu dan punggungmu yang lebar itu

Demikian, kamu pun tidak perlu repot menjatuhkan hati, sebab kamu ditangkapnya lebih dulu

Kamu tidak perlu menunggu ia datang, cukup aku yang menghitung waktu

Pasti kukabarkan kalau ia muncul, kudukung, dan kubantu kalau perlu

Yang penting kamu tahu, ia ada dan telah siap, secepat mungkin ia berusaha datang agar bisa bertemu kamu

Sebelum hadir ia, mari kubur dulu masa-masa siamu, dan nisankan dengan kesenangan kita yang sementara

Aku di sini untuk ia dan kamu

Semacam Capek

Rasanya capek banget. Mau melepas apa yang sedang ada di genggaman gue sekarang. Kuliah, organisasi, kerjaan, urusan rumah.. Mau berhenti dan meninggalkan begitu saja.

Di satu sisi, gue berpikir mungkin gue cuma butuh istirahat. Ibaratkan dengan rasa kantuk, yang gue butuh sebenarnya cuma tidur. Tidur selama beberapa waktu. Tapi sayangnya, gue berpikir lagi—kalau gue bisa memilih untuk tidur selamanya, tentu gue akan pilih yang itu.

Meski terlalu berlebihan, tapi gue perlu mengakui kalau kemungkinan lulus kuliah di atas 21 cukup bikin tertekan. Saat ini nggak bisa berpenghasilan sesuai dengan kemauan ‘orang itu’ juga bikin tertekan. Nggak juga punya nama di lingkungan sekitar bikin tertekan pula. Dan macam-macam lagi. Self-esteem crisis strikes again. Segala hal yang gue lakukan sekarang nggak ada yang bikin bangga. Prestise sebagai anak kriminologi. SUMA. Penulis di media nasional. Blogger. Apa pun itu. Rasanya gue mau clear history, clear cache, delete cookies, delete bookmarks. Tapi ya kan, mana bisa.

Berdoa saja agar si ‘penyakit lama’ nggak perlu datang-datang lagi untuk ‘mengobati’.