Minggu, April 13, 2014

Kehidupan Kampus

tumblr_m071aegWRy1r5dp6f

Seberapa sering kamu melihat gambar di atas, atau membaca tulisan yang berkenaan dengan itu? Saya pribadi, sering banget. Mulai dari setuju dengan pernyataan tersebut, sampai akhirnya sekarang berpikir kalau ini bikin mahasiswa jadi malas dan tukang ngeluh.

Iya, katanya kita cuma bisa memilih dua di antara kehidupan sosial, nilai bagus, dan/atau tidur yang cukup. Entah berapa ribu repost dan retweet akan penemuan ini, dan entah berapa juta mahasiswa yang kemudian mengacu kehidupan kampusnya ke bagan tersebut. Saya juga bertanya-tanya, kira-kira berapa banyak mahasiswa yang mengeluh kehidupan sosialnya tidak terjaga karena harus mendapat nilai baik dan tidur cukup, nilainya buruk karena perlu tidur cukup dan menjaga kehidupan sosialnya, serta kurang tidur lantaran belajar demi nilai baik dan menjaga kehidupan sosial.

Saya mau sombong di sini: saya dapat semuanya di antara tiga itu. Kalau ada tambahan berupa organisasi dan cari uang, saya juga memeroleh semuanya.

Bukan karena saya manusia super, tapi karena saya tidak menilik kesempurnaan di seluruh aspek tersebut (tiga aspek utamanya saja ya, yang dibahas). Buat saya, nilai baik bukan berarti straight A. Kehidupan sosial tidak sama dengan dugem setiap malam. Dan tidur yang cukup tidak harus penuh 6 jam di malam hari.

Hargailah hal sekecil apa pun. Misalnya, nilai B+ yang kamu tangisi karena bikin tidak bisa cumlaude. Atau obrolan siang hari bersama teman-teman ketika menunggu kelas berikutnya. Dan tidur selama perjalanan dari rumah ke kampus, misalnya. Tidak perlu mengkotakkan antara nilai baik, terjaganya kehidupan sosial, dan tidur yang cukup. Campurkan saja semuanya dengan takaran sesukamu, asal bahagia.

Teori ‘pilih dua’ untuk kehidupan kampus itu salah. Jangan malah disetujui. Karena setiap orang bisa dapat tiga-tiganya, bahkan dengan sangat mudah. Sungguh!

Selamat menjalani kehidupan kampus yang lebih baik. Kamu bisa kok, punya nilai yang baik, kehidupan sosial terjaga, dan tidur yang cukup dalam kehidupan sebagai mahasiswa. Jangan merendahkan potensi dirimu sendiri gitu, ah.

Terima kasih sudah membaca!

Barang

thumb_320_92913eeb64acccfcde58dac8890f28f2

Ada yang pernah lihat gambar di atas beredar di sosial media sebagai bahan joke? Diretweet dengan embel, ‘Hahaha’ dan dibagikan ke orang lain untuk berikutnya ditertawakan lebih jauh?

Ini satu contoh kasus yang beredar luas. Mungkin di lain waktu, Anda pernah berbincang dengan seorang kawan dengan topik kurang lebih seperti ini: “Parah deh dia, begitu saja minta dikembalikan/diganti. Kayak orang miskin saja. Kayak nggak ada yang lain saja.”

Coba yuk mulai sekarang, pelan-pelan hal sesederhana apa pun dari orang lain tidak kita anggap remeh dan seenaknya jadi bahan perbincangan, apalagi tertawaan. Siapa yang tahu kalau ternyata pulpen Dupon hilang itu ternyata pemberian seorang kawan yang meninggal di Rabu malamnya? Atau hadiah kecil dari ayah si pemilik yang kurang mampu untuk merayakan anaknya sukses masuk ke perguruan tinggi? Kita tidak tahu apa arti suatu barang bagi orang lain, jadi tidak perlulah kita menilai ‘murah’ dan ‘penting’nya barang tersebut. Lagipula, bukannya memang sudah kewajiban buat kita menjaga barang yang kita pinjam sendiri?

Jangan asal buang barang orang lain, karena kita tidak belum tentu tahu pasti tentang sejarah yang ada di balik barang tersebut. Mungkin Anda pikir itu barang murahan yang bisa Anda ganti sepuluh kali lipat, tapi Anda tidak mungkin bisa mengganti cerita yang pernah dihadirkan barang itu, bukan?

Coba yuk, mulai hargai barang orang lain seperti kita mau barang kita dihargai orang. Ini bukan masalah nilai nominalnya lagi. Tapi nilai pengalaman dan afeksi yang ada di barang tersebut.

Tentu Anda tidak mau selimut buluk kesayangan Anda yang dipakai dari kecil dibuang orang, kan? Atau hadiah-hadiah dari mantan pacar yang belum Anda lupakan, misalnya. Dan lain-lain, dan lain-lain. Perhatikan saja lemari, rak, baju, sepatu, atau apa pun barang Anda, dan ingat-ingat memori yang tersimpan di situ. Lalu bayangkan orang lain dengan seenak hati meminjamnya, menghilangkannya, atau membuangnya, karena menurutnya itu barang yang ‘sederhana’. Berhubung saya melankolis, pasti itu bikin saya kesal habis-habisan.

Terima kasih sudah membaca.

Si Kecil Kesayangan

Gue kenal anak ini lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Tepatnya waktu TK, di kelas A2. Tapi kami nggak dekat saat itu. Begitu sekelas lagi di SD, dia suka 'ngintil' ke gue dan seorang teman yang lain. Begitu sekelas lagi di kelas 5A, gue jadi dekat. Lebih dekat, dan sangat dekat. Dia salah satu orang yang bikin kehidupan anak-anak gue terasa normal--main di rumah setelah pulang sekolah, nebeng makan, nonton bareng, gosipin orang, dan lain-lain.

Mungkin namanya nggak perlu gue sebut. Yang pasti, badannya lebih kecil dari gue, mulutnya lebih bawel dari gue, dan kelakuannya lebih pecicilan dari gue. Boleh ditebak siapa orangnya.

Ketika jalan-jalan ke Bandung kemarin, asramanya jadi salah satu tempat bermalam gue. Setelah sekian lama, akhirnya gue ketemu dia untuk waktu yang panjang. Bobo bareng. Manja-manjaan. Bawel-bawelan. Gosipin orang. Gue senang sekali bisa menghabiskan waktu sama dia lagi, karena gue sangat sayang dia. Gue tahu di balik badannya yang kecil itu ada sesuatu yang memberatkan tapi sulit dia ceritakan, tapi ya nggak apa-apa, karena masih banyak orang yang sayang dia kayak gue sayang sama dia.

Terlalu random kalau mendadak gue sapa orangnya di Line buat ngasih tahu apa yang gue pikirkan, makanya lebih baik gue tumpahkan di sini saja. Barangkali orangnya baca.

Gue tumbuh sama orang ini, dari waktu gue masih kasar sampai sekarang lembutan sedikit, masih dekil parah sampai sekarang sudah mulai dandan, masih suka Aaron Carter sampai sekarang dengarnya Stevie Wonder. Dan meski pernyataan ini 85% sok tahu, tapi di matanya yang selalu tertawa itu gue melihat cerita lain yang jarang dia bagi ke orang lain. Entah apa. Yang ini, gue nggak mau sok tahu.

Gue cuma mau dia tahu, kalau gue ada di sini dan akan selalu jadi temannya. Ini gombal, tapi bukan omong kosong (padahal itu sinonim). Karena seandainya di lain waktu dia bersedia membuka diri, gue nggak mau saat itu tidak ada yang siap telinga untuk mendengar dan siap lengan untuk memeluk dia.

Anak ini nggak perlu takut sendirian, karena banyak orang yang menghampiri dia ketika dia tengah melewati waktu-waktu kosong. Dia ramai, seru, dan menarik orang lain. Tapi gue harap, setiap keceriaannya itu muncul bukan untuk menutupi sesuatu yang lain. Karena gue sangat suka bagaimana dia pecicilan, bagaimana dia rese, bagaimana dia bawel, bagaimana dia nggak bisa diam. Cuma dia di sepanjang hidup gue, cewek yang gue ‘izinkan’ berperilaku seperti itu. Cuma dia yang cocok. Cuma dia yang boleh. Cuma dia yang nggak palsu.

Dia, si kecil kesayangan gue ini, semoga sayang sama gue juga. Kok gue nulis ini jadi sedih sendiri, ya?

Semoga baik-baik selalu. I love you.