Minggu, November 20, 2016

Jumat, November 04, 2016

Terakhir

Ini akan menjadi surat yang panjang. Dan harapannya cukup dua; kamu tuntas membacanya, dan tahu ini ditulis hanya untuk kamu. Tentang apa yang akan terjadi berikutnya, biar disimpan jadi rahasia. Terlalu mengerikan untuk berharap di waktu-waktu labil, cemas berakhir pada luka-luka yang tak seharusnya perlu ada.

Lebih dulu, baiknya dimulai dari maaf.

Aku membuat banyak kesalahan. Masalah jumlah dan penjabarannya, itu biar kamu yang perhitungkan sendiri. Menyesal, sangat, tapi yang terasa perlu memeluk dan mencium kakimu (meski inginnya di kening saja) berulang-ulang adalah ketika aku berkata, "Tidak bisa".

Sebenarnya aku tidak ingat sudah berapa kali menolak kamu. Memberi prioritas pada urusan lain dan mengenyampingkan kamu. Entah mengapa, frasa satu itu paling banyak mengemban dosa di kala terakhir aku melontarkannya--di saat yang sama kamu berhenti mencariku untuk menemukan tempat istirahat sejenak.

***
Tidak cuma sekali aku bertanya, "Kenapa aku?"

Lalu jawabanmu suatu hari, "Karena cuma kamu yang bertanya aku kenapa."

Awalnya tersanjung. Sungguh. Meski lama-lama aku berpikir lebih luas; bahwa memberi tanya tak akan pernah seanggun memberi nyaman dan hadiah. Aku kosong dan miskin tawaran. Mampunya menarikmu pada dunia bawah, memaksa senang di sana, lalu lupa pikirkan kamu.

Aku menuju menyerah, tinggal selangkah malah, tapi senyummu itu seolah melarangku berpaling. Jalan mundur tak apa, selama tidak berbalik wajah. Pun tidak tahu bagaimana kejujurannya, redam dalam pelukmu itu sudah jadi candu untukku. Aku ingin lelap di sana dan bangun tanpa pindah sedekat apa pun.

***
Sampai di sini aku mulai putus asa dan ingin tuntas saja semua. Tidak menjadikannya surat yang panjang lagi, lalu kabur entah ke mana--asal itu bisa membawaku lupa kalau kita pernah ada.

Apa ini namanya perpisahan? Aku pun enggan jawab, meski pertemuan pun tak tercipta dengan skenario sederhana. Awut-awutan bahkan, hingga idealnya saling meninggalkan pun bisa jadi berantakan pula. Bagaimana pun caranya, tolonglah diingat, sedikit pun tidak ada kesalahan dari kamu.

Sejak semula cuma ada Pungguk yang merindu Bulan.

***
Aku diminta berhenti dan menjauhkan diri. Lebih banyak rugi, katanya. Aku akan tersiksa dan kelepasan kamu di kala semuanya membaik. Menurutmu pun demikian? Atau sebenarnya sudah terjadi dari awal?

Barangkali memang aku banyak memaksa untuk ada di kehidupan kamu. Bisa juga sebaliknya, memaksa kamu ada di kehidupan aku. Lalu aku hilang hormat pada diriku sendiri, padahal tak ada yang bersambut kala aku menujumu. Mungkin sekali-dua kali, itu pun nihil soal siapa yang kamu pikirkan dan diharap-harap dalam hati. Bisa jadi aku, bisa jadi..

Intinya, aku kelelahan untuk lebih lagi. Padahal baru sebentar, tidak dihadang oleh badai dan ombak pula, tapi kehendak di masa depan berhenti maju di waktu-waktu kamu terjebak di masa lalu. Sungguh.

***
Jangan marah. Jangan sedih. Jangan bertanya.
Pun kamu tiada di ketiganya.

Pergiku tidak terasa.
Tidak menimbulkan apa-apa.
Tidak mengubah apa-apa.

Terima kasih untuk waktu-waktunya.

Jumat, Oktober 28, 2016

Sex is Overrated

Dari kemarin mau nulis soal ini tapi nggak jadi terus. Serasa tiba-tiba inspirasinya hilang saja, gitu. Mungkin karena gue terlalu banyak memikirkan bagaimana cara memaparkan isi kepala gue terkait hal ini dengan rapi dan mudah dimengerti. Sekarang, sudahlah, gue mau mengeluarkannya dulu saja yang penting.

Gue pernah baca di sebuah komik (yup, jadi ini nggak perlu dianggap terlalu serius), katanya, "Manusia jadi binatang setelah mengenal seks". Meski pun manusia memang termasuk animalia sih, ya. Kalimat itu dilontarkan oleh pemeran utama komik, ketika ia melihat perempuan paruh baya yang masuk ke love hotel bersama entah pasangannya atau bukan. Saat itu, ia sedang berjalan-jalan di malam hari, memerhatikan bagaimana perilaku orang-orang di sekitar jalan yang mayoritas diisi oleh bar dan hotel.

Pertama kali gue baca komik ini, kalau nggak salah pas gue masih SMA. Gue belum sexually active, dan bisa dibilang masih sangat-sangat naif. Selama masa pertumbuhan, gue lebih banyak punya teman cowok dibanding cewek. Dan nggak pernah sekali pun terbesit di kepala gue kalau mereka adalah sosok yang mengerikan, yang akan meminta keuntungan seksual dari gue, atau bahkan sampai berani melakukan hal-hal melecehkan. Gue selalu merasa aman bersama mereka. Kok bisa? Yah, salah satunya adalah karena gue merasa nggak menarik secara seksual, dan terlalu sering disebut-sebut bukan cewek lagi di mata mereka. Terlepas dari apakah memang benar kenyataannya demikian, gue terlanjur termakan oleh ucapan dan anggapan seperti itu.

Puji Tuhan, sampai kini, nggak pernah ada teman-teman gue yang bertindak melecehkan.

Namun, sampai kini juga, kala usia gue hendak menuju 22 tahun, gue banyak menemukan orang baru di kehidupan gue yang membuat sudut pandang gue berubah. Kalau sebelumnya gue bisa bebas berkawan dan nggak keberatan menghabiskan waktu bersama semisal memang lagi nganggur, sekarang gue perlu mikir beberapa kali untuk mengiyakan ajakan bertemu, atau bahkan membalas pesan beberapa orang yang gue (baru) kenal. Semata karena satu hal: I know they were trying to sleep with me.

Nggak sampai di sana, gue yang mulai masuk dunia kerja pun banyak dikasih lihat soal bagaimana kehidupan monogami adalah suatu hal yang benar-benar terancam. Grr, yang begini ini nih, bikin putus asa sama pernikahan.

Gue pernah baca satu tweet, lupa dari siapa, yang intinya dia bilang bahwa saat manusia "sadar" bahwa seks adalah kebutuhan, ya sudah tidak ada lagi kebutuhan untuk meromantisasi seks. Kalau nggak salah sih isinya begitu, dan lumayan diretweet oleh banyak orang. Gue mendelik saat membacanya, setengah karena risih, dan setengahnya lagi sedih.

Oh iya, ini nggak ada hubungannya kok dengan "budaya Timur". Kalau sedang baca 9Gag dan melihat bagaimana berupayanya mereka untuk mengangkut seseorang guna berhubungan seks pun, gue masih merasa risih. Why everything is about sex? Can people stop objectifying other people? Nggak semua yang lo bayangkan telanjang itu harus diajak tidur, kan?

Apa sih yang sebenarnya bikin gue risih? Nah loh, bingung juga jawabnya. Jujur saja, gue bergaul bukan di lingkungan yang menjadikan seks sebagai suatu hal spesial. Pun seandainya teman-teman gue main sana-sini, ya itu mereka simpan sendiri. Dan ketika lagi kumpul, belum ada sejarahnya mereka sambil cari pasangan one night stand. Kuno? Mungkin. Terserah apa sebutannya, tapi gue sangat nyaman berada di pergaulan ini. Munafik? Bisa jadi sih, yang penting nggak ada satu pun teman cowok gue yang pernah berusaha tidur dengan gue, atau hal-hal seksual lainnya.

Dalam kepala gue, sex is overrated. Iya, sex is fun, banget malah. Hanya, buat gue (saat ini, dan semoga seterusnya), seks bukanlah hal pertama yang lo lihat ketika bertemu atau mengenal seseorang, sih. Seks bukan segala-galanya. Nggak semewah itu. Nggak semenarik itu. Terutama, juga nggak se-maskulin itu dan nggak membuat lo nampak jadi se-seksi itu. Asli, sampai sekarang gue masih nggak paham dengan orang yang bangga soal seberapa banyak sex partner yang ia miliki.

Sebenarnya yang ingin gue sampaikan adalah, gue ingin orang-orang berhenti memandang orang lain sebagai objek seks. Setidaknya, berhenti memandang gue begitu. Dasarnya gue senang berteman dengan siapa pun, dan akhirnya sekarang gue sadar bahwa ada jarak yang perlu gue jaga, karena gue nggak sepenuhnya dipandang sebagai "manusia". Ada orang-orang yang menjadikan seks sebagai kebutuhan utama, merasa bebas melaksanakannya, dan punya trik tersendiri untuk bisa mencapainya. Orang lain jadi target, mungkin karena suka, bisa jadi karena penasaran saja. Ini mengerikan.

Gue merasa tata bahasa gue mulai melantur.

Gue menulis ini sambil ngobrol sama teman gue. Katanya, "Kami para suami orang mungkin sama-sama suka penasaran atau modus, tapi kami ngga horny-an kayak ABG". Nah, iya, itu loh yang penting. Kontrol sex drive! Nggak perlu bersikap seperti orang yang baru kenal seks kemarin.

Intinya, sex is overrated. Sayang banget kalau lo sampai mengorbankan perasaan orang lain cuma untuk ngeluarin cairan yang punya potensi penyakit sangat besar selama beberapa detik. Dan dalam konteks ini, perasaan itu ya bisa berarti perasaan orang yang lo ajak berhubungan seks, atau pasangan resmi lo sendiri (semisal selingkuh).

In the end, who am I to judge, sih. Mungkin gue belum berada di titik yang menganggap seks adalah kebutuhan yang sebegitu besarnya, sehingga kini masih pemilih dan minta macam-macam. Maunya sih gue nggak akan sampai pada fase seperti itu, ya. Semoga lo pun bisa demikian.

Terima kasih sudah membaca! Maaf berantakan, sudah lama nggak menulis panjang..