Senin, Desember 12, 2016

Orang-orang Aneh dan Tanda

Di dunia ini ada banyak orang aneh.

Semuanya aneh, sih. Semuanya unik. Dan nggak ada yang benar-benar spesial, karena semua punya hidup masing-masing. Gue percaya bahwa tiap manusia punya satu atau beberapa tanda yang paling menonjol dari dirinya sendiri, dan tanda itu secara tidak disadari telah membentuknya dikelilingi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya sekarang.

Atau, bisa jadi yang terjadi adalah kebalikannya. Tanda-tanda itu terbentuk karena adanya orang dengan tanda serupa di sekitarnya. Makanya, anak kecil biasa diwanti-wanti untuk "memilih teman", bukan? Tapi gue menolak pikiran itu, karena gue angkuh, dan gue percaya apa yang ada dalam diri dan lingkungan gue sekarang adalah karena pilihan gue sendiri. Nggak ada hubungannya sama tanda-tanda dari orang lain. Tanda-tanda dari guelah yang membuat segala yang ada saat ini muncul di dekat gue.

Pikiran itu, akhirnya bikin senjata makan tuan. Sekarang gue kebingungan, dan memutuskan menulis ini untuk pelampiasan.

"Kamu pasti banyak ketemu orang seperti ini kan di hidup kamu?" tanya psikolog gue suatu hari, setelah gue cerita panjang lebar tentang apa yang gue gundahkan selama beberapa hari sebelumnya. Kegundahan itu sukses bikin berat gue turun tiga kilo cuma dalam waktu empat hari. Gue mengangguk dengan ragu-ragu, sebab gue merasa benar demikian, tapi berpikir juga bahwa itu ada sesuatu yang normal--mengingat dunia ini diisi banyak orang aneh!

Ternyata, menurut beliau, itu bukan hal biasa. Memang benar di dunia ini ada banyak orang aneh, tapi nggak semuanya "secara ilmiah dan medis" adalah "orang aneh". Biasanya, "orang aneh" semacam ini akan saling menemukan satu sama lain. Berkumpul di satu lingkaran. Kok bisa? Ya itu, karena tanda yang paling menonjol dari diri mereka adalah "keanehan" itu sendiri.

Rasa bingungnya muncul karena di satu sesi, justru psikolog gue bilang kalau gue sehat dan punya coping mechanism yang sangat baik. Dibanding orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan normal dan ideal, bisa dibilang gue nggak sehat. Tapi berkat coping mechanism itu, setidaknya hingga sekarang gue nggak pernah bersikap kelewatan atas sesuatu. Nggak punya adiksi, bisa kontrol diri, dan masih bergaul dengan baik.

"Kamu nggak melepaskan teman-temanmu yang "aneh" ini kan?"

Ya, gue nggak melepaskan mereka. Gue bisa tahu seseorang itu "aneh" setelah beberapa kali berinteraksi, dan baru merasa nggak mau melepas mereka setelah gue tahu apa "keanehan" mereka sebenarnya dan apa penyebabnya.

"Orang pada umumnya itu nggak mau berurusan dengan mereka sedalam yang kamu lakukan."

Hm..

Selama ini, gue belum pernah diklaim secara medis punya sesuatu yang "aneh". Untuk sekadar dibilang mengalami depresi pun, nggak. Gue pertama kali pergi ke psikolog ketika SMP, di kala lingkungan gue sedang kacau-kacaunya, dan saat itu pula gue didiagnosis baik-baik saja dibanding yang lain. Gue masih "bercahaya", dan lagi-lagi, itu karena gue punya coping mechanism yang--katanya--baik.

Begitu pula saat gue ke psikolog untuk kedua kalinya. Memang ada sedikit masalah kepribadian, tapi nggak berat dan membahayakan. Gampangnya, ya jalan gue tinggal diluruskan. Dan dalam keadaan itu, gue bertemu, bahkan berhubungan dekat, dengan dua orang "aneh" yang "keanehannya" jarang dimiliki orang. Nggak tahu memang jarang, atau karena teman gue yang nggak sebanyak itu juga, sih. Tapi tetap, ada dua orang dengan kondisi "unik" serupa di dekat gue, kini bikin gue bertanya-tanya: Ini yang aneh siapa, sih!?

Apa mereka datang karena tanda dari gue? Kalau iya, lalu sebenarnya ada apa dengan gue?

Yah, salah juga sih nanya di sini. Gue menulis karena ingin berbagi, dan benar-benar nggak habis pikir dengan diri gue sendiri. Kok bisa-bisanya ada di kebetulan semacam ini. Gue belum ketemu jawabannya selain dengan memasrahkan diri, percaya bahwa ini bagian dari rencana Tuhan. Cheesy sih, tapi ya begitulah keadaannya.

Sampai sekarang gue masih percaya kalau bukan cuma gue yang ada dalam situasi begini. Orang-orang yang gue kenal juga pasti merasakan dan mengalaminya, cuma gue yang nggak tahu saja.

Nah, kalau lo merasa dekat dengan gue, menurut lo itu karena tanda mana yang gue miliki?

Minggu, Desember 11, 2016

Desember

Tiap hari pun, saya sudah inginnya menyerah. Sebenarnya-benarnya, saya cenderung memilih berhenti, terutama kala berkaca diri, kemudian dibawa sadar bahwa saya dan kamu idealnya tak pernah jadi kita.

Satu cara untuk kembali tenang, kamu tahu, apa lagi selain mencacah daging-daging di bawah kulit tanpa menghitung berapa tebasnya. Tubuhku tak pernah marah, tapi sahabatku marah, hingga saya perlu tahan diri dan tarik napas sepuluh kali, lepas lupa mau apa tadi.

Saya paham betul, mau bicara bagaimana pun, sepatah kata dari kamu mampu buat luluh. Saya akan pulang lagi padamu, menimang hingga tertidur, mencoba beri kasih pun hanya imitasi. Lalu wajahmu kukecup berulang, sebab saya sayang, pun tidak bisa terbiasa karenanya dan karena orang-orang.

Siapa yang gila? Siapa yang jahat? Berhentilah kita pura-pura ada. Nirmana! Barangkali saya besar kepala pada manipulasi yang elok dan tak ternyana. Dan, pada demikian, saya lega lebih banyak.

Minggu, November 20, 2016