Rabu, Agustus 16, 2017

Hari Kedua

Di kantor tadi, mendadak dapat info soal promo salah satu restoran cepat saji. Cukup dengan 50 ribu, bisa dapat 5 ayam sekaligus. Lalu otak otomatis berpikir, “Oh, maybe I should buy it for masnya”. Sampai beberapa detik berikutnya, barulah gue ingat kalau hubungannya sudah kandas.

Masih beberapa hari lalu, gue berpikir akan menghabiskan tanggal merah bersamanya. Mungkin nonton Game of Thrones atau jalan-jalan ke taman. Sayangnya, manusia memang perlu berpisah pada waktunya. Tidak ada yang bisa menebak kapan, dan harinya datang begitu saja.

Ini hari kedua setelah kami memutuskan pergi masing-masing. “Kalau menyesal, ya disudahi saja,” katanya hari itu. Maka gue menurut, sebab sebenarnya kami sadar kalau hubungan ini tidak sehat dan sudah tidak layak. Dia sudah lelah, dan gue tetap marah-marah. Belum lagi ditambah dengan pikiran putus asa yang bisa muncul kapan saja dalam kepala gue. Yang ada, akhirnya cuma akan saling menyakiti.

Pada Senin itu, gue bangun dengan perasaan berat. Dalam kepala, gue ingin hari Rabu segera tiba, agar gue bisa bertemu secepatnya. Sempat berkali-kali menimbang untuk bertemu hari itu juga, tapi gue sadar bahwa gue perlu melawan keinginan itu. “Sebentar lagi kan lo mau ditinggal. Lo nggak bisa gampang ketemu lagi tiap kali merasa down. Jangan dibiasakan.”

Sayang, setannya lepas. Gue pun menggila. Ingin menangis tapi nggak bisa. Dan akhirnya kata-kata itu keluar—saran untuk sudah saja.

Setiap kali mulai merasa sedih, gue berusaha berpikir rasional. Ini keputusan terbaik, kok. LDR doesn’t work anyway. Perpisahan pasti terjadi, dan lebih baik berpisah dengan cara seperti ini daripada nanti saat ada yang akhirnya selingkuh karena perkara kesulitan bersentuhan dan menjalani quality time. Berkali-kali gue bilang, ini sudah benar kok. Iya, ini sudah benar.

Dua tahun dengan drama paling banyak dan usaha paling berat. Tapi banyak juga tertawanya, bercandanya, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Kadang gue suka kepikiran, apa gue bakal ketemu lagi sama orang yang segini ngakaknya sama jokes gue? Yang segini nyamannya sama gue? Meski guenya juga masih suka bertanya-tanya apakah ini diri dia yang sesungguhnya atau bukan, sih.

However, the hardest part of loving him was keeping how proud I was for having him in my life. Because I know for sure that he didn’t feel the same way.

Kangen? Iyalah, namanya juga baru pisah. Belum terbiasa. Saat gue sudah sadar kalau dia bukan punya gue lagi, semua akan kembali seperti semula. Dan harapannya, gue pun ikut membaik tanpa pikiran-pikiran putus asa yang bisa bikin nggak makan berhari-hari dan berimajinasi akan hal-hal yang nggak lucu.

Ini cuma fase. Ini cuma fase. Ini cuma fase.

Ini akan berlalu. Ini akan berlalu. Ini pasti berlalu.

Selasa, Agustus 15, 2017

Fase Berikutnya?

Olga si Anak Malas yang suka meremehkan tenggat waktu, suatu hari kena batunya. Cetakan skripsi dengan total lebih dari 200 halaman dan dibuat empat eksemplar yang harusnya dikumpul pukul 15, terpaksa jadi terlambat karena kejadian-kejadian tak diinginkan. Tentu sebenarnya bisa diantisipasi, andai kata cukup tahu diri--sayangnya, rasa abai dan sok tahu masih menduduki peringkat atas dalam identitas Olga sebagai mahasiswa.

Akibatnya? Olga kena semprot seorang dosen yang punya tampilan tak jauh nyentrik dengan dirinya. Beliau yang berambut cokelat sebahu itu, usai mencak-mencak akibat tidak tepat waktu, akhirnya bertanya dengan nada sini, "Memang kenapa sih, harus lulus semester ini? Kan, semester depan masih bisa?"

Sungguhlah, meski terdengar klise, Olga menjawabnya dengan jujur, "Saya mau menuju fase hidup yang baru, Mbak." Untuk Olga, serta mungkin teman-teman lainnya, waktu empat setengah tahun itu sudah terlalu lama. Sudah cukup masa untuk ganti ponsel dari BlackBerry ke Sony, lalu ke Nokia, lalu ke Samsung. Putus pacaran juga tiga kali, masing-masing berjalan tak lebih dari satu setengah tahun. Rambut diganti-ganti dari biru tua, pink, kuning, oranye, hitam, cokelat, ungu, hingga pirang luntur. Jenuh!

Singkat cerita, tibalah hari ini. Kurang dari dua minggu lagi, Olga bisa dapatkan yang ia minta dari jawaban jujurnya itu: menuju fase hidup yang baru. Bagaimana komunitas mengonstruksi tatanan hidup manusia memang menarik--lahir, berguling, merangkak, berjalan, TK, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, menikah, punya anak. Ada klasifikasi fase yang idealnya dijalani secara runut. Agar menjadi manusia yang tidak disfungsi, katanya. Setelah selesai pada fase kuliah (yang sebenarnya dibarengi dengan kerja pula), Olga bisa memutar dadu hidupnya kembali. Menyoal pilihan ingin fokus melakukan apa demi menjadi manusia bermanfaat.

Kedengarannya menarik. Seperti naik tingkat dalam suatu permainan. Seperti sedang bertualang bebas, lalu bertemu persimpangan jalan yang memberi kemungkinan-kemungkinan berbeda. Yang baru selalu lebih baik, katanya. Oleh sebab itu, orang-orang sukses cenderung selalu bergerak, agar mereka bisa berpindah dari satu fase ke fase lain, baik mengikuti konstruksi atau mencipta fase sendiri. Menjalani hidup sepenuhnya adalah tentang bergerak dan terus bergerak.

Namun, inti dari tulisan ini bukan itu. Olga bukan orang optimis yang gemar bicara masa depan, atau cukup berani mengkhayal tentang opsi-opsi. Sebaliknya, ini adalah tentang persiapan pindah fase. Bagaimana perlu meninggalkan hal-hal tertentu demi mampu menapaki tangga yang makin lama makin terjal dan beranak-anak.

Kamu tahu, yang bergerak itu bukan hanya dirimu. Sekelilingmu pun demikian, dan masing-masingnya punya perkara yang mampu memutar balik hidup. Segalanya berubah saat kamu menuju fase baru. Itulah ujiannya--sejauh mana kamu mau keluar dari masa lalu, yang sering kali tak bisa hanya sekadar buang hal buruk-buruk, tapi juga sepaket dengan hal-hal baik. Eliminasi adalah omong kosong, sebab semua punya dua sisi, bahkan kadang lebih dan buat rumit lagi. Tuhan tak mungkin beri cuma-cuma.

Dan Olga tahu, dalam upayanya berpindah kaki, dalam garis batas antara fase baru dan fase lama, tengah berputar-putar kesadaran akan hal-hal yang selama ini membantunya hidup. Meski terdengar serupa hal yang baik dan dapat dibawa sampai kapan pun, "para pembantu hidup" itu bisa saja turut gugur tiap ganti pintu.

Tidak bisa ada lagi berangkat ke Gandaria hampir empat kali seminggu, semata untuk bersenang-senang, bertemu orang lama dan baru, mencapai mabuk sampai tak sengaja tertidur di kamar mandi. Pukul dua pagi sudah tidak mungkin mencari kawan makan burger di Senayan atau Kemang, atau paling remeh ya jalan-jalan demi es krim rasa teh hijau. Mengejar pentas musik dari timur ke barat juga tidak lagi mungkin jadi prioritas, entah karena tubuh yang melemah, prioritas keuangan yang berubah, atau akibat perbedaan kesibukan. Pokoknya, banyak, banyak sekali yang perlu hilang demi perkembangan.

Pelan-pelan di kepala ada nama-nama dan wajah-wajah yang biasa mengisi hari-hari. Di kala muda, berjumpa dan berkelana bukan hal yang sulit dilakukan. Bila bisa ada latar suara, Sahabat Sejati dari Sheila on 7 mungkin cocok menjadi pendamping. Rasa kekanakan dari lirik dan musiknya, perlu diakui memang menggambarkan, memanaskan keadaan. Sayang, kini tibanya ada pada Kisah Klasik untuk Masa Depan. Bahkan Eross pun sudah 17 tahun lalu coba sadarkan anak muda tentang adanya "fase berikutnya".

Akhirnya dunia memang akan selalu berjalan tanpa simpati. Manusia harus mampu mengikuti jam, menit, dan detik yang tanpa ba-bi-bu akan selalu meninggalkan manusia-manusia lambat. Tapi sebenarnya, bila dipikirkan lagi, bukankah berhasil mencapai fase baru harusnya adalah hal yang patut disyukuri? Seperti naik tingkat dalam permainan video, bukan?

Sekarang, tinggal bagaimana Olga sendiri menghadapi kondisi. Sebab tanpa terkecuali, manusia perlu lulus dari setiap fase-fasenya. Dan bila bicara soal destinasi akhir, tentu saja jawabannya satu: Mati.

Tentang Foto dan Kemunafikannya

Beberapa waktu lalu, gue pernah menulis soal memberi diri gue sendiri kesempatan. Dalam jangka waktu satu tahun, gue berusaha untuk hidup maksimal, lebih positif, lebih optimis, dan lebih menghargai keadaan di sekitar gue. Salah satu cara yang gue lakukan adalah dengan bermain kamera.

Kenapa kamera? Karena gue tidak suka foto. Bukan masalah di seninya, tapi gue memang tidak suka foto karena menurut gue, sejauh ini nggak ada hal yang cukup berarti untuk diabadikan dalam sebuah foto. Rasanya sulit buat gue mengambil dan menyimpan suatu momen lewat foto, karena itu akan berlalu dan belum tentu selamanya jadi hal yang baik untuk diingat-ingat. Gue nggak menyimpan foto di galeri ponsel. Gue nggak main Instagram. Di Google Photos, hanya ada segelintir foto lama yang memang ter-back up otomatis dari ponsel atau blog ini sendiri. Dan gue nggak segan juga menghapus semuanya, karena menurut gue, ini semua nggak penting. Nggak ada artinya.

Di bulan Juni, gue memutuskan membeli kamera Instax dan mantan gue memberikan sebuah kamera analog. Gue memilih dua jenis kamera ini dengan alasan sederhana; gue ingin momennya tidak dibuat-buat. Apa adanya. Kalau dari kamera digital, lo bisa minta foto berulang-ulang demi dapat gambar yang bagus. Pada akhirnya, yang ditangkap bukan momennya. Itu nggak sejalan dengan tujuan gue yang ingin bisa lebih menghargai keadaan di sekitar gue, dan mengabadikannya lewat foto.

Sejujurnya, gue sangat kesulitan memilih objek. Benar-benar nggak ada hal yang menarik untuk gue foto, atau gue anggap cukup berharga untuk gue ambil lewat lensa. Mungkin banyak dari lo yang menganggap gue berlebihan dan perhitungan, dan gue nggak berpikir kalau lo salah. Sebab kenyataannya memang begitu, gue terlalu lama berpikir, tidak santai, dan akhirnya makin kesulitan mencapai tujuan untuk menghargai keadaan.

Dari 4 pak film Instax yang sudah terpakai, 3 di antaranya berisi foto mantan gue, atau foto kami berdua. Buat gue, itu adalah satu-satunya hal yang benar-benar ingin gue simpan, abadikan, dan kenang sambil tersenyum sendiri. Cuma itu yang gue tahu jelas bahwa keadaannya gue hargai, that I cherished every moment with him, and I wanted to keep it even just in photographs. Sayangnya, hubungan kami sudah berakhir kemarin.

Gue ingin menggunting foto-foto itu, tapi nggak bisa. Akhirnya, gue mengeluarkan foto-foto itu dari album mini dan kotak foto, memasukkannya dalam amplop, dan mengirimkan itu ke rumahnya. Sayang, kurir Grab yang mengantarkannya nggak punya pulsa, dan malah meminta gue menghubungi mantan gue. Gue enggan, karena takut foto itu tidak diterima, dan meminta si kurir melemparkan saja amplopnya ke garasi rumah. Si kurir setuju. Entah benar dilakukannya atau tidak, yang pasti mantan gue bilang bahwa nggak ada apa-apa di garasi rumahnya. Berlembar-lembar foto itu pun hilang begitu saja. Gue nggak tahu siapa yang berbohong.

Tapi tidak apa-apa. Begitu mungkin lebih baik. Toh ketika itu sampai di tangan mantan gue pun, dia juga akan membuangnya. Dengan cara ini, tidak ada yang kesulitan karena punya tanggung jawab harus membuang foto-foto kenangan yang objeknya sendiri sudah jadi orang yang berbeda. Dan di mana pun foto itu ternyata berada, gue harap mereka bisa membawa memori dalam pikiran gue untuk turut serta hilang.

Tidak sampai dua bulan, gue pun berniat menjual Instax gue. Hahaha. Cepat banget menyerahnya, ya? Gue sudah mencoba mencari alasan mempertahankannya, berupaya mengingat hal-hal yang mungkin akan ingin gue abadikan. Tapi tidak ada. Sebaliknya, setiap kali melihat album mini itu, gue jadi merasa sedih. Teringat bagaimana gue membawa itu ke mana-mana, karena di dalamnya ada foto-foto gue dengan mantan gue dalam momen-momen menyenangkan. Sama pentingnya dengan ponsel dan dompet, karena entah kenapa itu menjadi semacam mood booster buat gue. Sumber percaya kalau gue pasti akan bisa baik-baik saja, dan ada orang yang masih mau menemani gue menjalani hari.

Yah, meski ternyata itu fatamorgana.

Sekarang gue malah menjadi makin tidak menyukai foto. Sebab bagaimana pun, foto menampilkan sesuatu yang palsu. Entah palsunya di saat foto itu diambil, atau di kemudian hari saat semuanya berubah. Kenangan yang dianggap indah itu tidak akan pernah jadi benar-benar indah. Dan daripada mengambil risiko untuk sakit hati pada sejumlah foto (beserta objek dan momen di dalamnya), lebih baik tak perlu mengabadikannya.

Semua orang akan berubah. Semua momen akan berlalu. Semua akan dilupakan.

Kesimpulannya? Sejauh ini, ternyata memang tidak ada yang benar-benar berarti.