Kamis, Agustus 25, 2016

Senin, Agustus 22, 2016

Merasa Gagal

Katanya, setiap orang punya jatah gagalnya masing-masing. Jadi, bila Anda saat ini sedang mengalami kegagalan, jangan putus semangat. Sebaliknya, bersyukurlah, sebab jatah gagal Anda jadi berkurang.

Yah, katanya sih begitu.

Sejujurnya, buat saya pribadi (tanpa bermaksud sombong sedikit pun), pemikiran seperti itu justru mengerikan. Sebab, selama hampir 22 tahun hidup, saya merasa tidak pernah mengalami kegagalan. Makanya, waktu sidang proposal skripsi di bulan April kemarin, saya sedikit ketar-ketir karena takut, "Bisa jadi ini adalah waktunya gue gagal."

Saya pun tidak merasa sudah mencapai kesuksesan apa pun kok. Bisa dibilang, saya hanya "lolos". Lolos masuk sekolah pilihan pertama saat SMP. Lolos masuk SMA yang bikin banyak kenangan bahagia di dalamnya. Lolos masuk kampus pilihan pertama. Lolos tes masuk ke organisasi yang saya inginkan. Lolos tes masuk ke tempat kerja yang punya suasana menyenangkan. Sederhananya begitu.

Lalu saya berpikir ulang--barangkali saya memang merasa tidak pernah gagal karena, yah, saya tidak punya goal. Meski pun saya pikir hidup saya lurus-lurus saja tanpa kegagalan, orang lain belum tentu berpikir demikian. Waktu masuk SMA, saya tidak punya goal yang cukup kuat untuk saya tuju, sehingga masuk SMA mana pun bukan masalah buat saya. Saya banyak dianggap 'gagal' kok karena tidak masuk SMA unggulan, tapi saya bahagia selama bersekolah di sana, jadi saya tidak merasa gagal.

Entah sejak kapan, saya berubah menjadi orang yang tidak kompetitif. Saya sangat tidak suka bersaing, dan buruknya, saya pun menjadi kurang berusaha ketika hendak menghadapi sesuatu. Saya tidak mengeluarkan potensi semaksimal mungkin, saya berhenti bertumbuh. Dan ini buruk. Ini adalah akibat saya tidak pernah merasakan kecewa akibat kegagalan.

Saya berpikir untuk membuat goal, saya ingin mengejar sesuatu dan benar-benar berupaya dalam mencapainya. Buruknya lagi, saya yang terbiasa tidak merasakan gagal justru malah jadi takut akan mencapai waktu untuk mencoba apa itu kegagalan.

"Jadi, lo nggak pernah ditolak?" kalau ada di antara Anda yang bertanya begitu, saya pernah kok ditolak. Tapi saya tidak pernah merasa kecewa atau gagal, saya hanya berpikir bahwa itu berarti memang bukan tempat saya. Tidak masalah. Tidak ada sedih berlarut. Apakah sikap saya baik? Iya, baik, tapi berakhir jadi jelek karena saya malah jadi tidak introspeksi diri.

Apakah saya pernah puas atas sesuatu? Ini dia. Akibat lain dari tidak merasa gagal itu, saya jadi tidak pernah puas atas sesuatu. Semua terasa biasa saja. Seolah, memang begitulah seharusnya. Saya hidup di air mengalir, tapi setidaknya, saya yang memilih sendiri di mana hulunya. Bila tiba di hilir, berarti waktunya mendapatkan hulu baru, yang akhirnya saya percaya, Tuhan sediakan khusus untuk saya.

Duh, ini kok tulisannya terasa berantakan banget, ya? Kesimpulannya begini; jangan jadi seperti saya. Ambil baiknya saja. Akui kegagalan yang dimiliki, bersedihlah, namun introspeksi. Jadikan gagal itu sebagai awal yang baru, sebagai refleksi agar Anda tahu hal-hal yang dapat membuat jantung Anda berdegup kencang karena rasa senang.

Sungguh, karena absen dari rasa gagal ini, rasanya malah sulit untuk merasa puas atau senang. Semua memang harus seimbang ya, ternyata? Yah, memang kita tidak akan tahu apa itu kenyang kalau belum pernah lapar, bukan?

Terima kasih sudah membaca. Mohon maklumi tata tulisan yang berantakan, mengingat saya baru mulai menulis seperti ini lagi. Selamat tengah malam!

Minggu, Agustus 21, 2016

Cek Ombak

Wah. Sudah jarang ngeblog ya, ternyata. Pun menulis, isinya kebanyakan puisi yang mungkin sulit dipahami orang lain. Gue agak canggung sekarang ini kalau menulis seperti ini, entah kenapa. Tapi, malam ini gue mau mencoba membiarkan jari gue menari di atas keyboard, menuang apa yang sedang gue pikirkan.

Memangnya gue lagi mikirin apa, sih? Sebenarnya gue pun juga bingung. Ada banyak hal yang ingin gue bicarakan, tapi malah jadi sulit disampaikan setelah tiba di sini. Gue mau membahas perspektif dan kegamangan gue perihal kegagalan, keadaan rumah saat ini, justifikasi gue yang sudah tidak valid lagi setelah beberapa waktu lalu pergi ke psikolog, dan lain-lain. Semakin ekstrovert diri gue, sepertinya makin sulit juga gue menumpahkan perasaan dan pikiran secara gamblang di sini.

Rasanya agak sedikit sedih, terlebih kalau ingat bagaimana gue menerima pesan-pesan dari orang yang nggak gue kenal soal tulisan gue yang membantu mereka terinspirasi atau punya perspektif baru. Gue tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah "percaya" sama gue, sayangnya gue makin ke sini malah menunjukkan perubahan yang (mungkin) tidak berarti.

Nulis cuma kalau galau. Nggak mau olah otak, menulis logika yang waras ketika lagi pusing. Kalau boleh jujur, sekarang ini gue cukup mumet dengan keadaan sekitar yang tidak menyenangkan. Ada wacana-wacana dan garis merah di antaranya yang sudah gue susun sedemikian rupa, tinggal ditulis agar bisa membantu siapa pun yang barangkali sedang di kondisi serupa. Sedihnya, gue terlalu egois, dan malah asal cuap seperti sekarang ini.

Eh, atau bisa jadi juga, ini adalah bentuk perkembangan jiwa gue untuk tidak terlalu "banyak bicara", utamanya dengan terlalu gamblang, di media publik seperti ini. Ketika gue masih sekolah dulu, banyak tulisan gue yang benar-benar nggak bertanggung jawab, banyak emosi, dan nggak sadar diri. Karena sekarang gue nggak seberapi-api itu lagi, gue jadi kesulitan menulis.

Yah, sepertinya solusinya adalah gue harus mulai menemukan cara menulis baru, yang sesuai dengan usia gue sekarang. Masa sudah 8 tahun punya blog ini, cara nulisnya nggak ada perkembangan? Gue nggak bisa terus jadi anak-anak, kan?

Untuk sementara, cukup sampai di sini saja, deh. Gue akan berusaha esok hari untuk bisa menulis lebih baik. Dan untuk pembaca yang setia selama 8 tahun ini, terima kasih! Gue bukan apa-apa kalau nggak ada komentar membangun kalian, pesan-pesan lewat email atau Askfm yang positif, dan lain-lain. Semoga suatu saat kita bisa ketemu, ya!

Selamat malam, dan terima kasih sudah membaca tulisan ngalor ngidul ini.