Jumat, April 10, 2015

Senin, April 06, 2015

Cyberbullying; Batal Basi

Beberapa orang merasa cyberbullying atau penindasan di dunia maya sudah jadi topik membosankan. Salah satunya, dibuktikan dengan ditolaknya judul terkait ini pada saat saya mengambil kelas Latihan Penelitian Kriminologi di semester lalu (loh kok malah curhat). Ya, barangkali waktu itu memang fokus penelitiannya kurang menarik. Tapi, sungguh, cuberbullying tidak ada basinya, mengingat bentuknya yang makin lama berubah dan 'sulit terdeteksi'.

Saya adalah pengguna media sosial Askfm. Bahkan cenderung lebih aktif di sana, untuk saat ini. Lewat media sosial itu, saya lebih banyak dan lebih mudah menemukan hal-hal 'luar biasa' dibanding di Twitter. Tentu saja, semisal adalah cyberbullying.

Penindasan yang terjadi di Askfm ini mengalami peningkatan daripada yang terjadi di Twitter. Selain karena fitur anonimnya, Askfm punya keunikan tersendiri dalam tampilan timeline mereka. Bila segala retweet yang dibuat di Twitter akan muncul sebagai bagian dari timeline penggunanya, Askfm tidak demikian. Setiap konten yang disukai (ditandai dengan love) hanya akan muncul di dinding pengikut orang yang menyukai konten tersebut. Tidak masuk ke profil orang yang menyukainya. Kadang kala, kita juga tidak mengetahui siapa yang menyukai suatu konten, apabila konten tersebut telah banyak yang suka.

Beberapa waktu lalu, ada satu pertanyaan anonim yang menyebar di banyak akun Askfm. Bahkan, rata-rata dikirim kepada 'seleb Askfm' (orang-orang yang terkenal di ranah Askfm). Kurang lebih, isinya menanyakan tentang kondisi satu akun yang baru melejit namanya, sebut saja akun C. Pertanyaan itu bilang, apakah menyukai jawaban-jawaban akun C adalah bentuk cyberbullying? Sebab, akun C ini cukup nyentrik dan menarik perhatian orang.

Saya memang tidak membaca seluruh jawaban akan pertanyaan tersebut. Namun, yang muncul di dinding saya adalah, "Tidak". Menyukai jawaban akun C bukanlah bentuk cyberbullying, apa-apa jangan dianggap terlalu serius karena Askfm hanyalah sekadar media sosial, dan bila tidak mau diperlakukan seperti itu, maka jangan memancing orang untuk melakukannya. Kurang lebih, meski mungkin tidak semuanya, ada suara-suara yang menyebutkan pendapat seperti itu. Bukan hanya dari mereka yang disebut seleb Askfm, tapi juga teman-teman saya di dunia nyata. Entah seberapa sering ada pembicaraan mengenai satu akun yang katanya 'lucu sekali'. Dan, tentu saja, lucu bukan dalam arti yang sejalan dengan Raditya Dika.

Barangkali ini adalah sensi pribadi saya saja. Tidak perlu ditelan mentah. Menurut saya, cyberbullying itu tidak melulu berbentuk pertanyaan anonim penuh benci dan hinaan. Bisa juga dengan bentuk nyinyir--eh, tapi itu bukan kata yang tepat. Misalnya dengan mengomentari akun lain, "Duh, gue sih nggak ada apa-apanya. Gue kan miskin, jelek, nggak kayak dia. Tuh lihat saja gayanya yang keren banget itu. (lengkap dengan foto pengguna akun yang dibicarakan)"

Di Askfm, sejauh yang saya lihat, banyak orang yang menderita narcissistic personality disorder, bahkan beberapa ada yang memiliki histrionic personality disorder. Karena saya tidak begitu paham yang kedua, dan pribadi narsis lebih umum diketahui, jadi saya akan bahas yang itu saja di sini.

Ya, jadi, ada banyak orang yang memiliki 'sakit' narsis dalam dunia Askfm. Tanpa perlu dijelaskan, pasti ada nama-nama yang berputar di kepala Anda (atau teman Anda yang rajin main Askfm). Secara sederhana, narsisistik ditandai dengan kepemilikan rasa self-importance yang muluk; sibuk berfantasi tentang kesuksesan, kecantikan, kekayaan, atau kemampuan lainnya yang tidak terbatas; percaya bahwa dirinya unik dan spesial, dan hanya bisa dimengerti oleh mereka yang berasal dari status sosial yang sama tingginya; mencari perhatian berlebih; merasa berhak atas sesuatunya; hubungan interpersonalnya bersifat eksploitatif; kurang memiliki empati; sering merasa iri atau percaya orang lain iri dengannya; serta berlaku angkuh dan arogan. Nah, siapa yang ada di kepala Anda sekarang? Hehe.

Ini adalah bentuk gangguan kepribadian. Yang anehnya, di dunia Askfm, dijadikan bahan perbincangan menarik. Bukan untuk dieksplorasi tentunya, tapi untuk dijadikan bahan hiburan. Mungkin kata "cyberbullying" terasa terlalu kasar, jadi mari disebut sebagai penghibur saja.

Padahal, gangguan kepribadian seperti ini umumnya berasal dari kekhawatiran atas terungkapnya ketidaksempurnaan atau kekurangan yang dimiliki. Narsis juga bisa timbul sebagai respon atas stres yang dialami (marah, cemas, kecewa). Tapi, orang menanggapinya dengan cara berbeda. Beberapa, menjadikannya sebagai bahan hiburan.

Ketika kita bersifat baik dan suportif kepada orang yang menderita obsessive-compulsive personality disorder, kenapa tidak melakukan hal yang sama kepada mereka dengan narcissistic personality disorder? Ada banyak bentuk respon terhadap rasa tertekan, dan bila seseorang berubah jadi narsis, apa artinya mereka bisa diperlakukan sebagai bahan tertawaan? Buat saya, pribadi saja, menjadikan orang lain bahan tertawaan hanya karena dirinya berbeda (dan tentunya mengajak orang lain secara langsung atau tidak langsung untuk turut menertawakannya) adalah bentuk penindasan. Dan ini banyak terjadi di Askfm. Lewat 'suka' yang diberikan pada jawaban-jawaban eksentrik mereka. Lewat komentar sarkas berisi pemujaan terhadap mereka.

Mungkin saya memang kurang menikmati hidup, seperti pendapat orang-orang lain yang berbeda dengan saya. Tapi, ayolah.. Apa serunya membuat terkenal orang dengan kepribadian terganggu? Hiburan? Kenapa malah Anda 'yang tidak terganggu', yang kehilangan simpati--bahkan empati?

Tidak ada kewajiban, tentunya, bagi Anda membantu proses penyembuhan mereka. Cukup jangan tertawakan. Bukan keinginannya juga untuk merasakan gangguan seperti itu. Cyberbullying, pada akhirnya batal basi karena orang-orang makin 'kreatif' memilih cara menindas.

Rasanya tulisan ini sudah terlalu panjang, ya? Setidaknya, saya sudah menyampaikan apa maksud saya. Kalau begitu, cukup sampai di sini. Semoga bisa dimengerti. Terima kasih sudah membaca. Maaf terlalu sederhana.

Rabu, Maret 18, 2015

Perceraian

Perceraian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perpisahan; perihal bercerai (antara suami istri); atau perpecahan. Salah seorang guru saya waktu SMA, punya teori menarik tentang hal ini. Kami berdiskusi dan mencapai kesimpulan yang setidaknya, dapat sama-sama kami terima.

(Sebelum meneruskan membaca, tolong jangan kaitkan ini dengan satu sudut pandang agama tertentu. Karena ini keluar dari ‘kebijakan’ agama, meski melibatkan ‘Tuhan’ di dalamnya.)

“Perceraian itu perbuatan yang tidak disukai Tuhan,” kata guru saya. “Sebab perceraian itu dibuat oleh manusia sendiri,” lanjutnya.

Jodoh bukan perihal siapa menikahi siapa. Tapi masalah pertemuan. Anda bisa menemukan saya lewat blog ini, artinya Anda jodoh dengan saya. Saya bertemu dengan guru saya, juga satu contoh jodoh. Jodoh adalah pertemuan—terserah berikutnya mau menjadi hubungan yang seperti apa.

Perceraian itu bukan berarti jodohnya sudah habis. Istilah ‘jodohnya sudah habis’ pun tidak ada, harusnya. Karena bertemu lewat hati dan mimpi pun, bisa dikatakan jodoh. Demikian pula ketika seseorang mengirimkan doa.

Lalu, kenapa tidak disukai? “Tuhan cuma sebatas menjodohkan (mempertemukan) seseorang dengan seseorang yang lain. Untuk berikutnya menikah, itu urusan mereka. Merekalah yang memilih. Orang barangkali sulit memilih mau jatuh cinta dengan siapa, tapi seyogyanya mereka yang mampu memutuskan mau menikahi siapa,” kata guru saya.

Maksud guru saya, ketika Andalah yang memutuskan untuk menikahi seseorang, lalu kamu sendiri yang memutuskan untuk berpisah, kemunafikan macam itulah yang tidak disukai Tuhan. Beliau tambahkan, Tuhan minta manusia untuk menjaga dan memelihara dirinya. Menurutnya, maksud Tuhan menyampaikan itu adalah agar manusia menjaga dirinya dari hal-hal yang buruk, memelihara diri agar tetap bahagia, dengan cara hati-hati dalam memilih. Banyak belajar, banyak mengenal, tidak buta oleh fatamorgana.

Jadi, ketika kita dipertemukan dengan seseorang, jagalah diri kita. Jangan terbuai pandangan dan kata-kata. Jaga dan pelihara diri dengan mengenalnya lebih jauh, mencari tahu, dan lain-lain. Tentu, sebagai bahan pertimbangan nanti.

Namun, tentu saja Tuhan punya perhitungannya sendiri atas ketidaksukaannya itu. Tidak berlaku secara general juga. Mau bilang apa kalau pernikahannya dipaksa, tidak ada pilihan lagi, dan alasan-alasan lainnya?

Kesimpulannya, jagalah diri dengan hati-hati dalam memilih. Sebab pada akhirnya, manusialah yang bertanggung jawab atas pilihannya. Pertemuan memang diatur Tuhan. Tapi kitalah yang berjuang untuk menentukan bagaimana kisah berikutnya antara kita dan salah satu jodoh kita.

Terima kasih sudah membaca.