Rabu, Maret 18, 2015

Perceraian

Perceraian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perpisahan; perihal bercerai (antara suami istri); atau perpecahan. Salah seorang guru saya waktu SMA, punya teori menarik tentang hal ini. Kami berdiskusi dan mencapai kesimpulan yang setidaknya, dapat sama-sama kami terima.

(Sebelum meneruskan membaca, tolong jangan kaitkan ini dengan satu sudut pandang agama tertentu. Karena ini keluar dari ‘kebijakan’ agama, meski melibatkan ‘Tuhan’ di dalamnya.)

“Perceraian itu perbuatan yang tidak disukai Tuhan,” kata guru saya. “Sebab perceraian itu dibuat oleh manusia sendiri,” lanjutnya.

Jodoh bukan perihal siapa menikahi siapa. Tapi masalah pertemuan. Anda bisa menemukan saya lewat blog ini, artinya Anda jodoh dengan saya. Saya bertemu dengan guru saya, juga satu contoh jodoh. Jodoh adalah pertemuan—terserah berikutnya mau menjadi hubungan yang seperti apa.

Perceraian itu bukan berarti jodohnya sudah habis. Istilah ‘jodohnya sudah habis’ pun tidak ada, harusnya. Karena bertemu lewat hati dan mimpi pun, bisa dikatakan jodoh. Demikian pula ketika seseorang mengirimkan doa.

Lalu, kenapa tidak disukai? “Tuhan cuma sebatas menjodohkan (mempertemukan) seseorang dengan seseorang yang lain. Untuk berikutnya menikah, itu urusan mereka. Merekalah yang memilih. Orang barangkali sulit memilih mau jatuh cinta dengan siapa, tapi seyogyanya mereka yang mampu memutuskan mau menikahi siapa,” kata guru saya.

Maksud guru saya, ketika Andalah yang memutuskan untuk menikahi seseorang, lalu kamu sendiri yang memutuskan untuk berpisah, kemunafikan macam itulah yang tidak disukai Tuhan. Beliau tambahkan, Tuhan minta manusia untuk menjaga dan memelihara dirinya. Menurutnya, maksud Tuhan menyampaikan itu adalah agar manusia menjaga dirinya dari hal-hal yang buruk, memelihara diri agar tetap bahagia, dengan cara hati-hati dalam memilih. Banyak belajar, banyak mengenal, tidak buta oleh fatamorgana.

Jadi, ketika kita dipertemukan dengan seseorang, jagalah diri kita. Jangan terbuai pandangan dan kata-kata. Jaga dan pelihara diri dengan mengenalnya lebih jauh, mencari tahu, dan lain-lain. Tentu, sebagai bahan pertimbangan nanti.

Namun, tentu saja Tuhan punya perhitungannya sendiri atas ketidaksukaannya itu. Tidak berlaku secara general juga. Mau bilang apa kalau pernikahannya dipaksa, tidak ada pilihan lagi, dan alasan-alasan lainnya?

Kesimpulannya, jagalah diri dengan hati-hati dalam memilih. Sebab pada akhirnya, manusialah yang bertanggung jawab atas pilihannya. Pertemuan memang diatur Tuhan. Tapi kitalah yang berjuang untuk menentukan bagaimana kisah berikutnya antara kita dan salah satu jodoh kita.

Terima kasih sudah membaca.

Rabu, Maret 11, 2015

Tentang Kepergian

Apa bagian terburuk dari menghadapi kematian? Buatku, jawabannya adalah menghadapi kenyataan bahwa orang itu pernah hidup. Matanya pernah bertemu dengan mata kita, suaranya pernah saling bersahutan, dan pikirannya pernah saling bertukar.

Menulisnya saja terasa sakit.

Rindu yang paling sakit adalah rasa rindu terhadap sesuatu yang tidak bisa kita jumpai lagi. Karenanya, bila kamu rindu seseorang, sampaikanlah padanya. Jangan kepentok gengsi, apa lagi malu. Kita tidak pernah tahu, sampai kapan seseorang bisa memberikan jawaban atas rasa rindu yang kita rasakan.

Dalam waktu tidak sampai enam bulan, aku kehilangan dua orang baik dalam hidupku. Pertama, di bulan November. Sosok kakak, tante, dan bos yang membuat aku percaya, aku bisa menulis, dan suatu saat akan jadi wartawan yang handal. Menangani isu anak-anak muda sepertinya, dan mengajarkan anak-anak kecil untuk menulis selayaknya jurnalis.

Aku mengenalnya di pertengahan April, tahun 2010. Aku menulis artikel pertamaku untuk koran nasional, yang membahas tentang Hari Buku Sedunia. Sampai kini pun, aku masih menyimpan artikelnya.

Berangkat dari sana, aku pun menjadi dekat. Aku menjadi senjatanya kalau-kalau kekurangan artikel, atau punya topik seru namun kesulitan dapat wartawan. Waktu magang di sana pun, beliau mengurusku dengan baik. Mengajakku makan, rapat, dan mempromosikan aku di depan teman-temannya. Kami banyak bercerita. Ia pernah memintaku meramalnya. Dari situ, kami jadi tambah dekat. Ia bercerita tentang kehidupannya yang tak mudah, tapi semangat selalu terpancar dari matanya. Ia adalah orang yang baik. Selalu, dan selamanya.

Kedua, baru saja kurasakan dua hari lalu. Seorang teman sebangku waktu masih di Sekolah Dasar. Teman bermain dan bertengkar. Teman gokil-gokilan. Aku adalah anak perempuan yang tomboy waktu itu, sehingga terkadang aku bermain ke rumahnya bersama teman-teman lelaki yang lain.

Ia memang telah sakit sejak saat itu. Tapi semangat hidupnya tidak pernah kalah. Ia masih menjalankan hobinya, bermain bola, meski orang-orang berpikir ia sangat bebal dan tidak tahu diajar. Ia usil sekali, termasuk anak yang dikategorikan nakal oleh guru, namun kita tahu bahwa sebenarnya ia baik dan menyayangi orang-orang di sekitarnya. Ia hanya mau merasakan hidup selagi mampu berlari dengan bebas.

Karenanya, di saat bertemu lagi, nanti kita akan dikejar anjing bersama-sama lagi, ya? Terima kasih karena telah menjadi orang yang selalu ingat ulang tahunku. Mengucapkannya dengan hangat, dan memanggilku dengan sebutan sahabat. Dari sini, aku mengirimkan doa.

Aku tahu, kini mereka berdua sudah tidak lagi sakit. Egoisku meminta agar mereka tetap hidup, namun berubah sembuh, sehat, dan tidak sakit-sakit lagi. Namun, Tuhan adalah pengatur segalanya, dan aku hanya manusia yang lupa bersyukur atas keberadaan saat mereka masih bisa bicara.

Aku ingin kalian mencapai kebaikan yang sempurna sekarang. Tanpa luka dan perasaan sedih. Hanya mendengar doa-doa penuh kebaikan dan ketulusan, yang bercerita tentang rindu dan rasa bersyukur telah dipertemukan dengan kalian.

Selamat jalan, kak Dipi dan Wiby. Kalian hidup dan terus hidup, karena gores kenangan tentangmu tak berhenti untuk kuingat kembali. Doaku agar kalian tiba pada sisi Tuhan dengan selamat, tenteram, dan mendapat sejatinya bahagia. Tak perlu pikirkan lagi urusan dunia. Dan yang kalian tinggalkan, semoga bisa dengan tenang diawasi dengan kehangatanmu yang terus terderai di sini.

Aku merindu dan akan merindu.

Sungguh-sungguh Terima Kasih

Jam 2 lewat 4 menit.

Yang ada di pikiran saya sekarang, pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih pada Tuhan. Pada Semesta Alam yang telah mengizinkan saya memiliki kehidupan yang luar biasa. Tentu, karena orang-orang yang luar biasa pula di dalamnya.

“Apa hal paling membanggakan dari diri lo?” suatu saat, saya dan seorang teman bertukar tanya tentang hal tersebut. Saya jawab, “Bagaimana gue memilih teman.”

Bukan maksudnya bangga pilih-pilih teman. Saya nggak pilih-pilih dalam arti ‘maunya berteman sama yang ini’ atau ‘nggak mau berteman sama yang itu’. Tapi karena gue bisa berhati-hati dalam menentukan, siapa masuk kategori mana.

Sok sih, memang. Tapi karena itu, saya jadi bisa hidup seperti sekarang. Kalau nggak ada mereka, saya nggak tahu nasib saya bagaimana. Jujur saja. Mungkin saya akan berakhir menjadi perempuan berpikiran sempit yang suka mengintimidasi orang lain karena dirinya ‘berbeda’ dibanding saya.

Saya bangga dan senang sekali, bisa punya teman-teman yang bukan hanya bisa diajak bermain. Namun tempat agar saya mampu menjadi diri sendiri, dan bicara tanpa perlu memikirkan hal remeh seperti, “Habis ini gue diomongin nggak ya?” Terlepas dari akan dibicarakan atau tidak, saya tahu, mereka tetap menerima saya apa adanya.

Lewat teman-teman ini, mata saya terbuka. Pengetahuan dan sudut pandang bertambah. Saya tahu bisa mengandalkan mereka dalam hal mencari kesenangan yang sehat, pendapat, dan rasa disayangi. Saya tahu di mana posisi saya, sehingga tidak perlu terbawa perasaan, dan karena itulah, segalanya selalu jadi baik-baik saja.

Seorang teman pernah bilang, “Lo itu nggak bisa dikategorikan.”

Saya tidak punya peer group. Saya bermain dari satu kelompok ke kelompok yang lain, dari satu orang ke orang yang lain. Meski ada orang yang berpikir saya tidak punya teman, nyatanya tidak demikian. Saya tidak percaya pada persahabat yang digembar-gemborkan, makanya saya menyimpan mereka dalam hati, dalam doa, dalam tulisan.

Mendengar kisah-kisah tentang orang yang tidak bisa bangkit dari kesedihannya, terlebih karena sekelilingnya tidak mampu mengayominya, membuat saya merasa bersyukur atas kehadiran teman-teman saya sekarang. Teman yang mampu membuat saya percaya bahwa saya hidup dan saya adalah manusia, ketika saya bersama mereka.

Di sini, saya tidak bisa menyebutkannya satu persatu. Meski rasanya ingin, tapi saya takut ada hati yang terluka. Hehe. Kalau mau bongkar-bongkar, bisa kok ditemukan siapa-siapa saja orang yang saya bahas dalam tulisan ini.

Saya benar-benar bersyukur, bisa mengenal dan menjalin hubungan dengan teman-teman yang hebat dan luar biasa. Yang ada saat saya butuh, yang tidak hilang hanya karena jarang kontak, dan melihat saya sebagai saya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.

Meski beberapa di antara mereka saat ini sudah mulai masuk ke fase hidup yang baru, yaitu hidup untuk masa depan diri dan pasangannya, saya tidak apa-apa. Saya tahu batasnya. Dan bila waktunya tiba, sebagai teman, saya tentunya akan turut berbahagia.

Terima kasih karena kehadiran kalian. Terima kasih karena Tuhan begitu baik untuk menjodohkan kita di dunia yang mengerikan ini.

Terima kasih atas kesediaannya mengenal saya. Mendengar ketika saya bicara. Berbicara banyak hal pada saya. Mempercayai saya. Menyukai keberadaan saya. Mencari kenihilan saya. Melihat saya yang sesungguhnya. Menerima saya. Menghabiskan waktu bersama saya. Memikirkan saya. Merindukan saya. Menanyakan kabar. Membuat janji jumpa. Dan tentunya, menjadi seseorang yang baik untuk saya. Tidak membiarkan saya buta dan tersesat, sebab kalian akan menyadarkan kesalahan saya dengan cara kalian masing-masing.

Terima kasih karena telah ada. Saya sayang kalian dan selalu berharap kebaikan menyertai kita semua.