Selasa, Februari 02, 2016

Rabu, Januari 20, 2016

Lambat Waktu

“Kamu tahu kapan waktu terasa berjalan lambat sekali?” tanya bang Ali padaku. Kami tengah memerhatikan jalan dari ketinggian lantai 15 suatu gedung yang tak terlalu kuingat namanya. Meski sudah berkali-kali ke sini, aku cuma menyebutnya Gedung Abu, karena warnanya abu-abu. Bang Ali pun demikian, menyebut tempat ini Gedung Abu. Ingat namanya pun tak penting, sebab ini akan jadi kali terakhir aku datang ke tempat ini—ke Gedung Abu, ke lantai 15.

Aku menjawab pertanyaan bang Ali dengan gelengan kepala. Bang Ali memintaku berpikir dulu sebelum menyerah. Aku bukannya menyerah, tapi aku tahu jawabanku pasti salah di matanya. Bang Ali sudah punya jawabannya sendiri yang tak terpikirkan dalam kepalaku. Jadi, buat apa susah-susah berpikir lagi? Namun begitu, aku tetap mencoba menjawab: “Saat menunggu? Saat berduka?”

“Hmm..,” bang Ali memanyunkan bibirnya, barangkali setengah mencibirku. Kemudian ia katakan, “Waktu itu berjalan sangat lambat ketika sekelompok manusia kebingungan dalam kebersamaan mereka. Tidak tahu apa yang tengah dipikirkan, karena terlanjur terkejut dengan kejutan yang datangnya dadakan.”

Ah, dasar sok filosofis memang bang Ali ini. Di tim besar, cuma aku yang bisa tahan dengan ocehannya.

“Seperti orang-orang di bawah itu, Yo. Kalau kamu ada di sana sekarang dan tak paham apa-apa, waktu pasti terasa lambaaat banget. Tapi untunglah kamu bukan termasuk orang-orang yang bingung. Kan, kamu sudah dibantu lebih dulu dengan bergabung bersamaku dan teman-teman lain. Kamu tidak perlu merasakan kehampaan waktu seperti mereka,” tambah bang Ali yang semakin serius memerhatikan orang-orang di jalanan sana.

Orang-orang itu kocar-kacir. Awalnya berlari, namun berikutnya berjalan lunglai dan kebingungan. Mereka menyebar ke penjuru yang paling dekat dan terasa bisa membuat mereka aman. Sayangnya, berpikir sepositif apa pun, rasa khawatir tetap memburu sukma mereka. Akibatnya, suara tak bisa mereka terima dengan baik. Pandangan kabur. Mereka tenggalam dalam dimensi kehidupan yang hanya diisi diri mereka sendiri dan pikiran tentang orang yang mereka cintai. Tersadar bila bertubrukan dengan orang lain.

Kamu tahu, seperti dalam film. Adegan berjalan slow motion, tanpa suara, detail, lalu kembali normal dengan dirongrong oleh bunyi tembakan.

Dor! Dor! Dor!

“Ayo, Yo,” ujar bang Ali. “Sudah selesai. Misi kita sudah selesai. Teman-temanmu mengerjakannya dengan baik. Suatu saat, kamu yang akan jadi pahlawan seperti mereka—mati terhormat demi agama.”

Selasa, Desember 29, 2015