Selasa, Februari 28, 2017

Seni Berbohong (Pada Diri Sendiri)

Gue pikir, semua orang berbohong pada dirinya sendiri. Yang membedakan adalah seberapa besar taruhan masing-masing orang untuk tetap berani memberi makan ego dari kebohongan tersebut. Tentu saja, semakin besar taruhannya, semakin besar pula risiko dari kekahalan yang mungkin diterima. Dan menurut gue, orang-orang yang bertaruh paling besar adalah orang-orang optimis.

Orang-orang berbohong pada dirinya sendiri karena menghindari rasa kecewa. Baik terhadap diri sendiri atau orang lain. Setiap hal yang pernah terjadi menghasilkan presepsi diri, dan yang akan terjadi menimbulkan ekspektasi. Untuk menghilangkan kekecewaan pada dua hal itu, diperlukan kebohongan.

Mereka yang optimis mengupayakan keadaan agar terlihat baik. Bilang berulang bahwa pasti bisa, tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, dan lain-lain. Inilah mengapa dikatakan punya taruhan paling besar--bila kebohongan itu selamanya jadi kebohongan saja, ada rasa kecewa yang perlu ditemui saat sadar tidak ada mantranya yang nyata.

Dan lucunya, "kebohongan" ini punya sosok lain dengan nama yang lebih cantik, yaitu "kepercayaan diri".

Bukan berarti percaya diri dan menjadi optimis itu hal yang buruk, kok. Hanya saja, ada batas yang perlu dihargai agar menjaga segala kebohongan itu tetap sehat. Bukannya malah berbalik jadi senjata makan tuan. Saat kebohongan yang lo buat itu perlahan-lahan berpengaruh pada cara lo mengambil keputusan, maka hentikanlah. Jangan berbohong lebih dari satu langkah, dan berakhir lupa siapa diri lo sebenarnya.

Apa pun kebohongan pada diri sendiri yang lo bangun, bagaimana pun alasannya, jangan lupa juga untuk tetap jujur pada satu orang. Lo boleh ke sana-ke sini dengan identitas buatan itu, tapi setidaknya biarkan ada satu orang yang cukup lo percaya untuk tetap menjaga lo agar nggak hilang akal. Dengan begitu, sebesar apa pun taruhan yang lo buat, setidaknya lo tahu ada yang siap "menampung" lo di kala lo kalah.

Gue sering bilang, "Fake it till you make it". Sebab, orang kan nggak tahu kapan kita sedang membohongi diri sendiri.Selama berbohong itu, ya cobalah buat kebohongan itu agar bisa jadi nyata. Yang penting, nggak ada rasa terpaksa atau nggak nyaman. Pleaselah, sudah bohong ke diri sendiri karena nggak mau kecewa, masa akhirnya masih harus merasa nggak enak juga? Buat apa berbohong dari awal, kalau begitu?

Intinya, pintar-pintarlah bikin taruhan.

Segala kebohongan itu sudah pasti taruhan kok. Kemungkinannya dua, ketahuan atau tidak ketahuan. Yang menyakitkan adalah bagaimana cara mempertahankannya, atau malah saat mencoba memenangkannya.

Gue menulis ini sebenarnya untuk mewanti. Mawaslah saat berbohong pada diri sendiri, serta di waktu lo mengambil keputusan yang berhubungan dengan kebohongan itu. Lo nggak tahu kapan ada orang lain yang mungkin muncul di hidup lo dan bisa melihat kebohongan itu. Bisa jadi dua--lawan atau kawan. Dan sungguh, di antara kedua itu, tidak seluruhnya buruk atau seluruhnya baik.

Semoga lo bisa hidup tanpa terlalu banyak membohongi diri sendiri, ya.

Terima kasih sudah membaca.

Selasa, Februari 21, 2017

Mas, Semoga Aku Selamat

Selamat malam, Mas.

Di sini sudah hampir pukul tiga pagi. Apakah kamu sedang melakukan sesuatu? Dulu, biasanya kamu tidur-tiduran sambil menghadap laptop. Mengerjakan tugas sambil memeluk guling putih yang kuyakin sebenarnya sudah minta ampun kotornya. Kita tak perlu bicara, yang penting saling lihat saja, lalu secara acak menyampaikan pemikiran masing-masing.

Entah itu soal aku yang lapar.
Kamu yang kelelahan.
Aku yang kehabisan akal.
Kamu yang dapat pesan.
Aku yang mulai meram.
Kamu yang mulai bosan.
Aku yang rindu.
Kamu yang rindu.

Sudah lebih setengah tahun kita tidak bicara, Mas. Beruntunglah aku masih hidup sampai sekarang. Masih utuh. Meski tenagaku habis. Uangku habis. Kesabaranku habis. Air mataku habis. Semata karena satu manusia yang sebelumnya pernah kamu ingatkan untuk jangan dilanjutkan lagi. Maaf, sungguh-sungguh minta maaf karena tidak kudengarkan. Kamu benar, sekarang aku selalu di bawah ancaman. Begitu jahatnya ia sampai di kala bersama, aku sering tak yakin dapat pulang dengan bernyawa.

Dan akhirnya, ingatan tentang kamulah yang selalu kembali menyelamatkan aku. Tentang masa kecil. Tentang masa remaja. Tentang beranjak dewasa. Tentang segala wacana dan peristiwa nyata yang ada. Seluruhnya sederhana, tidak ada yang istimewa atau "pecah" seperti kata anak-anak sekarang. Meski barangkali bertepuk sebelah tangan, tapi aku kepadamu adalah penyelesaian buncah emosi yang paling aman untuk kulakukan.

Berulang kali aku berbisik agar jangan melukai diri. Sebab sudah tidak tahan lagi, tidak mau lihat wajahnya lagi. Tapi aku berujung selamat bila memutar rekaman gerak dan suara kamu dalam kepalaku. Berubah tenang. Seperti percaya akan baik-baik saja. Pun tak ada jaminan kita akan bertemu kembali, aku tak keberatan.

Mas, apa kabar? Kapan pulang? Kalau boleh, aku ingin satu kota lagi. Siapa tahu tak sengaja berpapasan di jalan. Semoga masing-masing sendiri, agar aku bisa lepas tangisku yang sengaja di simpan demi momen sentimental bersamamu.

Sejak kecil, aku sudah menyusahkan. Terlalu manja dan sering meminta. Bisa jadi ini karmanya.

Jangan pergi jauh-jauh lagi, Mas.

Senin, Januari 23, 2017