Minggu, April 16, 2017

Next Phase

The worst part of growing up is knowing that you couldn't do any stupid thing any longer. You could do it, but you shouldn't, since you are already a grown-up, in legal age, have lot of responsibilities, and need to go through that so-called "adult life". The question is, what is "stupid thing" anyway? Isn't it all relative?

As a human, we do have our own bad habits. But what's bad for you may be something good to me. As long as we don't do it too much until we lost our control, everything, includes doing our bad habits, shouldn't be a problem. Such a selfish thinking, I know. I admit I'm currently seeking for a justification so I can throw away those "responsibilities" and do my bad habits.. just to keep myself sane.

Even write a post like this may harm my future career or life. Because for several companies, this probably shows how I look like a whiny little bitch, one with mental disorder, problematic, and so on. Although I just try to be a "human".

And someone will say, "Yes, but you are not a decent human being!"

My dear, I want to get out from this trap too, I don't want to do any of these shit. But they are easier to be reached, while you are not, and you may disappoint me while they won't. I'd rather hurt myself than letting you to hurt me, my dear, and in the end the bigger pain will cover the smaller one.

I just want to do that "one" habit,
again,
after 8 months.

Rabu, Maret 22, 2017

Give Myself a Year

I'm still thinking this is just a phase and I'll get through this. Something like "quarter life crisis," they say. I wonder if it's true and for how long I should suffer from this thing. Perhaps "suffer" is kinda too much, but I'm starting to get tired and the worst part is; I can't show it to anyone. It's not like I try to look happy infront of people, it's just my default setting and I can't change it even a bit. I also don't force it at all, I smile and laugh sincerely. Why? I can't even answer it myself. Grrh.

Have you ever asked yourself, "What did I do in my past life until I must live in my current life?"

Therefore, I decided to give myself a year to live to the fullest. Throw toxic people away, keep the good ones, create some good habits, wear every color I want, stop thinking to much about money, and get out from the comfort zones. Try something new. Publish a book. Also, be kind.

And if a year has passed but nothing changes, I could give myself a privilege to "finish" this phase.

Let's hope this is just a phase. Being a mediocre sucks, you know?

Selasa, Februari 28, 2017

Seni Berbohong (Pada Diri Sendiri)

Gue pikir, semua orang berbohong pada dirinya sendiri. Yang membedakan adalah seberapa besar taruhan masing-masing orang untuk tetap berani memberi makan ego dari kebohongan tersebut. Tentu saja, semakin besar taruhannya, semakin besar pula risiko dari kekahalan yang mungkin diterima. Dan menurut gue, orang-orang yang bertaruh paling besar adalah orang-orang optimis.

Orang-orang berbohong pada dirinya sendiri karena menghindari rasa kecewa. Baik terhadap diri sendiri atau orang lain. Setiap hal yang pernah terjadi menghasilkan presepsi diri, dan yang akan terjadi menimbulkan ekspektasi. Untuk menghilangkan kekecewaan pada dua hal itu, diperlukan kebohongan.

Mereka yang optimis mengupayakan keadaan agar terlihat baik. Bilang berulang bahwa pasti bisa, tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, dan lain-lain. Inilah mengapa dikatakan punya taruhan paling besar--bila kebohongan itu selamanya jadi kebohongan saja, ada rasa kecewa yang perlu ditemui saat sadar tidak ada mantranya yang nyata.

Dan lucunya, "kebohongan" ini punya sosok lain dengan nama yang lebih cantik, yaitu "kepercayaan diri".

Bukan berarti percaya diri dan menjadi optimis itu hal yang buruk, kok. Hanya saja, ada batas yang perlu dihargai agar menjaga segala kebohongan itu tetap sehat. Bukannya malah berbalik jadi senjata makan tuan. Saat kebohongan yang lo buat itu perlahan-lahan berpengaruh pada cara lo mengambil keputusan, maka hentikanlah. Jangan berbohong lebih dari satu langkah, dan berakhir lupa siapa diri lo sebenarnya.

Apa pun kebohongan pada diri sendiri yang lo bangun, bagaimana pun alasannya, jangan lupa juga untuk tetap jujur pada satu orang. Lo boleh ke sana-ke sini dengan identitas buatan itu, tapi setidaknya biarkan ada satu orang yang cukup lo percaya untuk tetap menjaga lo agar nggak hilang akal. Dengan begitu, sebesar apa pun taruhan yang lo buat, setidaknya lo tahu ada yang siap "menampung" lo di kala lo kalah.

Gue sering bilang, "Fake it till you make it". Sebab, orang kan nggak tahu kapan kita sedang membohongi diri sendiri.Selama berbohong itu, ya cobalah buat kebohongan itu agar bisa jadi nyata. Yang penting, nggak ada rasa terpaksa atau nggak nyaman. Pleaselah, sudah bohong ke diri sendiri karena nggak mau kecewa, masa akhirnya masih harus merasa nggak enak juga? Buat apa berbohong dari awal, kalau begitu?

Intinya, pintar-pintarlah bikin taruhan.

Segala kebohongan itu sudah pasti taruhan kok. Kemungkinannya dua, ketahuan atau tidak ketahuan. Yang menyakitkan adalah bagaimana cara mempertahankannya, atau malah saat mencoba memenangkannya.

Gue menulis ini sebenarnya untuk mewanti. Mawaslah saat berbohong pada diri sendiri, serta di waktu lo mengambil keputusan yang berhubungan dengan kebohongan itu. Lo nggak tahu kapan ada orang lain yang mungkin muncul di hidup lo dan bisa melihat kebohongan itu. Bisa jadi dua--lawan atau kawan. Dan sungguh, di antara kedua itu, tidak seluruhnya buruk atau seluruhnya baik.

Semoga lo bisa hidup tanpa terlalu banyak membohongi diri sendiri, ya.

Terima kasih sudah membaca.