Sabtu, Juli 04, 2015

Engeline dan Gadis Penjual Korek Api

Tahu dongeng berjudul Gadis Penjual Korek Api? Cerita karangan Christian Andersen ini pertama kali dipublikasi pada tahun 1845. Kebetulan, waktu kecil saya disuapi dengan satu koper buku cerita bergambar. Salah satunya, tentu adalah Gadis Penjual Korek Api. Barangkali anak-anak tahun 2000an tidak tahu tentang cerita ini (soalnya adik saya tidak tahu), jadi akan saya paparkan di bawah.

Di malam Natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota. Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api.

"Mau beli korek api? Ibu, belilah korek api ini."

"Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak." Tidak seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu.

Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, ia akan dipukuli oleh ayahnya. Ketika akan menyeberangi jalan, grek! Grek! Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya. "Hyaaa! Awaaas!" Gadis itu melompat karena terkejut. Pada saat itu, sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana. Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan. Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak laki-laki memungut sepatu itu lalu melarikan diri. "Wah, aku menemukan barang yang bagus!"

Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki. Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan. Sudah tidak bisa dijual lagi. Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan diterima dari ayahnya. Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan sangat lelahnya. Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah. Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.

Rumah itu dihangatkan oleh perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan Natal yang lezat. Gadis itu meneteskan air mata. "Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan Natal seperti ini." Dari jendela terlihat pohon Natal berkelip-kelip dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah. Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi.

Salju yang dingin terus turun. Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju. Perut terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak. Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan napasnya ke tangan. Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya. "Kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan sedikit terasa hangat." Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.

Crrrs. Lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat. "Oh, hangatnya." Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas. Pada saat api itu padam, tungku pemanas pun menghilang. Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua. Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan. Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat. "Wow! Kelihatannya enak." Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya. Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang. Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi. Crrrs!

Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon Natal yang besar. "Wow! Lebih indah daripada pohon Natal yang terlihat dari jendela tadi." Pada pohon Natal itu, terdapat banyak lilin yang bersinar. "Wah! Indah sekali!" Gadis itu tanpa sadar menjulurkannya tangannya, lalu korek api bergoyang tertiup angin. Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup. Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak.

Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih. "Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan, ya.. Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya." Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada Neneknya yang baik hati. Kemudian, gadis itu menyalakan sebatang lilin lagi. Lalu, di dalam cahaya api, muncul wujud Nenek yang dirindukannya. Sambil tersenyum, Nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu.

"Nenek!" Serasa mimpi gadis itu melompat ke dalam pelukan Nenek. "Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu." Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan Nenek yang disayanginya. "Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek." Pada saat itu, korek api yang dibakar anak itu padam. "Ah. Kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi.."

Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya. Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang hari. Nenek memeluk gadis itu dengan erat. Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit dengan perlahan-lahan.

"Nenek, kita mau pergi ke mana?"

"Ke tempat Tuhan berada."

Keduanya semakin lama semakin tinggi ke rah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, "Kalau sampai di surga, ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita." Gadis itu tertawa senang.

"Pagi harinya, orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju. "Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini. Cepat panggil dokter!"

Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu. Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata, "Kasihan kamu, Nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah." Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada Tuhan agar mereka berbuat ramah meski pun pada orang miskin.

Lalu, apa hubungannya dengan Engeline?

Beberapa minggu ini media sibuk bercerita tentang Engeline. Bagaimana sedih hidupnya, bagaimana sadis hidupnya berakhir. Tentu saja, selalu direkatkan dengan betapa kejam Margriet, ibu tiri Engeline. Dari yang saya lihat, semua media menyudutkan Margriet. Berharap dia dihukum mati kalau perlu, disebut gila, tidak berperasaan, dan lain-lain. Berkat media, masyarakat menuntut keadilan bagi Engeline.

Apakah menuntut keadilan bagi Engeline itu salah? Tentu tidak. Siapa pun pelakunya, tentu harus dihukum dengan pasal yang seharusnya. Anggaplah Margriet memang pelakunya, maka Margriet pun memiliki hak untuk mendapat keadilan.

Keadilan seperti apa? Ya sederhana saja, dengan tidak terlalu bombastis memberitakan kasus Engeline ini. Sorot dan buka lebar-lebar sudut pandang lain, misalnya tentang bagaimana ayah kandung Engeline menjualnya saat bayi hanya dengan satu juta rupiah. Atau tentang bagaimana orang-orang di sekitar Engeline, seperti guru dan tetangga, yang mengaku melihat "ada yang aneh" tapi tidak melakukan apa-apa, mencari tahu, atau minimal melaporkan ke pihak berwenang. Sayangnya, media memutuskan untuk membingkai Margriet sebagai pelakunya.

Dalam Kriminologi, memang dipelajari bahwa perempuan dan anak merupakan bahan berita yang luar biasa menjual. Mungkin, itu bisa jadi alasan mengapa kasus Engeline ini lebih gila-gilaan diberitakan daripada kasus Emon, Babeh, Robot Gedek, atau bahkan JIS. Pelakunya perempuan, korbannya pun anak perempuan. Coba, memangnya saat pelaku JIS dihukum (hanya) 8 tahun penjara, media berkoar banyak soal itu? Tidak. Padahal korbannya masih hidup. Masih punya perjalanan panjang.

Lucunya, kasus Engeline, dari yang saya lihat, pada akhirnya malah terfokus hanya pada Engeline seorang. Padahal ada banyak "Engeline" yang masih hidup. Tahun 2009, Dirjen Yanresos Depsos RI saja melaporkan ada 17,649,000 anak balita yang ditelantarkan kok. Belum lagi kalau mau hitung yang diperdagangkan, dilacurkan, disiksa, dan mengalami penyalahgunaan lainnya.

Inilah kaitannya dengan kisah Gadis Penjual Korek Api. Sebelum mati, tidak ada yang peduli.

Rata-rata anak korban penyiksaan itu, dikenal dan diketahui keadaannya oleh orang di sekitarnya. Tapi dengan banyak alasan, mereka tidak melakukan apa pun. Ketika sudah mati, baru diberi penghormatan tertinggi. Mungkin takut digentayangi?

Barangkali, inilah mengapa "Gadis Penjual Korek Api" tidak punya nama. Ia hanya dikenal sebagai gadis penjual korek api. Bila ada namanya, seperti Engeline, maka semua orang hanya akan terfokus pada apa yang dialami olehnya. Melupakan yang masih hidup dan butuh pertolongan.

Misal saja, Koin untuk Engeline. Saya pikir maksudnya untuk menolong anak-anak yang mungkin bernasib sama dengan Engeline, tahunya untuk "menolong" keluarga Engeline? Lah, buat apa? Mereka sendiri yang jual anak mereka. Apa pun alasannya, tetap saja keluarga kandungnya yang memulai penderitaan Engeline.

Kesimpulannya, sudah, cukup. Cukup berita tentang Engeline. Tentang Margriet. Masih banyak Engeline yang lain, yang dilupakan, yang tidak diperhatikan. Karena tidak cantik, tidak mati dengan sadis, tidak punya keluarga tiri yang kaya, dan lain-lain. Sebenarnya, standar apa sih yang perlu dimiliki seorang anak korban penyalahgunaan, penyiksaan, pemerkosaan, dan sebagainya agar masyarakat menaruh perhatian besar pada mereka? Mati dulu seperti Engeline dan Gadis Penjual Korek Api? Entahlah.

Terima kasih sudah membaca. Semoga tidak pakai emosi. Menerima segala bentuk diskusi.

P.S.: Kalau ditanya, "Lalu, apa yang kamu tawarkan untuk mengatasi masalah seperti ini?" Buat saya, jawabannya satu: legalkan aborsi.

Rabu, Juli 01, 2015

"Jelek"

Apa perasaan Anda ketika seseorang bilang, "Ah, si (nama Anda) kan jelek"? Orang cuek macam saya pun tetap saja ada perasaan sakit hati. Bila perilaku saya yang jelek, maka saya paham saya salah. Tapi bila fisik saya yang jelek, maka saya harus bagaimana? Apakah itu salah saya juga?

Tersinggung dengan pendapat seperti itu adalah hal yang wajar. "Jelek" adalah kata yang kuat. Karena itu, jangan dilontarkan dengan semena-semena. Saya ingat beberapa waktu lalu, ketika saya bertanya pada seorang anak jurusan sebelah. "Eh, lo tahu XXX, nggak? Yang angkatan 2013," kata saya. Lalu dia bilang, "Iya kok tahu! Kenapa memangnya?" jawabnya. Saya jelaskan bahwa saya ingin berkenalan dengan anak itu. Sebab, ia lumayan disukai oleh seorang sahabat saya. Lagipula, karena anaknya manis dan nampak unik, saya pun jadi tertarik.

Setelah saya menyampaikan niat saya itu, teman saya bilang dengan nada bingung, "Serius? Dia kan nggak cantik..". Saya mendelik. "Eh, biasa saja maksudnya," jelasnya. Mungkin untuk memperhalus kata-kata sebelumnya.

Padahal, anak ini punya prestasi yang bagus. Aktif di kegiatan, dan mudah bergaul. Sayangnya, entah kenapa, komentar teman saya yang pertama kali timbul tentang ia adalah 'tidak cantik'. Sebagai sesama perempuan, buat saya, itu menyedihkan dan menyakitkan.

Bukan berarti laki-laki tidak memiliki standar ketampanannya sendiri. Kalau boleh egois sedikit, nyatanya laki-laki di lingkungan saya jauh lebih pemilih dari segi fisik, sementara yang perempuan masih bisa kompromi terhadap fisik laki-laki. Saya sendiri pun, beberapa waktu lalu menghabiskan hubungan yang sangat tidak sehat. Di mana pasangan saya tidak merasa saya cukup cantik dan enak dilihat, sehingga saya hanya dipandang sebagai objek saja.

Ada satu kutipan yang saya sukai dari Germaine Greer. Katanya,

“Every woman knows that, regardless of all her other achievements, she is a failure if she is not beautiful.”

Saya rasa, itu memang benar. Sehebat dan sesukses apa pun perempuan, ia menjadi gagal bila tidak rupawan. Rasanya lelah bila harus menyalahkan media dan konstruksi masyarakat atas pemikiran ini, sebab harusnya selera berasal dari dalam diri sendiri. Dan rasa menghormati, tentunya tidak perlu datang dari tempat lain kecuali kesadaran pribadi.

Entah berapa orang yang dulu menyarankan ke pasangan saya untuk sudah saja karena saya "jelek". Dan rasa sedih itu, saya harap tidak dialami oleh orang lain.

Bagi perempuan pun, mohon mengerti. Cantik bagi satu orang, belum tentu cantik bagi orang lain. Pergilah bersama orang yang memang menyukaimu--bukan apa adanya, tapi karena ia tahu kamu sesuai untuknya. Kamu adalah seleranya. Tipenya. Sebab bila tidak, ada hal buruk yang sangat mungkin terjadi, dan membuat percaya diri jadi hancur berkeping-keping. Saya sudah cukup merasakannya.

Jangan menilai orang dari fisik? Ah, itu hal paling omong kosong yang saya ketahui. Panjang lagi bila dibahas di sini. Mungkin lain kali.

Terima kasih sudah membaca!

Senin, Juni 29, 2015

Citra

Bulan lalu, saya sempat berdiskusi dengan teman saya mengenai citra dan pencitraan. Saya lupa dari mana mulanya dan bagaimana berakhirnya. Yang pasti, dalam pembicaraan itu, ada satu pertanyaan: Apakah pencitraan itu penting?

Orang yang melakukan pencitraan, sering kali jadi nampak palsu dan munafik. Di lain sisi, orang tanpa pencitraan pun juga sering dicerca karena dianggap tidak tahu situasi dan kondisi. “Pencitraan dikit kek,” begitu kadang-kadang saya mendengar orang berpendapat. Ya, semua hal memang punya sisi baik dan buruknya masing-masing.

Beberapa minggu setelah pembicaraan itu, saya mendapat pelajaran lain mengenai pencitraan. Hal yang menurut saya dapat menjadi jawaban dari diskusi saya sebelumnya. Memang sangat cheesy, tapi memang benar. Be yourself.

Citra adalah rupa, gambar, atau kesan. Citra adalah gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi tertentu. Dan apa yang saya pelajari beberapa minggu waktu lalu itu adalah—percayalah, citra yang palsu, cepat atau lambat akan diketahui oleh orang lain. Tidak bisa dihidupkan selamanya.

Saya bukan orang yang memiliki impresi baik saat pertama kali bertemu. Saya masuk ke kelompok orang yang kesulitan dalam pencitraan. Apa itu hal yang baik? Tidak bisa dikatakan begitu, karena nyatanya berkali-kali saya dimusuhi orang, dihina di belakang, dibicarakan dengan buruk, dan lain-lain. Untungnya, saya pribadi yang tidak ambil pusing. Sikap tidak pencitraan saya, bisa dibilang sebelas-dua belas dengan tebal muka.

Menariknya, justru orang-orang yang berpandangan negatif tentang saya itu, makin ke sini makin mengurangi kenegatifannya. Beberapa ada yang jadi mengerti bahwa itulah sifat asli saya: tidak bisa munafik. Mungkin membuat risih bila dilihat, namun tidak masalah bila dirasakan sendiri. Orang yang memusuhi saya pun berkurang, pembicaraan buruk tentang saya berangsur jadi baik, dan jati diri saya tidak sepenuhnya dianggap negatif lagi.

Sementara itu, seseorang yang selama ini bercitra sangat baik karena dianggap anggun, sopan, dan “kembang desa”, malah jadi sebaliknya. Entah dimulai dari siapa dan bagaimana jalan ceritanya, segala citranya yang baik kini hancur menjadi hal-hal yang tidak enak untuk didengarkan. Meski tidak benar-benar ditunjukkan, namun orang tersebut sekarang malah dipandang sebelah mata. Tidak dihormati dan jadi tidak disukai.

Saya pikir, bukan masalah pribadi buruk yang membuat lingkungan menjadi tidak menyukai seseorang. Namun bagaimana seseorang itu berusaha melakukan pencitraan sedemikian rupa, yang kemudian diketahui palsu belaka, yang jadi penyebab rasa ketidaksukaan itu muncul.

Pada akhirnya, tanpa perlu ada yang membuka, citra sesungguhnya akan selalu terbuka. Tidak perlu pencitraan untuk memaksa orang lain menanggapi diri dengan impresi yang diinginkan. Jadilah diri sendiri, sebab itulah yang akan menyelamatkan diri kita dan semua orang.

Namun, untuk jadi diri sendiri, jangan lupa diawali dengan mengakui bentuk diri yang sesungguhnya.

Kalau kamu sendiri menyangkal, sosok apa yang mau digunakan untuk menjalani hidup?

Terima kasih sudah membaca!