Rabu, Agustus 12, 2015

Enggan

Beberapa dari manusia telah hidup semata dalam keenganan
Meragukan nyawa dan menggigiti nadinya sendiri
"Siapa bilang saya ada dan berharga?"
"Siapa bilang napas maka ada nyawa?"

Tapi, mereka tidak pernah mati
Enggan bunuh diri atau buka mata hati
Mereka hanya tahu:
Gerak, gerak, gerak
Cakap, cakap, cakap
Tertidur

Harapannya bisa hilang dengan tenang
Luruh dalam gelap malam
Digerus istirah panjang
Lenyap dimakan enggan

Lalu mereka bilang,
"Terima kasih banyak"

Jumat, Agustus 07, 2015

Minggu

Seperti Semesta sengaja
Ia tumpah manusia pada tempat tak terduga
Dilepas biar jumpa tanpa siap
Diurai bila waktu sudah tepat

Kalau kutemukan pola, apa bisa masih ada?
Lalu Semesta ikut campur,
Menjentikmu agar jatuh di pintu yang sama

Aku mau tatap muka
Satu kali lagi saja
Dengan bibir yang saling bicara,
Bukan melumat dan hancurkan kata

Rabu, Agustus 05, 2015

Dilayani oleh Kebanggaan: Prestasi Sebesar Usia dari BNI 46

Waktu kecil, gue punya cita-cita yang agak aneh. Tapi, gue rasa hampir semua anak pernah mengalami ini, deh. Gue bercita-cita punya rekening bank. Setiap lihat Bunda ambil slip di meja kayu berlapis kaca, lalu menulis dengan pulpen yang ada talinya, entah kenapa gue merasa itu keren. Kok tahu sih, kertas itu yang harus diambil? Kok pulpennya lucu? Kok Bunda mengerti harus menulis apa dan di mana? Gue juga mau coba melakukan itu (saat itu tidak tahu saja, kalau Bunda lagi ruwet membayar biaya sekolah swasta tiga anaknya).

Ditambah dengan keramahan orang-orang bank. Mungkin karena dulu gue masih manis dengan rambut panjang dan ikal alami di bawah, jadi gue selalu dapat perhatian penuh dari setiap pegawai di bank. Berbagai cemilan ada, permainan kecil, atau diajak bicara agar tidak bosan selama menunggu Bunda. Makanya, gue selalu suka ke bank. Mau ikut Bunda buat rekening di bank, menulis-nulis di slip yang diambil dari meja kayu berlapis kaca itu.

Saat itu gue memang sudah punya tabungan, namun untuk anak-anak. Gue tidak berkuasa pada tabungan itu (tapi jadinya tabungan tersebut hanya diisi terus, tanpa digunakan). Terkadang, gue hanya lihat-lihat bukunya. Memerhatikan angka yang gue pun tidak mengerti bedanya kolom debit dan kredit. Gue ingin buku itu cepat penuh dan diganti seperti yang biasa Bunda atau Ayah lakukan—dan kalau dipikir sekarang, gue cukup bergumam, dasar bocah!

Pada saat lulus SMA, gue memutuskan untuk membuat tabungan sendiri. Di mana gue berkuasa penuh dalam mengatur keuangan. Berbagai pertimbangan gue lakukan, bahkan sempat berdiskusi dengan Ayah tentang bank apa yang perlu gue pilih. Maklum, karena dituntut mandiri sejak SMP, gue jadi perhitungan untuk urusan begini. Mana yang lebih aman, menguntungkan, jelas, dan memberi pelayanan (serta promo) paling baik.

Setelah seminggu ngobrol dan dikasih referensi oleh Ayah, gue pun memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, BNI. Bank yang punya nuansa hijau dan oranye ini, sekali lagi membantu gue mengatur kehidupan dompet gue. Tabungan anak yang dulu gue punya di Bekasi sudah ditutup beberapa tahun sebelumnya. Fase kedua gue dalam menabung dilakukan bersama BNI cabang UI Depok.

WP_20150805_002

“SELAMAT PAGI!!” begitu bunyi yang keluar dari kantor BNI UI Depok saat gue mau membuka tabungan. Memang, saat itu gue salah satu pengunjung pertama. Kaget, tapi bikin tertawa. Gue yakin, bukan cuma gue yang bereaksi seperti itu. Kebiasaan BNI untuk ucapkan salam dengan lantang dan semangat di pagi hari, buat gue menyenangkan. Diikuti keramahan siang hari dan sapaan-sapaan yang sopan dari seluruh pegawai di sana. Saat ini, gue punya dua tabungan di BNI: Taplus Muda dan Tabunganku.

Sekali waktu, seorang teman pernah melakukan kesalahan dalam pemesanan tiket kereta. Akibatnya, uang di rekening gue tidak masuk ke rekening penerima seharusnya. Gue kesal bukan main, tapi jadi tenang karena BNI melayani gue dengan baik, cepat, dan sesuai janjinya. Makanya, gue nggak heran saat tahu kalau dapat medali emas di kategori Best Analyst Contact Center dan Best Contact Center Support – HR; serta medali perak untuk Best Customer Service in Mid-Size Inhouse; dan medali perunggu pada Best Help Desk dalam ajang Contact Center World tingkat dunia yang diselenggarakan di Las Vegas, Amerika, November 2014 lalu. Penghargaan serupa juga pernah diterima oleh BNI pada Juni 2014 dalam kompetisi Contact Center World se-Asia Pasifik di Singapura.

Selain dapat predikat sebagai The Most Reliable Bank untuk kategori bank konvensional dengan aset di atas 100 triliun rupiah dari Tempo Group dan Indonesia Banking School pada Oktober 2014, BNI juga memenangkan hati masyarakat lewat keberhasilannya meraih Best Service menurut polling dari majalah Asia Money di Hong Kong, September 2014. Bank berangka 46, yang melambangkan tahun berdirinya ini, buat gue telah mendapatkan prestasi yang memang sangat sesuai dengan kinerjanya.

Tentu saja, prestasi-prestasi di atas baru segelintir disebutkan. Masih banyak prestasi BNI lain yang menunjukkan citranya sebagai bank yang dapat dipercaya, teratur, dan bersahabat. Selama sekian tahun gue menjadi nasabah BNI, gue tidak pernah merasa kecewa atau disusahkan. Layanannya selalu lancar, sesuai, dan jelas tanpa neko-neko. Oh, juga karena BNI hampir selalu bekerja sama dengan berbagai acara musik yang gue sukai, sehingga memberikan gue keuntungan lain.

Sekali-kalinya gue agak bete dengan BNI adalah ketika kartu prepaid harus diganti dengan tapcash. Tapi, saat tahu tapcash lebih aman dan bisa diintegrasi dengan kartu tanda mahasiswa UI, gue batal bete. Hehe.

Tanggal 5 Juli kemarin, BNI baru saja berulangtahun yang ke-69. Usianya sebesar prestasinya, karena memang selalu dipegang oleh orang-orang terpilih, dan diasuh oleh mereka yang berkompetensi. Duh, jadi ingat kalau sebentar lagi harus lepas dari Taplus Muda. By the way, happy birthday and keep amazing, BNI!