Selasa, Februari 24, 2015

Bukan Manusia

Selama beberapa tahun, perempuan itu telah tumbuh menjadi manusia yang angkuh dengan segala kecukupan dalam dirinya. Ia merasa penting bagi orang lain, dan percaya bahwa dirinya adalah sosok yang tidak bisa terganti oleh siapa pun.

Perempuan yang terampil dalam bertutur kata dan mengolah pikirannya hingga jadi tanpa pola itu, selalu punya makna dalam kehidupan orang lain. Makna yang berbeda dari orang biasa. Ia memang tidak menghabiskan waktunya banyak-banyak dalam satu tempat, namun dipastikan ada banyak-banyak kesan untuknya dalam satu tempat. Entah mengapa.

Mungkin karena perempuan itu punya warna yang sulit ditebak. Ia seperti bunglon yang mampu menyesuaikan diri pada segala situasi, tanpa kehilangan jati dirinya sendiri. Apakah ia hidup bahagia tanpa cercaan orang tentangnya? Tentu tidak. Perempuan itu, bagaimana pun, adalah perempuan yang sungguh menyusahkan. Kalau ada satu gambaran tentang dirinya, maka jawabannya adalah keras kepala. Seperti batu. Bikin orang lain sakit kepala.

Di saat seseorang yang bersamanya mengaduh-aduh akan perilakunya, di tempat seseorang yang lepas dari dirinya akan mengaduh-aduh karena merindukannya. Selalu begitu. Berputar terus. Ia sadar akan kemampuannya, lalu angkuh dan merasa utuh.

Hingga satu hari, perempuan mungil itu bertemu dengan seseorang yang membuatnya retak. Hampir terburai dan tak lengkap lagi. Orang itu, dengan mudahnya telah menghancurkan keangkuhan perempuan logis yang pikirannya secepat cara ia mengucap kalimat. Tentu saja, dengan cara paling cepat dan tepat: menggantikan kehadirannya dengan jarak satu kedip mata.

Ia, seorang laki-laki yang matang pun belum usianya, dengan hati-hati menyebut permintaan tentang keinginan untuk dimengerti dan diperlakukan dengan peduli. Ketika terlambat segalanya, perempuan itu terlanjur tenggelam dengan kesadaran bahwa yang harus dilakukan ialah memaafkan segala tingkah lakunya.

“Memaafkan, tidak berarti harus ada yang meminta maaf,” ujar perempuan yang sedang kehabisan napas itu.

Laki-laki yang mengaku kalah, tapi akhirnya selalu menang itu selalu bertanya ‘Kenapa’. Hanya bertanya ‘Kenapa’. Pada saat perempuan itu bersimbah darah, tercekik, dan kehilangan akal sehatnya, laki-laki itu hanya bertanya ‘Kenapa’. Untunglah, meski gila, perempuan yang belajar berhenti angkuh itu masih bisa memutar logikanya.

“Kata ‘Kenapa’ selalu muncul, karena ia tidak punya kesalahan. Ketika dalam pikirannya ia bersih dari dosa, tentu saja tak mungkin satu pun ‘Maaf’ akan muntah dari kerongkongannya. Ia tidak menyesal. Ia tidak merasa salah—dan siapa yang bodoh untuk mengharap ‘Maaf’, dan bukannya ‘Kenapa’ dari orang yang suci lahiriah dan batiniahnya?”

Maka, sambil terjejas, perempuan itu bergulung dalam tubuhnya sendiri, menertawai diri yang tidak ada artinya pada satu orang yang telah membuatnya berpindah dunia. Dari tempat tinggal yang penuh kekerabatan dan rasa penghargaan, hingga gua tanpa cahaya dan sisa-sisa makanan saja.

Perempuan itu hanya belajar satu: ia tidak boleh angkuh lagi.

Sebab ia terganti. Tidak berarti. Tidak perlu dihargai. Ketidakangkuhan, mengubahnya berhenti menjadi manusia.

“Dan bila menjadi bukan manusia membuatnya bahagia, aku tidak apa-apa,” kata perempuan itu sambil menciumi kaki laki-laki yang bergerak dengan kontrol dari selangkangannya.

Senin, Februari 23, 2015

Sakit

Pernahkah kamu berada dalam hubungan yang sangat rumit? Dalam hubungan itu, kamu merasa, semakin buruk perasaan dan perlakuan yang kamu dapatkan, kamu justru merasa semakin mencintai pasanganmu?

Saya pernah ada dalam hubungan yang menyiksa. Saya sakit. Terluka. Saya merasa buruk. Dan ketika hubungan itu sudah sampai pada waktunya, saya bisa mengakhirinya.

Lalu, saya juga pernah ada dalam hubungan yang menyenangkan. Saya senang. Saya merasa cakap. Namun, ketika hubungan itu sudah sampai pada waktunya, saya pun bisa mengakhirnya.

Dan di lain waktu, saya hidup dalam hubungan yang kembali membuat saya merasa buruk. Saya mungkin sakit. Saya mungkin terluka. Tapi, salah satu mulut dalam pikiran saya mengatakan, “Itulah caramu mencintai. Semakin kamu menderita, semakin kamu mencintainya. Ya, cintamu berbanding lurus dengan perih pedihnya.”

Memang, saya pun tidak bisa keluar dari hubungan itu. Tidak mau.

Pernahkah kamu mengalami hal itu? Mencintai dengan rasa sakit, sebab kamu tidak tahu apa lagi yang harus diberikan dan ditunjukkan kecuali rasa sakit?

Saya baru mengerti apa maksudnya dari ‘rela mati demi orang lain’.

Ada kalanya, yang hidup, sekeras apa pun ia berusaha, tak pernah sampai perasaannya. Oleh sebab itu, kadang kematian bisa memberikan jawaban. Bukan begitu? Iyakah demikian?

 

Saya cinta dan saya sakit

Perihnya kukirim lewat kata, pedihnya kubalut dalam doa

Bahagiamu ialah rengkuhan denyut-denyut di nadiku

Kamis, Februari 19, 2015

“Cuma Beberapa Detik”

Beberapa hari lalu, gue teringat pada pengalaman waktu SMA. Pulang naik taksi, dan ngobrol sama supirnya. Hari itu Sudirman dilanda hujan dan macet (yang ini sih selalu). Taksinya dingin banget. Gue mau pipis, tapi kan nggak bisa. Akhirnya, gue cuma minta tolong sama supirnya..

“Pak, tolong matiin ACnya, dong.. Jendelanya buka dikit aja. Dingin banget, bikin mau pipis.”

Lalu pak Supir yang baik pun melakukan hal yang gue minta. Ditambah, beliau segala cerita tentang pengalamannya selama jadi supir taksi.

“Saya jadi ingat, dulu saya pernah antar orang ke Bekasi. Hujan juga, macetnya lebih parah dari ini. Terus pas saya lihat spion, penumpang saya nggak ada. Saya nengok ke belakang, eh dia ternyata lagi jongkok, Dek. Buang air sambil ditadah plastik gitu.”

“Hah? Iya? Keliatan dong, Pak?”

“Iya.. Tapi dianya ketawa-ketawa aja. Katanya, ‘Udah pernah liat juga kan, pak?’. Terus ya udah. Saya juga ketawa.”

Karena jalanan masih macet, gue pun memutuskan untuk memperpanjang pembicaraan. Gue nanya ke pak Supir yang sudah gue lupakan namanya itu, tentang pengalaman uniknya selama jadi supir taksi. Salah satu yang beliau ceritakan adalah bila ia giliran malam hingga pagi. Beliau suka mendapat pelanggan seorang PSK.

“Saya paling nggak suka kalau giliran malam. Dapatnya suka aneh-aneh. Saya sih nggak diskriminasi PSK, tapi kadang mereka suka nyusahin.. Masuknya mabuk, keluarnya ninggalin muntah. Kadang-kadang bilangnya nggak bisa bayar.”

“Terus gimana pak, kalau mereka nggak bisa bayar?”

Dalam pikiran gue, ada adegan kejar-kejaran gitu. Saat itu gue lagi keranjingan suatu film yang punya kutipan, “Kamu akan merasa hidup ketika pernah mengalami dikejar supir taksi karena nggak bisa bayar,” soalnya.

Lalu, beliau bilang, “Ya mereka bilangnya biasanya gini, ‘Aduh, pak, saya nggak punya uang. Terserah bapak aja deh mau ngapain saya, bebas’, gitu.”

Waktu itu gue belum belajar kriminologi, jadi masih tolol. Malah nanya, “Maksudnya dia bayar pakai badan gitu, pak..?”

“Ya iyalah.”

“Terus bapak ngapain kalau udah begitu keadaannya?” (anak bodoh dan polos yang nggak takut hal yang terjadi berikutnya mungkin saja adalah pelecehan verbal)

“Ya nggak saya apa-apain.”

“Males juga gitu ya, pak?”

“Bukan gitu, Dek..”

Kemudian, pak Supir ini menceritakan hal penting yang harusnya nggak gue lupakan. Cerita itu mau gue bagi di sini sekarang.

Jadi, beliau bilang, saat itu beliau lagi keras-kerasnya kerja, karena beliau butuh banget uang untuk bayar tunjangan cerai yang istrinya minta. Kalau nggak dikasih, anaknya nggak diizinkan tinggal sama beliau. Padahal, menurut beliau, istrinya itu bukan ibu yang baik. Amit-amit banget kalau anaknya diurus sama dia, katanya.

Istrinya ada di kampung. Selingkuh sama berondong. Bisa ketahuan karena istrinya salah kirim SMS.. Harusnya ke selingkuhannya, eh malah ke pak Supir. Pak Supirnya jelas marah-marah dong ke istrinya. Tapi istrinya malah marah balik, bilang, “Halah, kamu juga paling di sana juga main kan sama perempuan? Sama aja!”

Karena kalimat yang itu, suaminya sakit hati banget. Kalau soal selingkuh, beliau masih bisa mikir alasannya apa. Tapi yang itu, beliau nggak terima banget. Belum lagi katanya, anaknya di sana ditelantarkan. Uang yang dikirim dipakai buat si berondong itu. Cerita klasik, sih..

Hubungannya sama PSK yang nggak bisa bayar taksi apa, dong?

Nah, pak Supir ini bilang dengan nada sedih, “Padahal saya nggak pernah sekali pun ada main sama perempuan, Dek.. PSK aja saya tolak. Saya nggak mau, Dek. Mau dilihat kayak apa nanti saya sama anak saya. Butuh sih ya butuh, tapi kan nggak berarti saya harus selingkuh. Lagian, ini mungkin Adek belum ngerti, ya. Tapi itu cuma kenikmatan beberapa detik doang.. Masa saya ngorbanin anak saya cuma buat beberapa detik itu? Saya nggak mau..”

Ketika saat ini gue mulai aktif secara seksual, gue jadi berpikir kalau kata-kata pak Supir ini hebat sekali. Beliau menekankan perselingkuhan sebagai ‘kenikmatan beberapa detik’—yang nyatanya memang demikian—itu nggak berarti sama sekali. Buat apa. Beliau menunjukkan kalau beliau nggak mau kalah sama ‘kenikmatan beberapa detik’ itu.

Berapa banyak laki-laki yang masih berpikir begitu? Dan bukannya justru berpikir, “Ah sebentar aja kan nggak apa-apa.”

Beliau apa kabar ya, kira-kira?

Oke, ceritanya selesai. Bisa dipertimbangkan sendiri pesan moralnya.

Terima kasih sudah membaca!