Senin, September 12, 2016

Biar Ledak Rindunya

Malam ini (akhirnya) hati tergerak untuk mulai mengerjakan skripsi. Tapi apa daya, gue ternyata terlalu manja dan sentimentil. Playlist saat ini sedang memutar John Mayer, dan kepala gue terlanjur malah teringat pada yang sangat dirindukan, jauh di UK sana, mas Ica.

Kemarin mas Ica baru ulang tahun yang ke-22. Sedih, karena gue nggak bisa mengucapkan langsung, atau sekadar mendengar suaranya. Sudah agak lama kami nggak bertukar kabar karena ada satu masalah yang membuatnya memutuskan menjauh dulu agar keadaan gue aman. Yang penting buat gue, selama mas Ica di sana baik-baik saja, nggak pusing-pusing lagi dan nggak merasa ada di titik terbawah kehidupan lagi, gue senang kok.

Duh kok malah jadi mau nangis, sih. Memang benar ya, obat kangen itu ya ketemu. Tapi gue nggak tahu kapan bisa ketemu mas Ica lagi, pastinya masih lama, dan gue harus bersabar untuk itu. Jadi ingat saat pertama kali mas Ica ninggalin gue buat kuliah di Cina, gue berulang kali meyakinkan diri kalau waktu satu tahun itu nggak lama. Kalau dihitung, berarti total sudah hampir empat tahun lebih ya gue ditinggal-tinggal begini. Hhhh.

"Kalau dikasih pintu ke mana saja dan lo cuma bisa pilih tiga tujuan, apa saja pilihan lo?"

Setiap ada pertanyaan begitu, gue biasanya jawab: rumah, kampus (karena pas itu masih kuliah), dan tempat mas Ica. Iya, gue sesayang itu sama mas Ica. Memang mas Ica itu siapa, sih? Yah, dia ini bukan pacar gue. Nggak pernah jadian juga malah. HTS juga bukan, kami nggak seromantis itu. Paling ya guenya saja yang kebanyakan berharap dan terlalu sering gombalin dia.

Mas Ica adalah penolong.

Gue nggak bisa mendefinisikan hubungan gue dengan orang ini, dan sepertinya dia pun demikian. Kami cuma teman (meski gue berharapnya lebih, lol), dan cukup sampai di sana. Gue cuma tahu kalau sosok ini sangat berarti buat gue, yang ada di masa-masa terberat gue, salah satu orang pertama yang tahu sisi jelek gue, dan.. Entahlah. Gue nggak punya kata untuk mendeskripsikannya. Gue merasa berharga saja kalau sama dia. Juga merasa aman, hangat, dan terang.

Ibaratnya, gue merasa seperti sedang tidur di atas rumput, diteduh bayangan pohon, di hari hangat dengan matahari bersinar. Begitulah rasanya tiap kali gue sedang bersama mas Ica. Dan gue sangat suka suasana itu. Kalau keadaan seperti ini sudah cukup buat gue dan dia, ya sudah, gue pun nggak masalah.

Entah apa tujuan gue nulis ini sebenarnya. Mungkin karena John Mayer. Ini adalah lagu "kode" di antara kami, kalau-kalau sedang butuh satu sama lain. Kangennya jadi naik berkali-kali lipat deh.

Selamat ulang tahun ya, mas Ica. Gue sayang lo selalu.

*nangis di pojokan*

Rabu, September 07, 2016

Setelah Lama

Anda sudah mendapat semuanya dengan instan.

Sambil menginjak harkat orang lain pula, namun saya tak berkeberatan. Meski berduka pada awalnya, sekarang saya sudah paham. Berkali Anda mengacung jari, bilang saya masih mendengki, padahal tak ada rasa sedikit jua masih merelung dalam hati.

Anda sudah mendapat segala yang saya renungkan. Tentang rumah tinggal yang besar, makanan tanpa pertanyaan, anak-anak yang menyapa, dan tukar kabar di meja bundar. Kadang saya datang pada hangat yang demikian, lalu bingung sendiri seraya menggumam, Apa kesalahan saya di masa lalu hingga lahir jadi begini?

Kembali, namun saya tak berkeberatan. Karena perlahan saya temukan teman-teman yang baik, segala hiburan menyenangkan, dan paham bagaimana cara menghabiskan waktu. Di antaranya saya selalu berdoa, minta pada Yang Kuasa agar tak sekali pun Ia hibah dosa pilihan saya pada Anda, sebab Anda jauh di luar kaitannya.

Anda sudah mendapat cita-cita.

Maka diamlah, satu-satunya dosa yang mungkin Anda cipta dan melibatkan saya adalah, andai di lain masa saya kelaparan dan tak mampu mengunyah apa-apa. Cukup itu. Dan tentu dengan ketentuan yang berlaku.

Sisanya, tolong biarkan saya hidup dengan cara saya. Dilepas utuh lebih mudah daripada ditinggal kebas dan disebut-sebut tak masuk akal. Sungguhlah, sebenarnya saya merugikan siapa? Baiknya darah tak lebih kental dari logika. Berhenti saja pada uang lebih subur dari saudara.

Saya kelelahan dan tak mau pulang.

Kamis, Agustus 25, 2016