Selasa, Februari 21, 2017

Mas, Semoga Aku Selamat

Selamat malam, Mas.

Di sini sudah hampir pukul tiga pagi. Apakah kamu sedang melakukan sesuatu? Dulu, biasanya kamu tidur-tiduran sambil menghadap laptop. Mengerjakan tugas sambil memeluk guling putih yang kuyakin sebenarnya sudah minta ampun kotornya. Kita tak perlu bicara, yang penting saling lihat saja, lalu secara acak menyampaikan pemikiran masing-masing.

Entah itu soal aku yang lapar.
Kamu yang kelelahan.
Aku yang kehabisan akal.
Kamu yang dapat pesan.
Aku yang mulai meram.
Kamu yang mulai bosan.
Aku yang rindu.
Kamu yang rindu.

Sudah lebih setengah tahun kita tidak bicara, Mas. Beruntunglah aku masih hidup sampai sekarang. Masih utuh. Meski tenagaku habis. Uangku habis. Kesabaranku habis. Air mataku habis. Semata karena satu manusia yang sebelumnya pernah kamu ingatkan untuk jangan dilanjutkan lagi. Maaf, sungguh-sungguh minta maaf karena tidak kudengarkan. Kamu benar, sekarang aku selalu di bawah ancaman. Begitu jahatnya ia sampai di kala bersama, aku sering tak yakin dapat pulang dengan bernyawa.

Dan akhirnya, ingatan tentang kamulah yang selalu kembali menyelamatkan aku. Tentang masa kecil. Tentang masa remaja. Tentang beranjak dewasa. Tentang segala wacana dan peristiwa nyata yang ada. Seluruhnya sederhana, tidak ada yang istimewa atau "pecah" seperti kata anak-anak sekarang. Meski barangkali bertepuk sebelah tangan, tapi aku kepadamu adalah penyelesaian buncah emosi yang paling aman untuk kulakukan.

Berulang kali aku berbisik agar jangan melukai diri. Sebab sudah tidak tahan lagi, tidak mau lihat wajahnya lagi. Tapi aku berujung selamat bila memutar rekaman gerak dan suara kamu dalam kepalaku. Berubah tenang. Seperti percaya akan baik-baik saja. Pun tak ada jaminan kita akan bertemu kembali, aku tak keberatan.

Mas, apa kabar? Kapan pulang? Kalau boleh, aku ingin satu kota lagi. Siapa tahu tak sengaja berpapasan di jalan. Semoga masing-masing sendiri, agar aku bisa lepas tangisku yang sengaja di simpan demi momen sentimental bersamamu.

Sejak kecil, aku sudah menyusahkan. Terlalu manja dan sering meminta. Bisa jadi ini karmanya.

Jangan pergi jauh-jauh lagi, Mas.

Senin, Januari 23, 2017

2017

23 Januari. Sudah masuk minggu ketiga di tahun 2017, dan gue baru mulai menulis. Padahal, nggak banyak hal yang gue lakukan. Kesibukan gue masih itu-itu saja--menyiapkan kelulusan. Naskah ringkas pun hingga kini belum selesai sih, jadi gue sendiri agak kurang paham kenapa nggak menulis secepatnya.

Rasanya enggan menulis kaleidoskop 2016, karena bisa dibilang terlalu banyak hal buruk terjadi di dalamnya. Satu-satunya hal baik yang terjadi adalah (akhirnya) gue lulus sidang skripsi. Tapi ya, sesuai dugaan, tanpa bermaksud sombong, gue sebenarnya tidak sesenang itu. Lega? Pasti. Gue resmi nggak menyusahkan Ayah lagi perihal masalah akademik. Sudah, cuma sampai di sana. Nggak ada perasaan lain yang spesial.

Gue sempat berpikir untuk nggak ikutan wisuda, karena buat gue itu selebrasi yang berlebihan. Dan setelah berpikir beberapa lama, gue memutuskan untuk ikut saja. Coba rasakan euforianya. Logikanya sih, di sana pasti banyak energi positif dan jadi waktunya bersenang-senang. Harusnya gue pun ikut senang, dan jadi berhenti "gelap" sendirian. Kalau akhirnya gue pulang dengan perasaan biasa saja, ya.. Mungkin gue memang sudah nggak ada harapan. Haha.

Bisa dibilang, 2016 menyedot energi gue luar biasa besar. Hidup gue benar-benar tidak stabil. Kalau boleh mengaku, gue seperti kembali ke masa-masa 2006-2008. Ketika gue berada dalam situasi paradoks--harus menyayangi orang yang bisa membunuh gue kapan saja. Makna "membunuh" di sini, berada dalam konteks fisik dan mental.

Doakan saja agar semuanya bisa kembali lancar. Gue sudah capek-capek merangkak, berjalan, dan berlari hingga bisa keluar dari lubang hitam yang dulu. Masa gue harus kembali lagi ke nasib yang sama? Atau, Tuhan yang terlalu iseng untuk membuat gue jadi seperti hamster--berlari namun tidak berpindah? Entahlah.

Gue hanya ingin jadi "Olga" lagi.