Kamis, Januari 29, 2015

Makan Cantik

Belakangan ini, gue sering banget melihat jawaban di askfm yang intinya adalah, “Cewek yang suka makan cantik itu tipikal banget, dan cewek idaman adalah mereka yang nggak suka makan cantik”. Kebetulan, di 9GAG juga lagi banyak gambar yang mengisyaratkan bahwa kondisi dompet itu tergantung punya pacar atau nggak, serta pacarnya tepat atau nggak.

Gue sebagai cewek (mengingat saya heteroseks, jadi di sini konteksnya cewek-cowok saja, ya), agak kesal ya, dengan standar tipe yang dibuat demikian oleh para cowok. Kesannya, cewek yang suka makan cantik itu tipikal dan ‘nggak banget’.

Yang dimaksud ‘suka’ di sini adalah senang, ya, bukan sering. Ya, meski kalau senang, biasanya jadi sering, sih. Tapi, kalau memang ada dananya, mau sering atau malah setiap hari juga sebenarnya nggak masalah..

Gue suka makan cantik. Gue mengakui itu. Sebelum melangkah lebih jauh, coba ya disamakan dulu definisi ‘makan cantik’ itu. Dalam tulisan ini, kita pukul rata saja makan cantik itu adalah kegiatan makan yang menghabiskan dana lebih dari 100 ribu rupiah untuk dua orang. Dipatok hanya dari aspek harga karena menyambung ke postingan 9GAG yang membahas keadaan dompet. Lagipula, nyatanya makan cantik nggak selalu harus suit up juga, kan? Jadi, finansial adalah dasarnya di sini. Bila setuju, silakan lanjut membaca.

Iya, gue suka makan cantik. Kenapa gue suka makan cantik? Karena gue suka makan. Ada makanan-makanan enak yang nggak bisa lo dapatkan di kaki lima. Banyak, bahkan. Tidak masuk akal sekali, menurut gue, ketika seseorang menegur seperti ini: “Makan mi saja harus ke Grand Indonesia. Indomie di Indomaret juga banyak!” dan sejenisnya. Pasti pernah dong, dengar kritik seperti itu? Baik yang bercanda atau serius?

Itu menjadi tidak masuk akal karena satu alasan: rasanya beda, woi.

Gue suka makan. Dan kalau gue nggak suka makan cantik, di mana gue bisa makan fish and chips enak selain di.. Oke, nggak usah di Fish n Co., tapi di Kemang Fish n Chips Shop? Gue suka sushi, dan sushi paling enak sejauh ini adanya di Shangri-La. Steak enak? Adanya ya di Gandy. Kue? Convivium, dong. Bebek? Pastinya Duck King. Pizza? Nomor satu tetap Paparon’s.

Oke, itu menu-menu tidak lokal yang mungkin sulit dicari kaki limanya. Biar seimbang, mari telusuri makanan lokal. Contoh saja, siomay. Sampai saat ini, gue belum nemu siomay yang benar-benar enak, atau minimal rasanya khas, seperti di Food Hall (ini nggak terlalu cantik, sih). Sop buntut? Ya, Bakerzin. Nasi goreng? Gue belum ketemu nasi goreng yang lebih enak dari Jun Njan punya. Gurame enak? Jawabannya tentu, Sari Kuring.

Jangan salah, makanan kaki lima pun sekarang sudah hampir cantik-cantik. Sop kambing favorit saya, Irwan, terakhir makan di sana, berdua, sudah lebih dari 80 ribu. Sate Sambas pun demikian. Belum lagi sate di Pondok Randji yang katanya enak sekali tapi harganya juga cantik sekali. ‘Makan pinggir jalan’ itu bukan jaminan harganya miring, Gan.

Kalau lo, sebagai cowok, risih dengan kebiasaan cewek lo yang suka makan cantik, siasati dengan kasih dia tempat makan (yang jauh lebih terjangkau) yang makanannya enak-enak. Jauh lebih enak, dan tentunya lebih murah, dibanding yang ada di tempat-tempat makan cantik. Selama tempatnya nggak kecoaan, nggak basah saat hujan, dan nggak bau, dia pasti oke-oke aja, kok. Dengan pengalaman makan makanan enak kayak gitu, orientasi cewek yang (mungkin) makan cantik untuk bahan update dan foto-foto bisa jadi hilang.

Makan cantik itu intinya tetap ‘makan’, kan? Nah, makanya, carilah tempat yang makanannya enak, bukan yang tempatnya cantik untuk menutupi rasa makanannya yang biasa saja. Great food + great person = great time + great place = great date.

Jangan dumel doang sama cewek yang suka makan cantik. Dibilang tipikal segala macam. Situ tahu nggak nasi uduk enak ada di Tanjung Duren? Pempek enak ada di Bekasi? Pecel lele enak ada di BSD? Bakso enak ada di Palbatu? Empal gentong enak ada di Bekasi (lagi)? Dan untuk makanan lokal yang tadi disebutkan sebelumnya—siomay enak ada di Kebon Jeruk (lupa siapa namanya, yang jual naik sepeda—nah kan susah carinya), sop buntut enak ada di Bekasi (lagi), nasi goreng enak di Kebon Sirih, dan gurame yang titip minta dibakarin di Superindo itu rasanya juga kece dengan home made sambal kecap?

Itu baru sebagian kecil. Jakarta punya banyak banget makanan enak lainnya. Oh, meski BSD dan Bekasi tentunya sudah bukan Jakarta lagi ya, hehe.

Ya, intinya, kalau lo nggak suka dengan kebiasaan cewek lo untuk makan cantik, maka inisiatiflah mencari tempat-tempat nggak cantik yang makanannya enak. Cewek lo juga senang saja kok, nggak perlu dandan dan insecure akan kalah cantik dengan orang yang ada di sana.

Bisa makan, adalah kebahagiaan. Yang salah adalah merusaknya dengan usaha social climber untuk menjadikan makanan sebagai bahan dirinya mendaki piramida sosial. Loh, jadi nggak nyambung sama bahasan awal.

Terima kasih sudah membaca. Boleh banget tulis komentar yang isinya makanan-makanan enak di seantero Jakarta.

 

Note: Bogor tidak ditulis karena saya belum merambah daerah sana. Dan rasa-rasanya tidak mungkin kuat.. Bekasi is waaaay better than Bogor for me. Hehe.

Kasabandiah

Tuhan,

Aku sudah hancur dan remuk

Redam diasak hingga tak mampu lebur

Tapi bila demikian memang caranya,

Aku utuh

Jumat, Januari 16, 2015

Istirahat dalam Damai, Dik..

Hari ini saya mendapat sebuah berita yang tidak menyenangkan. Sebenarnya, berita itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Namun, ini bisa jadi tamparan keras bagi siapa pun. Terutama, bila kita menelaah lagi respon setelah berita tersebut tersebar.

Singkat cerita, seorang teman dari teman adik saya diketahui membunuh dirinya sendiri. Usianya baru 14 tahun. Ia menggantung dirinya dengan ikat pinggang, di dalam lemari. Diketahui, sejak kecil ia sudah tinggal dan diasuh neneknya, sebab kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Pulang ke rumah pun, tidak ada yang tahu. Ia kurang kasih sayang.

Kabarnya, di sekolah pun ia termasuk anak yang pandai dan pendiam. Diduga, ia kurang pandai bergaul. Akibatnya, ia tidak punya pelarian atas rasa kesepiannya—dan berakhirlah ia dengan cara demikian. Sedih sekali.

Namun, respon masyarakat (terutama ibu-ibu), buat saya, justru lebih menyedihkan lagi.

Sebuah broadcast message tersebar. Mungkin terinspirasi dari peristiwa ini. Ibu saya mendapatkannya, dan memakannya mentah-mentah. Isi BM tersebut begini:

Ini keponakan temanku

Umurnya 14thn

Bunuh diri Crying face

Gantung diri…

Di dalam lemarinya

 

Saya ingin share ke saudara2…

Ini wake up call to all parents n teachers n everybody…

Salah satu penyebab…

Dia suicide

Anak tsb ternyata penggemar kartun sadis Jepang…Manga?

Bahkan anak2 skrg bikin group manga tsb

 

Saya baru tau…

Dan merinding…

Bhw kartun2 itu mengajarkan ….bhw mati itu menemukan kedamaian…peaceful dsb

Dan kartun2 itu (ada games) nya jg…ngajarin how to suicide slow n peaceful… Sad smile

 

Sedih banget…

Byk ortu yg gak ngeh…

Bhw nonton kartun tsb/gamesnya mencuci otak anak2 berumur tanggung… Crying face

 

Dengan adanya kejadian ini, td seluruh ibu2 dlm sekolah itu jd heboh

Baru sadar…bhw mrk asik dgn internet dsb itu sgt membahayakan…

 

Teman sy betul2 kecolongan…

Grup manga ini katanya tdk hanya boysbut girls too….

 

Semoga…

Kita bisa share ke bbrp teman kita…

Untuk lbh mendalami lg kartun/games apa yg ditonton anak2 kita everyday by internet

Dan jgn ksh kamar anak kita, kunci or slot

Spy ortu bs terus pantau anak2 ngapain saja di dlm kamar…

 

Ngeri banget…

Jahatnya kartun2 manga itu…mempengaruhi pikiran anak2….

 

Katanya di Amrik sdh dilarang….

Krn byk anak2 terbuai..

Dan bunuh diri mencari death peace tsb

Yup.

Enak ya, tinggal menyalahkan apa yang dikonsumsi oleh anaknya? Tinggal menyalahkan kartun dan permainan yang disebut-sebut itu?

Saya marah luar biasa pada BM itu. Terbawa perasaan. Baca bagian-bagian yang saya highlight. Saya tahu saya tidak punya hak untuk marah, dan mendebat adalah suatu kebodohan. Tapi, sungguh, apa sih yang manusia pikirkan ketika memutuskan untuk menjadi orang tua?

“Salah satu penyebab dia suicide, anak tersebut ternyata penggemar kartun sadis Jepang”. Oke, yang ini masih bisa diterima. Terima kasih karena siapa pun yang menulis BM ini, Anda menyertakan frase ‘salah satu’. Bukannya menghakimi bahwa kartun tersebut adalah satu-satunya alasan (terduga). Dan, ya, media memang punya peran besar dalam menyusun tingkah laku dan pola pikir seorang anak.

“Saya baru tahu dan merinding, bahwa kartun itu mengajarkan mati itu menemukan kedamaian. Kartun dan permainnya juga mengajarkan cara bunuh diri dengan pelan dan damai. Sedih banget, banyak orang tua yang nggak ngeh, bahwa nonton kartun tersebut atau permainannya mencuci otak anak-anak berumur tanggung”.

Halo? Dikira, cuci otak itu mudah? Di sini, mulai nggak masuk akal.

Iya, mudah, kalau jiwa korbannya memang rentan dari awal. Usia bukan masalah rentan atau tidaknya seseorang, kok. Itu tergantung bagaimana sekelilingnya menyikapi diri seorang anak. Kalau ‘anak-anak berumur tanggung’ itu dibilang lemah jiwa dan mudah dicuci otak, saat ini saya sudah nggak hidup lagi. Grrr.

Kemudian pernyataan bahwa anak-anak yang sibuk dengan internet itu sangat membahayakan. Ya, benar. Sangat benar. Oleh sebab itu, internet kini dilengkapi dengan zona anak-anak dan lain-lainnya. Dipakai, dong.

“Semoga kita bisa share ke beberapa teman untuk lebih mendalami lagi kartun atau permainan yang ditonton anak-anak lewat intenet”? Buat apa? Mencegah bunuh diri di usia muda terjadi? Lucu, ya.. Masalah bunuh diri, dikira hanya sebatas ‘kartun apa yang ditonton’. Bunuh diri itu beda dengan seks bebas.. Tidak sesederhana pernah menonton sekali, lalu penasaran seperti apa rasanya. Seks bebas selalu dikaitkan dengan ‘enak’, sementara kematian diasosiasikan dengan ‘sakit’. Jadi, tolonglah mengerti, bunuh diri bukan perkara sesederhana itu..

Mau anak Anda tidak bunuh diri? Buat dia bahagia! Tahukah Anda, bahwa ketika Anda memutuskan untuk memiliki anak, Anda punya kewajiban untuk membuatnya BAHAGIA?

Anak yang berbahagia, mau disuruh nonton apa pun yang berkaitan dengan bunuh diri juga, nggak akan terpengaruh untuk bunuh diri. “Suicide may be peaceful, but I’m living a happy life. So why bother?”

Ini lagi, jangan kasih kamar anak kunci. Mereka punya privasi yang kadang tidak bisa disentuh siapa pun. Janganlah memaksa. Kalau Anda cukup dipercaya oleh anak-anak Anda, mereka sendiri tidak butuh kunci itu, kok. “Supaya orang tua bisa pantau terus”? Situ orang tua atau anjing penjaga?

Kalimat berikutnya paling membuat saya tidak habis pikir.

“Ngeri banget, jahatnya kartun-kartun itu memengaruhi anak-anak”.

Jadi yang jahat, kartunnya?

Baiklah. Kartun itu jahat. Baiklah, kartun itu dibuat untuk menghasut anak-anak bunuh diri. Baiklah, kartun itu punya daya cuci otak yang luar biasa agar anak-anak bunuh diri.

Namun, sebelum menyebut kartun itu jahat.. Apakah Anda, sebagai orang tua, tidak mau mengakui bahwa Anda juga jahat? Tidak menyadari kecenderungan bunuh diri yang telah anak Anda miliki, entah sejak kapan?

Ya, kemungkinan besar kartun yang disebut-sebut itu memang memiliki pengaruh. Tapi, kecenderungan bunuh diri tidak timbul hanya dari satu aspek sederhana seperti itu. Aspek yang Anda sebut ‘jahat’. Tapi Anda enggan menyebut orang tua yang anaknya bunuh diri sebagai ‘jahat’.

Kebahagiaan anak itu, tanggung jawab orang tua.

Kalau anak Anda boros, tak pernah bersyukur, selalu tak puas—artinya ada yang salah dalam didikan Anda. Anak tumbuh dengan melihat punggung orang tuanya, kan?

Makanya, saya mohon. Sangat.. Tolong, berkacalah dulu pada diri sendiri. Apakah Anda sudah menjadi orang tua yang baik?

Tidak ada orang tua yang mendapat nilai sempurna. Semua punya kekurangan. Dan bila anak Anda bunuh diri, itu bukan KEGAGALAN DALAM MENGAWASI, melainkan KEGAGALAN DALAM MEMBUATNYA MAU HIDUP.

Inti dari bunuh diri adalah tidak ingin hidup lagi. Dan sebagai orang tua, Anda membantunya tertarik dalam hal-hal terkait bunuh diri. Kartun itu mungkin memberikannya keberanian untuk bunuh diri, namun percikan keinginan menghentikan hidup itu ada dari ketidakpekaan Anda, sebagai orang tua, untuk melihat kondisi anak Anda yang sedang tidak bahagia (dan tentunya, butuh pertolongan).

Bukan cuma orang dewasa yang bisa merasakan depresi.

Anak-anak juga bisa. Berhentilah memaksa anak-anak untuk hidup dengan pola pikir orang dewasa. Biarkanlah mereka tumbuh sesuai dengan usia mereka.

Kalau tidak mampu—jangan sekali-kali Anda mau jadi orang tua.

Saya mohon.

Terima kasih sudah membaca.