Sabtu, Mei 23, 2015

Selasa, Mei 19, 2015

Untuk Seorang Teman Baik

Untuk temanku yang sangat baik. Yang senang tertawa dan membuat orang bahagia.

Kisahmu itu bukan cerita baru. Ketika kamu pikir telah menyembunyikan muka dari orang-orang dan menyimpannya sendiri dalam kamarmu, percayalah, beberapa sudah bisa mengira tentang keadaan yang ditutup-tutupi.

Dulu pernah kukatakan pada seorang kawan kita--"Orang yang banyak tertawa, biasanya adalah yang paling sedih." Dan bila melihatmu bersedih kemarin, maka buatku itu jadi menyenangkan. Sebab barangkali, ada kelegaan sedikit yang mengisi ruang dalam pikiranmu. Tak terlalu acakadut.

Memang kamu minta aku cuma mendengarkan. Tapi bicara adalah dua per tiga dari bagian tubuhku. Menahannya akan jadi bom waktu. Maka, maaf, aku berakhir dengan tetap bicara di sini.

Sungguhlah, apa satu kali kecewa harus dilanjutkan dengan membentuk kekecewaan yang lain? Harapannya, kamu tidak terlanjur nyaman pada dunia yang kamu tempati sekarang. Dan kebaikan dunia tidak membuat jadi berhenti merasakan perasaan. Terlalu banyak hal menyenangkan yang aku alami karena kamu ada, dan jadi menyedihkan bila tahu kamu tidak menikmati tiap-tiap yang terjadi.

Menjadi kalah bukan alasan untuk berhenti melakukan apa pun. Kamu sadar tentang apa-apa yang kamu tinggalkan, dan itu cukup untuk menjadi titik mula kamu bertanggungjawab atasnya. Kamu masih belum hilang kesadaran, dan itulah yang perlu disyukuri di waktu kini.

Juga, itu bukti bahwa kamu masih belum mau menyerah. Hanya pelan-pelan dan tanpa sadar, mengikat diri pada keputusan untuk berdiam diri. Membiarkan waktu berlalu seadanya. Lalu kamu batal bahagia.

Jangan begitu. Jangan sekali-kali begitu. Karena kamu tidak tahu bagaimana teman-temanmu, teman-teman kita, selalu bicara dan mencari kamu. Tentang hal-hal baik dan nostalgia indah. Kamu punya kemampuan untuk dikenal orang dengan lebih jauh. Karenanya, ayolah berjalan lagi dan bangun dari tempat kamu mati suri.

Gagal tidak berlaku selamanya. Tidak permanen cacat seumur hidup. Yang diperlukan cuma bangun. Pukul tembok imajinernya. Kalau tak bisa, dipanjat saja. Alam pun telah kamu taklukkan, kenapa tak bebas oleh tugas dari manusia?

Berhentilah menghitung-hitung angka, bila jumlahnya tak hendak kamu bayarkan. Dijegal takut dan khawatir. Ingin berakhir dan menutup buku. Bila memulai bangkit terasa sulit, maka berhentilah dulu dari hal-hal itu.

Enam tahun bukan waktu yang singkat. Banyak petualangan telah kita jalani bersama. Tak sekecil pun aku ucap keluh, sebab yang kutahu, kamu adalah orang yang sangat mampu untuk berusaha.

Terima kasih karena telah jadi sumber semangat. Pencipta senang yang setia di waktu-waktu temaram. Kamu bisa kalahkan apa pun. Kamu bisa lakukan apa pun. Asal berhenti yang menunda, dan memulai yang membangun.

Tidak ada yang remehkan kamu. Kamu pun tak punya hak untuk lakukan itu.

Siap, ya?

Kamis, Mei 14, 2015

Pinta

Aku selalu, dan ingin mencintai kamu sebagai laki-laki.

Sebab untukku, kasih sayang pada manusia adalah rasa paling sederhana. Diberikan pada siapa saja yang hidup dan berhak hidup, yang mengenalku dan mengetahui aku—apa pun keadaannya.

Kamu, tak cukup biasa untuk sekadar ada dalam jajaran “manusia” itu. Bukan pula maksudku menjadikan laki-laki lebih baik dibanding manusia.

Aku tidak feminis. Kesetaraan untukku adalah mengisi satu sama lain, dengan peran yang mampu dijalani kemampuan diri masing-masing. Seperti bercermin—kuangkat tangan kananku, maka kauangkat tangan kirimu. Berhadapan dan bersatu. Tiada yang menguasai satu sama lain. Bila kakimu berjalan, aku pun demikian. Ketika jatuh, kita berangkulan.

Aku selalu, dan ingin mencintai kamu sebagai laki-laki.

Maka jadilah demikian, sesuai dengan yang kamu bisa. Sebab yang tidak dapat diterima bukanlah ketidakmampuan atau kelemahan pribadi, melainkan ucapan yang tak senada dengan perbuatan. Tidak sama dengan tidak, iya sama dengan iya.

Bagaimana pun, aku pasti bersandar. Karena kamu adalah pengisiku, laki-laki yang telah dipilih. Setelah cerita-cerita dan pengalaman buruk-baik. Aku bertahan dengan alasan. Jangan biarkan itu hilang dan mencipta kosong yang lebih besar, melompong lalu kehilangan akal.

Jadilah dirimu sendiri—tentang bagaimana kamu mendefinisi kamu, dan tunjukkan kenyataan yang sesuai. Dari situlah kamu menjadi laki-laki. Tak selalu harus dengan tubuh besar, suara berat, dan kata-kata perihal kebanggaan, yang barangkali tak semua benar. Tak selalu harus begitu.

Kita tidak sedang saling mendekati. Itu sudah berlalu lampau.

Aku selalu, dan ingin mencintai kamu sebagai laki-laki.

Semoga bisa dimengerti. Teruntuk manusiaku, laki-lakiku.