Jumat, Maret 25, 2011

#dearmom

Meski terlambat, selamat atas pernikahanmu.

Pernikahan tanpa pengesahan. Tanpa izin oleh pengecut yang masih tinggal menumpang, dan berani-beraninya mengucap hukum agama.

Aku tidak perduli siapa yang benar dan bagian mana yang salah, karena aku bersumpah untuk lepas tangan dunia dan akhirat. Berbahagialah, aku cukup memperhatikan.

Bila maumu meninggalkan aku, maka tinggalkanlah.

Seperti balita yang kau sisakan air susu, lantas tenang tanpa rengek manja. Yang bercengkerama dengan sastra, seni, dan matematika. Lalu berubah menjadi diriku yang sekarang.

Bila maumu meninggalkan aku, maka tinggalkanlah.

Seperti anak bungsu yang kau biarkan sendiri saja di rumah. Sementara anak lelaki kesayanganmu dibawa sampai ke ujung dunia, tanpa bertanya kabar pada anak sulung yang depresi menganggap dirinya sebagai anak yang tidak diinginkan.

Bila maumu meninggalkan aku, maka tinggalkanlah.

Seperti perempuan puber yang lupa di mana rumah yang seharusnya. Namun di lain waktu, kau bawa kebahagiaanku dan membiarkannya menghubungiku dengan parau dan ketakutan, bercerita bahwa dirinya bersembunyi karena takut-takut dibunuh.

Bila maumu meninggalkan aku, maka tinggalkanlah.

Sesuai dengan diriku kini, yang tahu sebagaimana indahnya sentuhan dan perihnya ditinggal sendirian. Aku paham perasaanmu. Sungguh paham. Oleh karena itu, kubilang, berulang, bila maumu meninggalkan aku, maka tinggalkanlah..

Tetapi..

Jangan setengah-setengah. Tinggalkan seluruhnya.

Seperti balita yang masih kau kecup selamat tidur, kala itu. Yang kau berikan tangan untuk dipeluk, dan kau manja dengan ala kadarnya, namun membuatku bahagia.

Jangan setengah-setengah. Tinggalkan seluruhnya.

Seperti anak bungsu yang sebelumnya kau jaga, tetapi kau tinggalkan dengan orang yang berbahaya. Dan, setiap hari kau tanya, “Apakah Dinda sudah pulang? Sudah bersih-bersih? Dan sudah makan?”

Jangan setengah-setengah. Tinggalkan seluruhnya.

Seperti perempuan puber yang menemanimu di setiap perjalanan menuju persidangan. Mendengarkan amarah melalui selular, dan membantumu mengembalikan warna telinga, hidung, mata, dan pipi yang merah karena mengeluarkan air mata.

Jangan setengah-setengah. Tinggalkan seluruhnya.

Sesuai dengan diriku kini. Yang kau campakkan tetapi masih kau harapkan. Setelah sebelumnya pernah kau katakan, “Yang penting, untuk anak-anak..” Tinggalkan saja aku. Tak apa, sungguh tak apa. Pun engkau beradu di paraduan, aku akan baik saja. Kalau memang hanya masalah waktu, maka, tetap, jangan setengah-setengah.. Tinggalkan seluruhnya.

Keduanya adalah lelaki pilihanmu. Terlepas dari kecelakaan, atau tidak. Salah satunya mengalir dalam darahku, dan tidak kupungkiri keadaannya. Aku tidak menerima keduanya. Tetapi bila kau menginginkan mereka, maka lakukan sesukamu.

Bila akhirnya kau memutuskan untuk memilih satu dan pergi bersamanya, lantas pergilah.

Dan, jangan setengah-setengah.

Tidak ada yang membicarakan kematian di sini. Seperti yang pernah seseorang petuahi padaku, “Asal kita tahu keadaan masing-masing ialah baik saja, kita tidak perlu berjumpa dan mengucap semalam.”

Ketika di lain sisi aku terus bersyukur pada Tuhan karena aku tidak kekurangan sesuatu apa pun, aku di sini sibuk menangis tanpa menyebutkan ada permasalahan apa. Inginnya menyalahkanmu, tetapi tidak bisa. Karena, keberadaanku yang salah.

Ketika di lain sisi aku mengingat manusia-manusia yang sibuk mencintai peranmu, aku di sini sibuk mengeluh dan meminta. Inginnya menyalahkanmu, tetapi tidak bisa. Karena, keberadaanku yang salah.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Terima kasih. Terima kasih.

Terima kasih.

Apa pun itu.

Aku sayang Bunda.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall