Selasa, Maret 01, 2011

Amoral

Sudahlah, cukupkan saja bicaramu.

Segera turunkan baju, dan tanggalkan pengait-pengait yang menghalangi pandangan. Lucuti milikku, kemudian mendekatlah. Tidak perlu pakai ucapan, ‘kan kusapih kudapan, perlahan, ke dalam ranum yang tidak bernama.

Jangan berontak, dan jangan berucap. Kalau desah menggelisah bisa lebih jujur menjawab pertanyaan dari derau debat, maka mari kita lanjutkan. Sehuruf ‘A’ akan menjadi tanda persetujuan, sekira dirimu dan aku akan berbaring dengan pusara malu yang melompat ke depan dan belakang.

Persetan!

Untuk apa mencari alasan lagi, ketika bibirku mencubit apa-apa milikmu, dan tubuhmu menggelinjang pasrah tanpa perlawanan? Cukupkan bicaramu, dan nikmatilah! Semua akan baik-baik saja.

Bahasalah yang tidak menyatukan ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’, tetapi bahasa tubuh menceraikan semuanya untuk melebur jadi satu. Kalau kamu senang, menjeritlah, “IYA!” dan sekali pun tidak senang, teruslah bergairah hingga lepas malam.

Kamu akan terbangun dengan lengan yang melingkar. Merasa hina, namun ketagihan. Munafik. Tetapi, datanglah kembali. Dengan racauan yang akan kucegat dengan bondong liur lidah. Kemudian, akan kupaksa dirimu seperti sebelumnya.

Berhentilah bicara, dan poloskan dirimu.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall