Manusia selalu bertanya akan hal yang tidak mengenakan hati. Tetapi, disadari atau tidak, mereka tidak mempertanyakan pada hal yang membahagiakan diri. Pernahkah kamu mendengar seorang pria kaya bertanya, "Mengapa aku harus dilimpahi harta?" atau wanita cantik bertanya, "Mengapa aku molek dan mempesona?" Kukira, kamu tidak pernah mendengarnya.
Banyak sesuatu yang tidak dipahami anak-anak. Namun, sebenarnya, kita lupa bahwa semakin bertambah usia, ternyata kita kembali menjadi anak-anak.
Dahulu, aku bermain bergandengan tangan dengan semua teman-temanku. Perempuan, atau laki-laki. Seiring berjalan waktu, sedikit demi sedikit aku, atau mungkin kita, merasa enggan dan tidak mau saling bersentuhan. Kini? Melepas pakaian bersama pun bukan lagi hal rumit. Seperti dahulu, waktu masih kecil.
Kamu tahu, jarak terdekat antara manusia ditentukan oleh bibir. Yang entahlah itu terbuka, atau menyatu. Bukan tangan atau kaki. Bukan hidung atau pipi. Bibir. Dua pasang bibir.
Anak-anak bertanya, "Mengapa papa dan mama berciuman?" karena mereka tidak tahu apakah itu hal baik atau buruk. Orang dewasa tidak bertanya, "Mengapa kita berciuman?" karena seharusnya tahu, bahwa memang saling menginginkan. Sampai waktu, entahlah, mengapa jarak terdekat ditentukan oleh bibir. Dua pasang bibir.
Mengapa manusia berciuman? Coba tanyakan itu pada Tuhan yang tidak melarang sentuhan. Kahlil Gibran bilang, manusia menutup mata ketika berciuman, karena hal terindah di dunia tidak terlihat. Mengapa manusia berciuman? Mengapa?
Injil mengatakan Adam dan Hawa telanjang di surga. Mereka memakan buah pengetahuan dan akhirnya berusaha menutupi daun mereka karena rasa malu. Qur'an mengatakan Adam dan Hawa memakai pakaian. Setelah memakan buah terlarang, pakaiannya menjadi compang-camping. Aku mengatakan Adam dan Hawa, memakai atau tidak memakai pakaian, bosan hanya bergandengan tangan atau berpelukan. Lalu mereka mencoba berciuman, menggunakan dua pasang bibir, lalu menjelajah ke tempat-tempat lainnya dengan bibir yang sebelumnya dikulum atau terkulum. Merekalah yang memulainya, memulai ciuman.
Mereka bingung apa lagi yang belum mereka sentuh dan rengkuh. Lantas sadar bahwa bibir mereka belum menyentuh dan merengkuh. Kemudian, mereka diusir dari surga.
Mereka mengajarkan anak-anak mereka.
Mereka menjadikan ciuman sebagai naluri lahiriah.
Sampai pada saat ini tiba.
Dan sebagian dari kita telah melakukannya.
aku belum lhooo :p
BalasHapusMasa siiih :b
BalasHapus