Tidak mungkin kalau aku berdiri, membawa kopiku yang sengaja tidak juga kuhabiskan karena menurut dirinya yang juga tidak mencumbu gelasnya, dan menghampiri dia. Mengatakan bahwa aku melihat dirinya sedari tadi dengan seksama, bahkan sebelum dia memutuskan untuk melahap apa yang tengah dikunyah kini. Ya, aku memperhatikan bibirnya, giginya, lidahnya, bahkan gusinya yang segar, memikirkan berapa jumlah harta tak bertulang yang pernah terkulum di dalamnya, bercinta.
Dahinya dikerutkan. Jemarinya menyentuh dagu dengan janggutnya yang tipis, atau rambut di kepalanya yang juga tipis, dipotong necis. Sorot matanya tajam dan aku percaya dia berintuisi tepat. Bila kuberikan tulisanku ini padanya, aku yakin dia hanya tersenyum dan menyungging bibirnya ke kiri.
Aku benci dia, entah mengapa.
Tetapi dia menjadi fatamorgana sekarang, tanpa sempat kusapa selamat siang, hingga aku tidak tahu apakah dia nyata atau mimpi belaka.
Aku benci dia, entah mengapa.
Tetapi setiap hisap rokoknya membuatku tetap di sini. Ya, aku benci dia karena tidak menyadari bahwa aku menunggu dirinya menghabiskan santapannya, pergi dari sini, meninggalkan aku, lantas semuanya tenang kembali.
Siapa dia? Dari mana asalnya? Bagaimana bisa berada di sini? Harusnya dia tahu bahwa sedang diberi pertanyaan yang pantasnya dia jawab karena takdir Tuhanlah yang membawa dia ke sini, sampai dengan kebetulan, yang disengajakan, kemudiannya diluruskan, dibenarkan, lalu dipaksa jadi kenyataan, dan dibulatkan sebanding perkenalan..
Sungguh, dia tidak dapat dimaafkan. Sama sekali tidak. Sama sekali tidak termaafkan.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!