Maka ia menjawab:
Cinta adalah rasa, Sayang. Sebuah penyedap di antara kecup yang selalu kau tagihkan di bibirku. Manis kalau kusebutkan, "Aku mencintaimu," dan sebagaimana disesuaikan akan kebalikannya. Namun, seperti yang kusampaikan.. Cinta adalah rasa, Sayang. Penggugah di sela-sela ciuman yang panas dan basah. Tak perlu makna, tak butuh logika.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!