Selamat pagi.
Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Tuhan selalu bersamamu.
Aku tidak bisa menanyakan apa kabar. Karena tanpa perlu saling melempar basa-basi, tentunya kita saling tahu keberadaan masing-masing. Sahabatmu mengerti tentang bagaimana perasaan benci yang tumbuh liar di dalam dirimu. Sementara, sahabatku tahu tentang logika iba yang aku utarakan karena kehidupanmu yang begitu sempurna dengan petik sebelum dan sesudahnya.
Aku selalu ingin bicara dan menyampaikan rasa. Membiarkan kamu mencoba tulisan-tulisan dari suara yang selalu terendahkan. Aku paham sekali tentang posisi atas dan bawah. Kamu dan aku. Kamu banyak membicarakannya. Aku melihatnya sebagai selimut ketakutan.
Padahal, aku menjaganya untukmu. Banyak yang tidak kamu ketahui tentang waktu satu tahun atau kurang dari itu. Kalau memang benci, kalau memang rendah, seharusnya kamu mampu berpikir bahwa aku sama dengan pengisi waktu.
Namun, lain ceritanya kalau kamu menemukan cita dalam kesuka-sukaan. Bukan suka yang datangnya stagnan. Melainkan timbul tenggelam. Karena kamu mabuk lebih cepat pada gelas pertama yang belum habis seluruhnya. Setelah menguap, kamu menunggu isian, bukan memenuhinya sendiri. Ketika menunggu, kamu selalu melihat minuman orang lain yang selalu nampak dapat membuatmu lebih berfantasi.
Bisakah berhenti dan tunjukkan harga diri dalam hidup bahagia yang tidak pernah tidak kamu agungkan itu?
Kalau memang benci, kalau memang rendah, apa yang perlu kamu cemaskan?
Logika ibaku ingin mengasihanimu dengan cara yang berlebihan..
huuu artikelnya menyentuh sekali
BalasHapusTerima kasih.
Hapus