"Aku ingin mati di gunung. Di hutan. Yang dekat dengan alam. Jauh dari manusia."
Begitu katamu, sekitar dua tahun lalu. Saat ini, kamu pun sedang memanjat gunung. Orang-orang yang menyayangimu bertanya dengan penuh kesedihan tentang kapan kamu akan kembali. Aku mencoba membuat pengertian, kamu sedang memanjat gunung.
Iya, kamu memanjat gunung. Mendakinya. Mencoba meraih puncaknya. Sendirian. Mungkin dengan Kuku, kucing perak kecil yang tidak membuatmu takut. Aku ingin ikut, tapi kamu bilang belum saatnya.
Kalau kamu sudah sampai di puncak, kemudian kamu akan dihadapkan pada dua pilihan. Tetap berada di sana atau turun pulang. Tidak ada yang bisa memaksamu untuk memilih jawaban. Namun, kalau pulang, aku ingin kamu membawa pesan. Melalui bunga putih yang tidak pernah mati. Padahal, aku sering bilang aku benci bunga. Karena mirip persembahan untuk orang tidak bernyawa. Tetapi, karena ia abadi, maka aku mau menerima, bahkan memintanya.
Semoga kamu cepat mencapai puncak. Kabarilah ketika waktunya tiba. Pulang sebelum sampai pun tak apa. Karena lengan selalu terbuka untuk menenggelamkan kamu dalam pelukan orang-orang tercinta.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!