(Inspirasi dari Sembilan Semar karya Seno Gumira Ajidarma. Dibuat dalam rangka mengisi acara Diskusi Kontemporer di Plasa FISIP UI, 6 Desember 2012)
---
Aku ingin mengisahkan cerita
Tentang lelaki berdada, yang berjambul dan tua wajahnya
Siang itu, ia datang ke Ibukota
Menunjuk langit dan menumpah caci marah lewat getar di bibirnya
Lalu orang-orang bertanya, Untuk apa ia di sini?
Tidak ada yang tidak tahu siapakah ia
Tangan kanannya ke atas, seraya menyimpan kiri di belakang
Maka di bundaran HI itu, orang-orang berkumpul
Melihat pertunjukan makhluk buruk rupa yang kehadirannya menimbul tanda-tanda
Ada apakah gerangan?
Bukankah orang-orang sudah senang dengan ketenangan yang ada sekarang?
Melalui bungkam sepi dari lembar-lembar nominal,
Melalui jalur yang ada di pintu belakang,
Atau,
melalui perpanjangan tangan dari para penjilat; dari para pengerat
Tetapi, ia tidak berhenti
Membikin macet di jalanan, mengkarya sendat yang penasaran
Suara-suara mulai terlisan, Bukankah itu Semar?
Yang datang ketika kebenaran terancam?
Buat apa ia di sini?
Apakah ia tidak melihat berita tentang Ibukota yang bersahaja?
Tentang buncit-buncit yang bersandar santai tidur di kursi parlemen?
Tentang kerontang yang dipilah antara mati atau masuk penjara?
Seorang Komandan mulai beranjak dari kursinya
Hendak naik helikopter untuk menangkap Semar lewat jala
Sebab, Semar yang datang memberi peringatan, hanya akan mengganggu ketenangan
Mengacak tugas dari lembar yang disembunyikan diam-diam
Mengacau birokrasi yang diatur lewat lima, enam, sampai sembilan angka kosong
Menguruskan lemak-lemak yang bercampur dingin darah hitam
Mencabut kuasa atas-bawah dan tinggi-rendah; menyisipkan tengah-tengah
Abdi kebenaran datang mengucap salam pada Komandan
Lebih dulu muncul dan menyapakan wibawa
Tersenyum dan merembes matanya yang basah
Bercerita tentang kehadiran di hiruk yang menambahkan pikuk
Menyampai bahwa ia memberi peringatan
Kalian pikirkanlah sendiri, karena Semar tidak memberi ceramah
Tidak perlu seminar untuk menjelaskan maksudnya
Semar hanya datang untuk memberi tanda-tanda
Kemudian Komandan diam selepasnya pergi
Memikirkan tanda yang sekira Batara Ismaya terkutuk berikan
Iyakah ada yang perlu dibetulkan?
Benarkah hadir sebentuk yang perlu dikendalikan?
Karena sesangkanya,
bukankah korupsi sudah mendamaikan kota di lingkaran setan?
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!