Minggu, Desember 16, 2012

Semar Datang Berkunjung

(Inspirasi dari Sembilan Semar karya Seno Gumira Ajidarma. Dibuat dalam rangka mengisi acara Diskusi Kontemporer di Plasa FISIP UI, 6 Desember 2012)

---

Aku ingin mengisahkan cerita

Tentang lelaki berdada, yang berjambul dan tua wajahnya

Siang itu, ia datang ke Ibukota

Menunjuk langit dan menumpah caci marah lewat getar di bibirnya

Lalu orang-orang bertanya, Untuk apa ia di sini?

 

Tidak ada yang tidak tahu siapakah ia

Tangan kanannya ke atas, seraya menyimpan kiri di belakang

Maka di bundaran HI itu, orang-orang berkumpul

Melihat pertunjukan makhluk buruk rupa yang kehadirannya menimbul tanda-tanda

 

Ada apakah gerangan?

Bukankah orang-orang sudah senang dengan ketenangan yang ada sekarang?

Melalui bungkam sepi dari lembar-lembar nominal,

Melalui jalur yang ada di pintu belakang,

Atau,

melalui perpanjangan tangan dari para penjilat; dari para pengerat

 

Tetapi, ia tidak berhenti

Membikin macet di jalanan, mengkarya sendat yang penasaran

Suara-suara mulai terlisan, Bukankah itu Semar?

Yang datang ketika kebenaran terancam?

Buat apa ia di sini?

Apakah ia tidak melihat berita tentang Ibukota yang bersahaja?

Tentang buncit-buncit yang bersandar santai tidur di kursi parlemen?

Tentang kerontang yang dipilah antara mati atau masuk penjara?

 

Seorang Komandan mulai beranjak dari kursinya

Hendak naik helikopter untuk menangkap Semar lewat jala

Sebab, Semar yang datang memberi peringatan, hanya akan mengganggu ketenangan

Mengacak tugas dari lembar yang disembunyikan diam-diam

Mengacau birokrasi yang diatur lewat lima, enam, sampai sembilan angka kosong

Menguruskan lemak-lemak yang bercampur dingin darah hitam

Mencabut kuasa atas-bawah dan tinggi-rendah; menyisipkan tengah-tengah

 

Abdi kebenaran datang mengucap salam pada Komandan

Lebih dulu muncul dan menyapakan wibawa

Tersenyum dan merembes matanya yang basah

Bercerita tentang kehadiran di hiruk yang menambahkan pikuk

Menyampai bahwa ia memberi peringatan

Kalian pikirkanlah sendiri, karena Semar tidak memberi ceramah

Tidak perlu seminar untuk menjelaskan maksudnya

Semar hanya datang untuk memberi tanda-tanda

 

Kemudian Komandan diam selepasnya pergi

Memikirkan tanda yang sekira Batara Ismaya terkutuk berikan

Iyakah ada yang perlu dibetulkan?

Benarkah hadir sebentuk yang perlu dikendalikan?

Karena sesangkanya,

bukankah korupsi sudah mendamaikan kota di lingkaran setan?

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall