Kukira bulan, ternyata bukan. Samar-samar lampu taman berdiri dengan pancang yang sewarna dengan malam. Mengaburkan cerah abu-abu kekuningan. Tetapi, kalau sama-sama indah, maka tiada yang perlu salah. Tiada yang harus marah. Selama masih diluruskan, selama masih terpahamkan akan beda yang nyata dan yang maya, maka menataplah dan berkaca. Karena cahaya masih dingin, dan sinar tidak berbalik merindumu.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!