Selasa, April 05, 2016

Bukan Manusia

Selama beberapa tahun, perempuan itu telah tumbuh menjadi manusia yang angkuh dengan segala kecukupan dalam dirinya. Ia merasa penting bagi orang lain, dan percaya bahwa dirinya adalah sosok yang tidak bisa terganti oleh siapa pun.
Perempuan yang terampil dalam bertutur kata dan mengolah pikirannya hingga jadi tanpa pola itu, selalu punya makna dalam kehidupan orang lain. Makna yang berbeda dari orang biasa. Ia memang tidak menghabiskan waktunya banyak-banyak dalam satu tempat, namun dipastikan ada banyak-banyak kesan untuknya dalam satu tempat. Entah mengapa.
Mungkin karena perempuan itu punya warna yang sulit ditebak. Ia seperti bunglon yang mampu menyesuaikan diri pada segala situasi, tanpa kehilangan jati dirinya sendiri. Apakah ia hidup bahagia tanpa cercaan orang tentangnya? Tentu tidak. Perempuan itu, bagaimana pun, adalah perempuan yang sungguh menyusahkan. Kalau ada satu gambaran tentang dirinya, maka jawabannya adalah keras kepala. Seperti batu. Bikin orang lain sakit kepala.
Di saat seseorang yang bersamanya mengaduh-aduh akan perilakunya, di tempat seseorang yang lepas dari dirinya akan mengaduh-aduh karena merindukannya. Selalu begitu. Berputar terus. Ia sadar akan kemampuannya, lalu angkuh dan merasa utuh.
Hingga satu hari, perempuan mungil itu bertemu dengan seseorang yang membuatnya retak. Hampir terburai dan tak lengkap lagi. Orang itu, dengan mudahnya telah menghancurkan keangkuhan perempuan logis yang pikirannya secepat cara ia mengucap kalimat. Tentu saja, dengan cara paling cepat dan tepat: menggantikan kehadirannya dengan jarak satu kedip mata.
Ia, seorang laki-laki yang matang pun belum usianya, dengan hati-hati menyebut permintaan tentang keinginan untuk dimengerti dan diperlakukan dengan peduli. Ketika terlambat segalanya, perempuan itu terlanjur tenggelam dengan kesadaran bahwa yang harus dilakukan ialah memaafkan segala tingkah lakunya.
“Memaafkan, tidak berarti harus ada yang meminta maaf,” ujar perempuan yang sedang kehabisan napas itu.
Laki-laki yang mengaku kalah, tapi akhirnya selalu menang itu selalu bertanya ‘Kenapa’. Hanya bertanya ‘Kenapa’. Pada saat perempuan itu bersimbah darah, tercekik, dan kehilangan akal sehatnya, laki-laki itu hanya bertanya ‘Kenapa’. Untunglah, meski gila, perempuan yang belajar berhenti angkuh itu masih bisa memutar logikanya.
“Kata ‘Kenapa’ selalu muncul, karena ia tidak punya kesalahan. Ketika dalam pikirannya ia bersih dari dosa, tentu saja tak mungkin satu pun ‘Maaf’ akan muntah dari kerongkongannya. Ia tidak menyesal. Ia tidak merasa salah—dan siapa yang bodoh untuk mengharap ‘Maaf’, dan bukannya ‘Kenapa’ dari orang yang suci lahiriah dan batiniahnya?”
Maka, sambil terjejas, perempuan itu bergulung dalam tubuhnya sendiri, menertawai diri yang tidak ada artinya pada satu orang yang telah membuatnya berpindah dunia. Dari tempat tinggal yang penuh kekerabatan dan rasa penghargaan, hingga gua tanpa cahaya dan sisa-sisa makanan saja.
Perempuan itu hanya belajar satu: ia tidak boleh angkuh lagi.
Sebab ia terganti. Tidak berarti. Tidak perlu dihargai. Ketidakangkuhan, mengubahnya berhenti menjadi manusia.
“Dan bila menjadi bukan manusia membuatnya bahagia, aku tidak apa-apa,” kata perempuan itu sambil menciumi kaki laki-laki yang bergerak dengan kontrol dari selangkangannya.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall