Rabu, Maret 16, 2016

Sekarang, "Laki-Laki Itu"

Waktu kita kecil dulu, tetuamu pernah cemburu. Membuntuti dan mencari informasi, segalanya agar jadi senjata untuk aku pergi dan lenyap dari bagian otakmu yang belum penuh berkembang. "Perempuan itu," katanya. Bila sekarang bicara, untunglah sudah bisa jadi bahan tawa. Marahmu sudah cukup tunjukkan: aku masih harus ada.

Saat ini, kondisinya berbalik. Kita tak lagi kecil, namun muda selalu andai sedang bertatap muka. Kita tak pernah sampai pada angka seratus, bahkan sembilan puluh pun belum tentu--karena bulat bisa berhenti menciptakan batas, dan ketiadaan batas mampu menghilangkan makna.

Sayangnya, itu sulit dimengerti.

Lalu aku dikurung dalam ultimatum, hadiah pemberian dari orang asing yang mengaku-ngaku tahu soal masa depan. Sungguh aku mau lepas, Mas, namun detik berikutnya kusadar; aku tak terbelenggu. Hatiku tidak berubah--kamu telah tumbuh dalam ingatan.

Mas, rupanya aku tak pernah menulis surat anonim untukmu sebelumnya.

Semoga sampai di waktu tidurmu, semoga tiba waktunya bertemu.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall