Sebab takut pada karma, aku jadi suka bertanya: Apakah Tuhan menerima alasan?
Bapakku geram dari jauh. Tahu anaknya sudah tumbuh, lalu tidur sambil direngkuh. Ngeri neraka, katanya. Dan sebagian tak terima, si Kecil jadi cukup besar untuk belajar menyentuh.
"Tapi Pak, ini bagian kehidupan," kusanggah. Lalu serangan jantung melayang. Bapakku ingat dahulu ia pun demikian, dengan jahat dan tipu daya pula, maka mungkin itulah mengapa ia napas megap-megap.
Dosa bukan hanya selesai di akhirat. Kadang tuntas dan tak lagi dibahas setelah dibalas pada satu garis keturunan. Celakanya, bapak yang buruk tetap ingin punya gadis yang baik.
Shalat-shalat malam adalah ladang negosiasi. Namun Tuhan bekerja dengan lebih bijaksana, lebih perhitungan, dan lebih membabibuta. Prinsipnya sederhana; mata dibalas mata.
Jangan lupa Pak, Tuhan tak punya kewajiban beri kebaikan pada manusia yang berubah baik. Tiada tobat lebih nasuha dibanding saat manusia berbalik kena soal perilaku buruknya.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!