Selasa, Desember 16, 2014

Mendendam Balas

Apakah saya telah melakukan kesalahan?

Menjawabnya dengan tidak, akan jadi munafik. Menjawabnya dengan iya, adalah kebenaran tidak tertangguhkan. Dan atas kesalahan itu, seberapa besar balasan yang perlu saya terima?

Ketika bicara konsep dendam, apakah boleh manusia mendendam pada manusia lain yang merealisasikan dendamnya pada kita? Turut menindak dan bergerak, untuk kepuasan?

Sayangnya, mendendam balas hanya membulatkan lingkaran setan. Di tengahnya ada tumbal yang abstrak—tidak terlihat namun mengambil jiwa-jiwa.

Di sini, saya ingin melakukan pembalasan.

Seperti ritual yang kamu lakukan. Membohongi kamu atas nama cinta dan kasihan. Memeluk orang lain atas nama cinta dan kekosongan.

Ada yang saya bayangkan. Halusinasi tentang tubuh ini, direngkuh tubuh lain, dikecup segala kuncup-kuncupnya, dan dibawa pada keterjagaan jelaganya malam. Dengan senandung-senandung romantis, kami merasa tidak butuh bangun lagi. Hanya terus terkapar, untuk bertukar desah, berbicara tentang kasih sayang, serta memikirkan masa depan. Kami berselimut sambil berangkulan, agar semakin hangat kulit-kulit telanjang ini bersentuhan.

Sampai di sana, siapa yang kamu bayangkan? Sudahkah ada satu nama guna melengkapi khayalanmu?

Lalu, berpikirlah lagi. Saya hadir sambil tertawa, nampak seperti bahagia, dan bicara tanpa hentinya. Tubuh lain itu terlalu gemas untuk membiarkan mulut saya terbuka terus-menerus, maka dilelapkannya apa yang tidak bertulang untuk menyumpal kata-kata. Sebab bahagia adalah menyentuh, bukan bicara.

Saya membiarkan diri untuk melemah. Dirogoh dalam-dalam perasaannya. Mungkin untuk ditinggalkan lagi, tapi tak apa asal kamu sudah terluka sebelumnya. Saya lakukan ini bukan agar tersenyum selamanya, namun biar kamu merasakan seperti apa perih yang tertinggal pada jejas-jejas kelalaian kamu.

Ingin saya lakukan semua yang kamu lakukan dengan perempuan sepuluh harimu. Yang sudah bersebelahan pada keakraban hari pertama, dan diabadikan dalam foto tentang kesatuan keluarga. Yang sudah saya cemaskan sejak lama, karena percaya, itulah sosok yang mampu memenuhi segala kebutuhan kamu.

Namun, kembali lagi, bukankah mendendam balas hanya membulatkan lingkaran setan?

Dan menurut saya, saya tak perlu menodai diri hanya untuk menjadikannya siklus yang sempurna. Tak ada tumbal yang siap saya suguhkan demi kelegaan ini.

Karenanya, saya hanya melakukan pembalasan di sini. Mencoba percaya bahwa pena benar-benar lebih tajam dari pedang. Tenanglah. Hirup dan keluarkan napas pelan-pelan. Bedakan mana kenyataan dan mana imajinasinya.

Sangat baik, bila kamu mengingatnya dalam-dalam. Saya dan orang lain. Satu nama yang tak henti berkeliaran di pikiranmu. Bercinta dan menjaga.

Seperti yang kamu lakukan.

Mata dibalas mata.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall