Untuk perempuan berambut ikal,
seorang adik menurut struktur,
dan memiliki pesona luar biasa.
Belum sampai tiga minggu sejak kamu mengusap lidahmu pada bibir yang kulumat setahun penuh. Baru lewat dua hari dari genap dua minggu sejak kamu merasakan hangatnya lengan besar yang menemani sepanjang tidurku. Masih enam belas hari sejak kamu terakhir melakukan segalanya—bersandar, berpelukan, bertukar ludah, menyatukan keringat, bersahutan desah, berbagi kulit, dan bergantian mengecup batang-batang leher dan sebagian dada kalian.
Tentu saja, aku menulis surat ini dengan tubuh gemetar. Bergemuruh bunyi dalam diriku, mencoba menangis dan berteriak. Tapi tidak bisa. Tidak ada izinnya.
Kamu telah mengalahkan aku atas banyak hal, Sayang. Laki-laki yang pernah kita bagi itu, bukan sembarang orang yang hanya mencari makhluk bervagina. Meski dikatakan bahwa ia melibatkan kamu karena kekosongan yang terasa sama, percayalah itu hanya sepertiga dari alasan sesungguhnya. Dan percayalah, menjadikanmu sebagai alat balas dendam juga hanya sepertiga alasan yang lain.
Meski tidak mungkin diakuinya, dibantah berulang, dan berakhir dengan keributan, ia memilihmu karena kamulah yang tercantik di antara yang lainnya. Kecantikanmu, keunikan, suara, dan bagaimana kamu berlaku, adalah sebongkah alasan yang disimpannya ketika ia memilih kamu.
Tidak sepenuhnya bohong, saat ia bilang ia mau kamu. Kalau aku tidak bergerak, laki-laki yang kamu sebut Serigala itu pasti saat ini ada bersamamu, dan tidak akan pernah pergi. Mungkin Serigala ini memang pengecut, tapi ia tahu cara menyenangkan pasangannya. Kalian tidak akan berlalu sebagai pasangan palsu, seperti yang orang-orang pendapatkan.
Kamu telah mengalahkan aku, lewat bagaimana ia terburu-buru mengambil tubuhmu sebelum dibalap orang lain. Ia lupakan ada di mana posisinya, siapa yang ia lawan, serta apa yang akan ia hadapi. Keberanian itu dipertaruhkannya, dan dari sana aku percaya, aku memang sudah kalah.
Entah untung atau tidak, keegoisanku rupanya lebih besar untuk tetap memenangkan pertandingan. Sesuai dengan apa yang kamu bilang, keputusan ada di tangannya, bukan?
Adik strukturalku, yang berambut ikal, yang berpesona luar biasa.
Aku punya banyak pertanyaan. Tapi, aku harus belajar untuk tidak memaksakan diri mendapat jawabannya. Biar kutulis agar lega, dan jadi bahan pertimbangan kalau-kalau kamu baca.
Aku selalu ingin tahu. Apakah romansa sepuluh hari telah menyelami dirimu jauh lebih dalam dibanding yang kamu alami sebelumnya? Aku tidak boleh menghakimi, tapi aku terus bertanya-tanya. Kamu yang cantik, unik, dan bersuara indah itu, apa iya memenuhi definisiku tentang perempuan murahan? Di mana ia menggadaikan tubuhnya untuk hatinya? Mohon jangan tersinggung. Aku tidak merasa diriku mahal, tapi aku memang tidak mengobral hati semudah yang telah kamu lakukan.
Kemudian, kamu perlu tahu. Aku masih menangis kapan pun dan di mana pun, setiap kali teringat tentang aksi panas yang kamu dan Serigalamu itu lakukan. Tetap melukai diriku sendiri. Perlu segalanya yang berwarna merah atau biru. Ketakutan. Padahal, sudah jelas saat ini akulah yang direngkuhnya. Sudah berlalu beberapa lama, meski belum terlalu lama. Dan ketika menghitung waktu, lantas timbul pertanyaan: tidak pernahkah kamu berpikir bahwa mungkin saja kamu hanya dijadikan pelarian? Tidakkah kamu ketakutan? Seseorang dengan pengalaman ditindas sepertimu, rupanya punya kepercayaan diri luar biasa, kalau-kalau kamu tidak ada ketakutan seperti itu.
Kamu sudah memecundangi aku, di kala ia dengarkan pendapat-pendapatmu tentang aku. Ia lupakan aku yang pernah ia lihat, sebab yang ada di matanya saat itu adalah kamu. Aku sempat mencoba kuat dan ikhlaskan kalian berdua, tapi pikiran egoisku menegaskan bahwa perempuan yang takut menghadapi rintangan untuk mendapatkan si Serigala, tidak akan pantas untuk berada di sampingnya. Kamu hanya akan merusak apa yang telah kubangun dengan susah payah.
Menurutnya, kamu adalah perempuan yang berbeda. Karena itu, kamu dipilihnya.
Aku memang ingin kamu membencinya, menganggap yang telah terjadi sebagai pengalaman hidup ala Barat, dan bangkit untuk memperbaiki diri. Memang terdengar munafik, karena aku pun belum baik, tapi aku tidak menggunakan kebohongan untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Lain dengan yang kamu lakukan. Itu sedikit hal darimu yang aku kalahkan.
Sayangnya, aku takut ialah yang justru tidak menganggap dirimu demikian. Bagaimana pun, pengetahuanku terbatas. Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan selama dua malam berturut-turut, apa yang kalian bicarakan, apa yang telah kalian bagi, apa yang sudah dirasakan. Perih bila membayangkannya, tapi menjadikan itu imajinasi ternyata masih mampu membuatku tinggi dan terbang jauh.
Cintailah dia saat aku sudah tidak ada. Bagaimana pun, sempat kukatakan, kalau kamu dan Serigalamu memang saling suka, sebenarnya aku tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya, cintailah dia saat aku sudah tidak ada.
Pada tahap ini, aku sudah mulai menangis.
Lalu kuingat dirinya sedang merengkuhmu dalam, menciummu berulang, di hari yang sama saat tak berhenti tangisku selama dua malam. Ia bilang, ia lakukan itu karena aku bukan miliknya. Namun yang kupahami, ia lakukan itu karena hanya kamu yang ada dalam pikirannya.
Tidak perlu ada yang jadi korban. Cukup tunjuk saja aku sebagai tokoh jahatnya. Aku seorang. Bukankah aku yang mengambil kebahagiaan darimu?
Perempuan semata wayang ayah dan bundanya,
teruslah bersinar dan hargai apa yang ada, ya? Biarkan saja tentang yang orang katakan tentang kamu. Barangkali, itu akibat dari apa yang juga pernah kamu katakan tentang orang lain. Jangan jadi lemah. Jangan berbohong. Kamu jauh lebih baik dari ini. Sekarang pun, kamu sudah melebihi aku dalam banyak hal. Ingat saja: semua ada waktunya.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!