Sabtu, Oktober 17, 2009

Kecup Pertama

Apa kamu tahu kabarku sekarang?

Sayang, permainanku memang masih berlanjut. Aku teringat permainan kita dahulu, di sekolah, lama setelah bel pulang. Tidak hanya ada kita, tetapi beberapa lain di mana sama-sama bejat. Tapi aku menikmati, karena yang terlarang itu membahagiakan.

Oh, aku tentu sadar itu hanya kebodohan yang tidak tersengaja. Tapi berlanjut hingga hati yang kebas semakin melemas, lalu tidak pernah bisa lepas. Terikat tanpa pikat. Sayang dalam penuh malang. Berdiam-diam, sambil mengidam-idam. Anak kecil..atau remaja?

Lalu, cahaya yang membias di antara kisi-kisi jendela kelas itu menghidupkan apa yang mati. Dengan kamu yang berdiri di samping mejaku, dan aku yang duduk terdiam. Di hadapan kita ada banyak manusia yang tertawa-tawa. Ada yang saling menghina. Tapi satu, mereka bercanda. Dan kita tidak berada pada salah satu di antaranya.

Apa yang ada padamu itu mengundang. Sedikit sentuhan luka-luka, kekerasan yang bukan maksud kejantanan, dan suara-suara bising yang tetap bernada membisik. Aku menerima ajakanmu, dan kita bermain.

Tentu, tanpa perasaan.

Dengan kesepakatan.

Hingga sekarang, atau hanya untukku saja?

Hihi, tangisanku dan tangisanmu yang bersatu waktu itu mencipta kecupan rupanya. Tidak mungkin masih terasa panas dan basahnya, tapi aku cukup berdegup bahagia untuk mengingat. Lantas kita tertawa, malu-malu.

Sayang, tidak ada lagi cerita itu. Aku belum bisa lagi berbahagia, meski beribu permainan telah aku menangkan dengan telak. Tenang saja, aku tidak memintamu untuk kembali bermain bersama seperti dahulu. Kisah lama akan ada di dimensinya, dan aku akan tetap berjalan pada apa yang kusebut jalan masa depan.

Terima kasih atas pertama yang kamu undang.

Aku berbahagia atas pernikahanmu, pengisi remajaku.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall