Tuhan punya kebiasaan meletakkan aku pada antara. Tak lebih, tak kurang. Beri kesempatan untuk memilah ingin jalan yang mana, apakah untuk maju atau sebaliknya jatuh.
Suatu hari, Ia tak sengaja jadikan celaka. Digesernya satu, dua, bahkan hingga lima buku agar aku dekati surga. Sambil menggaruk belakang kepala, Ia bilang, "Ah, sudahlah! Biar sisanya kamu yang usaha."
Aku pun terjebak meronta pada curam yang asing. Kesulitan memanjat karena kehabisan napas, tapi ketakutan mati bila berhenti melangkah. Lalu semuanya berubah jadi serba salah.
Aku melolong tolong, pun berakhir kosong.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!