Selamat malam, Mas.
Di sini sudah hampir pukul tiga pagi. Apakah kamu sedang melakukan sesuatu? Dulu, biasanya kamu tidur-tiduran sambil menghadap laptop. Mengerjakan tugas sambil memeluk guling putih yang kuyakin sebenarnya sudah minta ampun kotornya. Kita tak perlu bicara, yang penting saling lihat saja, lalu secara acak menyampaikan pemikiran masing-masing.
Entah itu soal aku yang lapar.
Kamu yang kelelahan.
Aku yang kehabisan akal.
Kamu yang dapat pesan.
Aku yang mulai meram.
Kamu yang mulai bosan.
Aku yang rindu.
Kamu yang rindu.
Sudah lebih setengah tahun kita tidak bicara, Mas. Beruntunglah aku masih hidup sampai sekarang. Masih utuh. Meski tenagaku habis. Uangku habis. Kesabaranku habis. Air mataku habis. Semata karena satu manusia yang sebelumnya pernah kamu ingatkan untuk jangan dilanjutkan lagi. Maaf, sungguh-sungguh minta maaf karena tidak kudengarkan. Kamu benar, sekarang aku selalu di bawah ancaman. Begitu jahatnya ia sampai di kala bersama, aku sering tak yakin dapat pulang dengan bernyawa.
Dan akhirnya, ingatan tentang kamulah yang selalu kembali menyelamatkan aku. Tentang masa kecil. Tentang masa remaja. Tentang beranjak dewasa. Tentang segala wacana dan peristiwa nyata yang ada. Seluruhnya sederhana, tidak ada yang istimewa atau "pecah" seperti kata anak-anak sekarang. Meski barangkali bertepuk sebelah tangan, tapi aku kepadamu adalah penyelesaian buncah emosi yang paling aman untuk kulakukan.
Berulang kali aku berbisik agar jangan melukai diri. Sebab sudah tidak tahan lagi, tidak mau lihat wajahnya lagi. Tapi aku berujung selamat bila memutar rekaman gerak dan suara kamu dalam kepalaku. Berubah tenang. Seperti percaya akan baik-baik saja. Pun tak ada jaminan kita akan bertemu kembali, aku tak keberatan.
Mas, apa kabar? Kapan pulang? Kalau boleh, aku ingin satu kota lagi. Siapa tahu tak sengaja berpapasan di jalan. Semoga masing-masing sendiri, agar aku bisa lepas tangisku yang sengaja di simpan demi momen sentimental bersamamu.
Sejak kecil, aku sudah menyusahkan. Terlalu manja dan sering meminta. Bisa jadi ini karmanya.
Jangan pergi jauh-jauh lagi, Mas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!