Saya ingin mendengar cerita tentang sepasang orang tua yang mengerti bahwa anaknya bisa merasa sedih, depresi, dan perlu dipenuhi keinginannya.
Atau, memang semua orang tua cukup memberi kebutuhan primer, sandang, pangan, papan, lalu mereka berpikir pekerjaan mereka berhenti sampai di sana?
Bolehkah saya berhenti mengucap syukur sejenak, lalu memikirkan tentang perempuan-perempuan, kawan saya, yang orang tuanya tahu kebutuhan mereka mendapat hiburan? Lalu mereka bisa bersenang-senang sambil tetap mengingat orang tuanya ada di rumah, menunggu mereka pulang dengan selamat dan berbahagia?
Apakah itu yang dimaksud berada di ‘jalan yang benar’?
Jalan Tuhan? Beribadah? Sembahyang wajib dan sunahnya?
Apa yang saya dapatkan selain ridha Tuhan apabila melaksanakan perintah-perintahNya?
Apakah saya masih akan tetap hidup sampai sepuluh jam ke depan?
Saya ingin hidup untuk saat ini.
Cukup itu.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!