Bibirku sudah habis dikuliti lebih dulu, sebelum perbincangan romantis ini berakhir
Aku meremas pergelangan tangan dan mencabiknya diam-diam, meninggalkan bekas biru dan merah sebagai ganti dari bibir yang belum puas kubuat berdarah
Sampai sakitnya mulai terasa, aku mencari kulit mati di sela-sela kuku untuk kutarik dan membuat perihnya terbuka
Lalu berpura-pura mencucinya dengan pembersih tangan instan, agar merembes ke dalam luka
Menambah cekat tenggorokanku yang sudah tertahan sejak awal ucapan terlontar
Gigiku sudah tidak menggerutuk, ia lupa caranya dan ia tidak mampu mengatur besar suara
Ia terlalu takut untuk menggigit lidah sampai setengahnya, maka sedikit saja ia mengatupkan diri pada papila, sampai berbekas merah dan sariawan parah
Dalam bayanganku, pulang nanti aku akan menggantungkan diri
Tapi, di mana? Dan dengan menggunakan apa?
Aku hanya ingin menulis wasiat, membiarkan banyak orang membacanya, dan membuat sesal seumur hidup pada orang terakhir yang mengajakku bicara
Pada orang yang mengomat-kamitkan mulutnya sambil menatapku tajam tanpa membaca apa-apa di sana, atau mungkin tidak peduli dengan apa yang tampak di air wajahku
Aku memang sudah lama mati di hidupnya
nice
BalasHapus