Rabu, April 23, 2014

Dari Dulu

Bibirku sudah habis dikuliti lebih dulu, sebelum perbincangan romantis ini berakhir

Aku meremas pergelangan tangan dan mencabiknya diam-diam, meninggalkan bekas biru dan merah sebagai ganti dari bibir yang belum puas kubuat berdarah

Sampai sakitnya mulai terasa, aku mencari kulit mati di sela-sela kuku untuk kutarik dan membuat perihnya terbuka

Lalu berpura-pura mencucinya dengan pembersih tangan instan, agar merembes ke dalam luka

Menambah cekat tenggorokanku yang sudah tertahan sejak awal ucapan terlontar

Gigiku sudah tidak menggerutuk, ia lupa caranya dan ia tidak mampu mengatur besar suara

Ia terlalu takut untuk menggigit lidah sampai setengahnya, maka sedikit saja ia mengatupkan diri pada papila, sampai berbekas merah dan sariawan parah

Dalam bayanganku, pulang nanti aku akan menggantungkan diri

Tapi, di mana? Dan dengan menggunakan apa?

Aku hanya ingin menulis wasiat, membiarkan banyak orang membacanya, dan membuat sesal seumur hidup pada orang terakhir yang mengajakku bicara

Pada orang yang mengomat-kamitkan mulutnya sambil menatapku tajam tanpa membaca apa-apa di sana, atau mungkin tidak peduli dengan apa yang tampak di air wajahku

Aku memang sudah lama mati di hidupnya

1 komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall