Kamis, Oktober 14, 2010

Payung

Aku tidak bilang kalau aku benci hujan. Tapi, aku selalu risih untuk menggunakan payung. Ya, payung. Plastik bulat bertangkai untuk menghindari tetesan air hujan yang lebih sering dirutuk keberadaannya.

Aku sendiri tidak paham kenapa aku bisa begitu risih dengan benda ini. Bukan berarti aku tidak pernah membuka dan berteduh di bawahnya, aku hanya selalu berupaya untuk menghindari payung. Kecuali memang ada tempat tersisa untukku, maka dengan senang hati aku akan turut berlindung.

Saat ini pun aku sedang berteduh dua atap. Yang pertama dengan atap halte di pinggir jalan, dan kedua dengan payung milik seorang oma di sampingku. Beliau mengantuk dan beberapa kali menjatuhkan payungnya kepadaku, sehingga aku menawarkan diri memegang payungnya..sambil turut berteduh.

Bukan berarti juga aku mencintai hujan dan rela berbasah-basah demi dia. Aku bukan orang romantis yang menyembunyikan air mata dengan balut air hujan. Aku hanya berusaha menjauhi payung. Itu saja.

Aku sendiri tidak mengerti kenapa begitu. Dan pada waktu ini.., aku mulai menemukan jawabannya. Yah, kupikir, aku sakit hati terhadap payung-payung ini.

Bukan sekali-dua kali aku pulang dengan kuyup hujan yang membuat struktur tubuh kebanggaanku nampak. Dan selama itulah, aku terjebak di antara pengguna payung yang cukup besar ukurannya namun tidak pernah berbagi untuk siapa-siapa.

Aku akan pulang dalam keadaan seperti habis tenggelam. Aku juga tidak suka membawa payung.. Pun membawa, aku akan memberikannya kepada orang lain, biar ia atau mereka yang menggunakan. Aku tahu bahwa kekebalan tubuhku tidak memudahkan aku untuk sakit bila hanya sekedar kehujanan, tapi mereka? Mungkin pulang-pulang sudah disambut kalang kabut orang tua.

Karena alasan itulah aku menghindar dari payung. Sesekali ingin juga menjawab, bahwa aku merasa tidak pantas pakai payung, tapi kupikir itu adalah jawaban yang akan ditertawakan orang. Lantas, kujabarkan dengan kalimat yang aku sendiri belum puas menyampaikannya.

Entahlah. Yang pasti, aku tidak setia menunggu hujan reda.

Aku berbagi payung kepada yang lain dari kesadaranku, tapi tak ada dari mereka yang menawarkan tempat untukku berteduh. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, hanya ingin menulisnya.

2 komentar

  1. Kalo ditunggu hujan tak bakal reda, jadi nikmati sajalah
    Hahaha:)

    BalasHapus
  2. Siapa yang menunggu? Tidak kukatakan aku setia untuk hujan. Kalau kutunggu, mana mungkin aku benci payung.

    BalasHapus

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall