(Mungkin lanjutannya ini)
Butuh pemikiran ganda untuk menulis ini.
Inginnya disampaikan secara frontal atau dihaluskan demi harga diri.
Tetapi ternyata saya lebih lemah, sehingga saya menyampaikannya juga.
Emosi? Ya. Sampai tiba tahap yang bahkan saya tidak pahami.
Sama sekali. Karena memang tidak ada yang mengakui.
Tidak dibicarakan berarti tidak ada, kan?
Sampai saat ini saya masih mencari orang yang sudi menemukan saya lebih dulu.
Pun harapan saya diliputi keegoisan karena saya berharap pada orang yang diinginkan.
Saya mau punya tempat mengadu, di mana saya tidak akan melawan padanya.
Untuk mengabarkan hal kecil apa pun, meski saya sudah tidak dapat membedakan lagi mana hal kecil dan yang besar, mana yang aman atau membahayakan.
Di mana saya tidak perlu mengubah diri menjadi menyenangkan untuk bercerita.
Cukup sesuai dengan seperti apa situasi dan kondisi saya.
Buat apa saya berelegi bila harus disampaikan dengan tawa?
Buat apa saya berode bila saya tahu semua kemunafikan?
Buat apa saya berhimne bila kamu konservatif dan saya liberal, bahkan jauh dari Tuhan?
Buat apa saya berepigram bila frontalisme tak bisa kamu dayakan?
Buat apa saya bersatira bila akhirnya cacilah yang menyelesaikan semuanya?
Buat apa saya berbalada bila harus saya bincang dengan emosi boneka?
Buat apa saya beromantis bila yang diuntungkan hanya kamu, dan bukan saya?
Sajakku serupa Wahab Ali dan Kemala, jangan kamu putar sampai ke Dharmawijaya. Dan itulah alasan mengapa kutanyakan berkali-kali dan diulang-ulang, "Buat apa?"
Salah saya.
Salah saya.
Salah saya.
Saya salah.
Saya salah.
Saya salah.
Lihatlah, saya sendirian lagi pada akhirnya.
Sengaja saya perbuat kesalahan dengan menulis ini.
Yang pada akhirnya akan saya balik tanya, "Buat apa kamu menulis ini?"
sendirian karena pilihan ya? seandainya cerita, pasti tamatnya akan berbeda.
BalasHapusTentu saja pilihan. Kalau karena cerita..jelas lebih menyedihkan, karena semuanya terjadi dengan kesengajaan.
BalasHapus