Seharusnya saya tidak menulis ini.
Bahkan di waktu larut ini, di atas kasur, sambil mendengarkan lagu-lagu cinta.
Mungkin hanya masalah pribadi yang kurang..bahkan tidak bersyukur.
Atau karena falsafah bahwa manusia tidak pernah puas.
Saya pikir, bukan hanya saya yang seperti ini.
Yakin saya, ini hanya masalah waktu.
Saya hanya baru menyadari.
Bahwa saya ini sendirian.
Tidak ada tempat untuk saya berkata bahwa saya menangis semalam.
Saya tidak bisa meminta perlindungan ketika saya takut, karenaa tiada yang ada.
Tidak ada yang merasakan ketika saya sakit fisik dan psikis, bertanya apa ada yang terjadi.
Atau, yang menjanjikan diri untuk membuat saya tetap hidup..
Saya ingin ada yang sadar bahwa ada sisa air di ujung mata.
Juga yang memberi pesan saya untuk berhati-hati secara mendadak.
Saya berharap ada yang menangis mendengar curahan saya.
Saya ingin gerak-gerik saya dipahami satu orang..
Keegoisan saya membawa saya menulis elegi.
Membuat saya lupa dengan sahabat yang berbaik hati untuk menghadirkan diri.
Ketika saya memanggil mereka.
Saya ingin ditemukan lebih dulu.
Di mana pun saya bersembunyi.
Kapan pun saya menghilang.
Satu orang, hanya satu orang saja.
Terlalu dini kalau dikatakan saya sedang mencari cinta.
Sedangkan arti cinta saja tidak saya ketahui.
Saya tidak mau bergerak lebih dulu.
Karena yang saya inginkan adalah 'saya' dalam bentuk yang lain.
Saya tidak kesepian.
Hanya baru sadar bahwa saya sendirian.
Dan baiknya tidak mengemis kebaikan orang..
Saya tidak mau mendengar pertanyaan, "Apa yang harus kulakukan?"
Karena saya ingin dibaca lebih dulu.
Tidak, saya tidak butuh pemahaman.
Pada akhirnya,
semua akan kembali pada kesalahan yang telah saya kerjakan.
Menulis ini, misalnya.
jiwa seorang manusia itu lebih dari 5, jadi sebenarnya kamu tidak pernah sendirian..
BalasHapus5? Apa saja itu?
BalasHapus