Ibu marah di tengah kakak yang sedang tertidur.
Untunglah, karena aku takut akan singa yang mengaum.
Ibu marah, lalu meninggalkan aku sambil merutuk.
Aku diam, air mataku muncul.
Kubujuk diriku sendiri, “Jangan menangis.., jangan menangis.. Biarkan air mata itu menyusut ke bawah, tidak perlu kau usap.. Tapi jangan biarkan yang lain datang. Pegang dadamu dan katakan bahwa semua akan membaik. Jangan menangis..”
Kini aku sendirian di tempat orang-orang yang penuh kemurkaan dan kebencian.
Dalam hati aku sudah menjerit, “Tolong! Tolong!”
Kemudiannya aku sadar, bahwa aku tidak punya sesiapa pun, bahkan apa pun.
Lantas, kubujuk diriku sendiri, “Tenang.. Ini kesalahanmu.. Dan kamulah yang harus berkorban.. Jangan menangis, karena kamu sudah menemukan jawabannya.. Pagi akan datang, dan masalah pasti turut bertamu tanpa pulang. Makanya, jangan menangis lagi..”
Aku pun tidak menangis lagi.
Salam kenal, aku sering mengalami seperti yang kamu tulis, merasa bersalah, merasa takberguna & sendirian & menangis, aku berusaha orang tak tau klo aku menangis, walau rasanya menyesakkan dada, bahkan lebih. Setiap kali rasa itu datang, aku berusaha untuk bershukur, ada banyak kenikmatan yang Allah berikan yang tidak aku sadari, walau itu kadang tidak berhasil.
BalasHapusTerima kasih, Anonim :)
BalasHapusHmm sebenarnya yang aku tulis itu bukan benar-benar yang aku alami, tapi perasaannya memang seperti itu. Baguslah kalau ada orang yang cukup senasib, aku sendirian dengan tidak benar-benar sendirian. Terima kasih ya kamu datang ke sini :D
Kirim eMail untuk kenal lebih dekat ya, Anonim :)