Sabtu, Oktober 31, 2009
Katakan Saja Aku Pecundang
Aku hanya melihat, karena tebak hati perasa yang sesudahnya mengoyak jiwa. Tak apa, katakan saja aku pecundang. Karena adanya adalah aku mengintip-intip dari selah yang cukup berdebu. Bunga mungkin mekar dan beriang-riang, tapi untuk apa hadir kuncup tanpa ciuman? Katakan saja aku pecundang. Harapanku adalah realita orang lain, dan kau tidak tahu rasanya. Aku hanya terlalu sering berpikir, karena sinkronisasi yang tak pernah terpilin. Katakan saja aku pecundang. Akulah yang memberi kemenangan bagi kalian. Katakan aku pecundang, katakan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!