Surabaya, 14 Januari 1999
Kepada kasihku
di surga
Mungkinlah ini bukan perbuatan bodoh pertama yang kubuat. Tapi untukmu tak akan pernah otakku mampu berfikir jernih, karena aku sudah menggila. Sudahlah, aku tahu kamu kini sudah ada dalam dekapan bumi yang akan menggerogotimu hingga hanya tersisa tulang belulang, tapi aku pun tahu, tak akan ada yang mampu menggerogoti kenangmu di dalam hatiku, karena cinta matiku padamu tak akan bisa untuk mati kedua kali.
Sayang, bagaimana kamu di surga sana? Masihkah kamu mengingatku dalam setiap pandanganmu ketika melihat pelangi di sana, atau kamu lebih memilih bidadara yang jauh lebih indah dariku? Tak apa bila kamu ingin berpaling, karena memang dunia kita telah berbeda.
Hei Kasihku, apakah di sana matamu sedang berbinar karena keindahan surga atau sedang menangis karena telah meninggalkan dunia dan aku terlebih dahulu? Aku berharap kau sedang berbinar dan tertawa, menggali kebahagiaan baru tanpa aku di sisi.
Cintaku, Kasihku.. Aku ingin sekali bertemu denganmu dalam bentuk yang lain lagi. Tapi aku tak mau orang lain, aku hanya mau kamu. Aku akan menyusulmu nanti ketika waktuku sudah habis. Ya, dahulu aku memang ingin berbuat bodoh dengan membinasakan diriku, tapi itu hanya akan membuatmu membenciku, sehingga aku mengurungkannya.
Apa rencanamu bila kita bertemu, Sayang? Mengecupku atau menamparku? Aku siap untuk dijamahmu, bila itu melepas rindu. Fikiranku melayang entah ke negeri mana, bila aku dapat merangkulmu seperti dahulu. Tapi cerita hanya akan jadi cerita.
Selamat tinggal Sayang, kamu akan datang lagi. Pasti, suatu saat nanti. Akan kubiarkan lilin hatiku mati, karena hanya kamu yang mampu menyalakannya. Aku mencintaimu, mahkluk memabuk jiwa.
Salam,
yang mungkin berani menyusulmu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!