Aku hidup di keramaian muka bumi, dengan bermilyar-milyar manusia di dalamnya. Tapi hanya beribu-ribu yang kujumpai masih memiliki keagungan hati.
"Isi dunia mulai habis, dan mati yang mengisi dunia terus dieksploitasi, sedangkan yang hidup yang mengisi dunia, si pengeksploitasi, tanpa pikir jauh terus saja membuat luka, sehingga dunia ini penuh dengan luka, dan hartanya mulai habis," pikirku.
Aku sendiri tak masuk dalam kelompok beribu-ribu orang yang memiliki keagungan hati, tapi aku juga tidak termasuk dalam beribu-ribu orang yang memiliki julukan Si Jahat. Aku masuk ke dalam strata berjuta-juta orang yang biasa saja namun ditindas dan hidup dalam perintah materi, yang kaya jiwa namun miskin hati.
Aku mendapat mimpi yang sama tiap malam, yang disebabkan kegelisahanku, takut-takut materi sialan itu akan berhenti mengalir karena mengalami krisis sehingga aku beralih, dari berjuta-juta orang biasa saja, menjadi berratus-ratus juta member kelompok miskin yang rela diapakan saja demi materi, apa pun itu. Dan aku yakin, bila aku jatuh terkapar dalam golongan orang-orang seperti itu, kegelisahanku akan berubah menjadi ketakutan yang teramat sangat, karena aku khawatir akan digusur, disakiti, atau dijamah para orang-orang kampung yang nafsunya tinggi.
Demi tuhan, aku tidak mampu menahan kengerian ini lebih lama lagi. Mungkin dalam tulisan, tak satu pun dari kalimat yang kuutarakan terasa seram, namun aku merasakannya. Aku berharap, oh sungguh-sungguh berharap, satu golongan terakhir akan menolongku. Yaitu berpuluh-puluh orang yang juga memiliki keagungan hati, namun ia mampu mempraktekkan apa yang mereka khutbahkan. Demi tuhan, aku menunggu.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!