Minggu, Desember 11, 2016

Desember

Tiap hari pun, saya sudah inginnya menyerah. Sebenarnya-benarnya, saya cenderung memilih berhenti, terutama kala berkaca diri, kemudian dibawa sadar bahwa saya dan kamu idealnya tak pernah jadi kita.

Satu cara untuk kembali tenang, kamu tahu, apa lagi selain mencacah daging-daging di bawah kulit tanpa menghitung berapa tebasnya. Tubuhku tak pernah marah, tapi sahabatku marah, hingga saya perlu tahan diri dan tarik napas sepuluh kali, lepas lupa mau apa tadi.

Saya paham betul, mau bicara bagaimana pun, sepatah kata dari kamu mampu buat luluh. Saya akan pulang lagi padamu, menimang hingga tertidur, mencoba beri kasih pun hanya imitasi. Lalu wajahmu kukecup berulang, sebab saya sayang, pun tidak bisa terbiasa karenanya dan karena orang-orang.

Siapa yang gila? Siapa yang jahat? Berhentilah kita pura-pura ada. Nirmana! Barangkali saya besar kepala pada manipulasi yang elok dan tak ternyana. Dan, pada demikian, saya lega lebih banyak.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall