Jumat, November 04, 2016

Terakhir

Ini akan menjadi surat yang panjang. Dan harapannya cukup dua; kamu tuntas membacanya, dan tahu ini ditulis hanya untuk kamu. Tentang apa yang akan terjadi berikutnya, biar disimpan jadi rahasia. Terlalu mengerikan untuk berharap di waktu-waktu labil, cemas berakhir pada luka-luka yang tak seharusnya perlu ada.

Lebih dulu, baiknya dimulai dari maaf.

Aku membuat banyak kesalahan. Masalah jumlah dan penjabarannya, itu biar kamu yang perhitungkan sendiri. Menyesal, sangat, tapi yang terasa perlu memeluk dan mencium kakimu (meski inginnya di kening saja) berulang-ulang adalah ketika aku berkata, "Tidak bisa".

Sebenarnya aku tidak ingat sudah berapa kali menolak kamu. Memberi prioritas pada urusan lain dan mengenyampingkan kamu. Entah mengapa, frasa satu itu paling banyak mengemban dosa di kala terakhir aku melontarkannya--di saat yang sama kamu berhenti mencariku untuk menemukan tempat istirahat sejenak.

***
Tidak cuma sekali aku bertanya, "Kenapa aku?"

Lalu jawabanmu suatu hari, "Karena cuma kamu yang bertanya aku kenapa."

Awalnya tersanjung. Sungguh. Meski lama-lama aku berpikir lebih luas; bahwa memberi tanya tak akan pernah seanggun memberi nyaman dan hadiah. Aku kosong dan miskin tawaran. Mampunya menarikmu pada dunia bawah, memaksa senang di sana, lalu lupa pikirkan kamu.

Aku menuju menyerah, tinggal selangkah malah, tapi senyummu itu seolah melarangku berpaling. Jalan mundur tak apa, selama tidak berbalik wajah. Pun tidak tahu bagaimana kejujurannya, redam dalam pelukmu itu sudah jadi candu untukku. Aku ingin lelap di sana dan bangun tanpa pindah sedekat apa pun.

***
Sampai di sini aku mulai putus asa dan ingin tuntas saja semua. Tidak menjadikannya surat yang panjang lagi, lalu kabur entah ke mana--asal itu bisa membawaku lupa kalau kita pernah ada.

Apa ini namanya perpisahan? Aku pun enggan jawab, meski pertemuan pun tak tercipta dengan skenario sederhana. Awut-awutan bahkan, hingga idealnya saling meninggalkan pun bisa jadi berantakan pula. Bagaimana pun caranya, tolonglah diingat, sedikit pun tidak ada kesalahan dari kamu.

Sejak semula cuma ada Pungguk yang merindu Bulan.

***
Aku diminta berhenti dan menjauhkan diri. Lebih banyak rugi, katanya. Aku akan tersiksa dan kelepasan kamu di kala semuanya membaik. Menurutmu pun demikian? Atau sebenarnya sudah terjadi dari awal?

Barangkali memang aku banyak memaksa untuk ada di kehidupan kamu. Bisa juga sebaliknya, memaksa kamu ada di kehidupan aku. Lalu aku hilang hormat pada diriku sendiri, padahal tak ada yang bersambut kala aku menujumu. Mungkin sekali-dua kali, itu pun nihil soal siapa yang kamu pikirkan dan diharap-harap dalam hati. Bisa jadi aku, bisa jadi..

Intinya, aku kelelahan untuk lebih lagi. Padahal baru sebentar, tidak dihadang oleh badai dan ombak pula, tapi kehendak di masa depan berhenti maju di waktu-waktu kamu terjebak di masa lalu. Sungguh.

***
Jangan marah. Jangan sedih. Jangan bertanya.
Pun kamu tiada di ketiganya.

Pergiku tidak terasa.
Tidak menimbulkan apa-apa.
Tidak mengubah apa-apa.

Terima kasih untuk waktu-waktunya.

1 komentar

  1. Oy ga, mario nih, apa kabar? Long time no talk. Gue nyari Line dan sosmed lainnya ilang dr contact gue. Kayanya cuma blog lo ini yg masih aktif. Nomor lo masih yg lama? Let's meet up, it's been a while. Contact me, ke nomor yg dulu 0813xxx. If not, email me to marioherman.fazary@gmail.com. There are a lot of things to tell.

    BalasHapus

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall