Pergi darimu itu bukan perkara susah. Sebab sejak mula pun, tak ada dalam pikiran bahwa setitik diriku memang hidup untuk memenuhi takdir kamu. Kita hanya kebetulan yang timbul dari pengandaian, dan sekali waktu Tuhan cukup kurang kerjaan untuk menjentiknya jadi peristiwa sungguhan. Namun aku tak celaka, tak berikutnya tenggelam di ranum sukmamu, sebaliknya hanya terombang-ambing pada ombak dan badai di kala air sudah pasang.
Lalu aku dampar sendiri, diberi pesan menyelamatkan diri. Di tengah kerah kakiku, suara laut muncul, melolong-lolong, hingga aku berbalik sejenak. Menjuntai penglihatan dan pendengaran, barangkali inilah tepat peranku selayaknya, sebab Semesta selalu bearkhir punya alasan.
Sayang, apa yang baiknya harus kita lakukan?
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!