Saya berkali-kali mendapat pertanyaan, "Mengapa kamu selalu jatuh pada orang yang kesakitan?" Berkali-kali pula saya menjawab hanya dengan senyuman simpul, setengahnya dengusan, sebab saya pun tak tahu alasannya. Mungkin karena saya pun tidak sehat, setengah gila, belum waras-waras amat. Lalu rasa dan lagak banyak tahu membuat saya tak mampu biarkan yang sakit untuk terus sakit.
Bagaimana dengan kamu? Satu-satunya pertanyaan adalah soal pilihanmu dari awal. Katanya, saya tak butuh kamu, dan karenanyalah kamu datang pada saya. Bila lantas tak kuat lagi dengan sakit dan enggan mencoba baik, buatmu, saya tak akan masalah. Siapa yang egois? Siapa yang dingin?
Bagian paling mengerikan dari orang sakit adalah tawanya. Rasa sukanya. Rasa sayangnya. Juga keadaan tanpa jarak. Semuanya bisa palsu, semuanya bisa sungguh jadi candu, semuanya bisa jadi pembenaran untuk tak kunjung sembuh. Saya selalu suka dengan malam-malam yang baik, di mana tidak ada degup jantung berkejaran dan hampir lepas karena cemas dan takut. Kamu adalah yang baik ketika baik, tapi sakitmu tidak bisa membuatmu sungguh-sungguh baik.
Saya sudah tidak bisa ada dekat kamu lagi. Terlalu jauh untuk kamu tarik kembali ketika lelap di selimut yang sama. Ada banyak hal yang saya pikirkan tentang kamu, dari benci sampai sangat cinta, namun semuanya berharap kamu masih akan selamat.
Tolonglah datang pada dirimu sendiri. Pastikan pergi dan tak sakit lagi.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!