Senin, Oktober 19, 2015

Pungguk

Pernahkah kamu dengar peribahasa: "Bagai pungguk merindukan bulan"? Kalau kutanyakan langsung, pastinya kamu akan mengangguk sedikit, beberapa kali, menunjuk-nunjuk, menyimpulkan senyum, menaikkan alis, lalu berkata: "Oh, iya, iya." Atau barangkali juga, kamu tetap menatap suatu layar atau pemandangan, tak mengubah air muka, bersandar dengan kemalasan maksimal, dan menjawab: "Iya, kenapa?" Lantas bila demikian, aku akan meninggikan suara, minta diperhatikan dan kamu pun menjemput wajahku. Tersenyum gombal, kadang seraya mengelus, kemudian bilang: "Itu kenapa, Sayang?" (ya, aku memperhatikan dan mengingat segalanya)

Ini semisal kamu tahu saja. Bila tidak, akan kujelaskan artinya: "Mencita-citakan atau menginginkan sesuatu yang tidak mungkin didapatkan". Atau yang biasa dikenal orang: "Seseorang yang merindukan kekasihnya, tetapi cintanya tidak terbalas". Namun, bukan itu inti dari percakapan ini. Yang kutanyakan adalah: "Tahukah kamu apa itu pungguk?"

Tak perlulah kejabarkan lagi bagaimana biasa kamu bereaksi. Entah pura-pura atau tidak, yang kuingat adalah matamu senang berbinar tiap kukenalkan dengan kata-kata baru. Dan agar singkat, mari kuberi tahu--pungguk adalah elang malam yang suka memandang bulan. Seekor burung hantu.

Begitulah mengapa ia dikatakan merindukan Bulan, sebab sang Pungguk setia memandang satelit Bumi dari salah satu dahan pepohonan. Tidak ada yang tahu alasan sang Pungguk berlaku demikian, karena hingga kini masih belum ditemukan orang yang paham bahasa elang malam. Tak apa, karena situasinya diromantisasi oleh manusia dan kebiasaan personifikasinya, dijadikan: "Bagai Pungguk merindukan Bulan". (kini, aku mau menjadikan Pungguk dan Bulan sebagai nama, bukan kata benda)

Kemudian untuk apa kuceritakan ini? Selain karena (kamu pasti tahu) aku tahu rasa menjadi Pungguk yang merindukan Bulan, aku hendak menyampaikan bahwa memang kamulah sang Bulan. Intimidatif dan tak tercapai. Namun demikian, kamu biarkan aku, Pungguk, memakan sisa-sisa cahayamu.

Pungguk itu sendiri bermakna ganda. Bukan hanya tentang elang malam yang suka memandang (dan merindukan) Bulan. Pungguk juga melambangkan: Buntung ekornya; tak berekor. Kamu tahu apa intinya? Pungguk adalah ketidaksempurnaan. Ketidaklengkapan pada apa yang seharusnya lengkap.

Dan bukankah keduanya semakin memayungi keadaan diriku?

Aku bukan lagi mayat yang bertahan utuh. Aku hidup bak Pungguk--dengan kedua makna. Dan Bulanku, sungguh kautemukan aku di waktu yang tak bisa lebih tepat lagi. Tak ada sedikit pun salah dicipta dari elok rupa dan caramu bersuara. Aku hanya Pungguk dan kau Bulan, Bulanku dulu, yang tentunya tak bisa diselamatkan selamanya.

Kini Bulanku sudah harus ditinggal pergi, sama-sama berputar karena hari menuju pagi. Aku lebih kerdil dari dahan pohon yang kuhinggapi, tak sanggup terbang menuju belahan yang lain guna terus merasakan malam. Cintaku egois, Sayang, Bulanku--bila Pungguk hanya bisa memandang, lengkap dengan ketidaklengkapannya, maka akan kubuat hari tak pernah bertemu matanya.

Pungguk--memang hanya akan selalu--merindukan Bulan.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall