Aku selalu, dan ingin mencintai kamu sebagai laki-laki.
Sebab untukku, kasih sayang pada manusia adalah rasa paling sederhana. Diberikan pada siapa saja yang hidup dan berhak hidup, yang mengenalku dan mengetahui aku—apa pun keadaannya.
Kamu, tak cukup biasa untuk sekadar ada dalam jajaran “manusia” itu. Bukan pula maksudku menjadikan laki-laki lebih baik dibanding manusia.
Aku tidak feminis. Kesetaraan untukku adalah mengisi satu sama lain, dengan peran yang mampu dijalani kemampuan diri masing-masing. Seperti bercermin—kuangkat tangan kananku, maka kauangkat tangan kirimu. Berhadapan dan bersatu. Tiada yang menguasai satu sama lain. Bila kakimu berjalan, aku pun demikian. Ketika jatuh, kita berangkulan.
Aku selalu, dan ingin mencintai kamu sebagai laki-laki.
Maka jadilah demikian, sesuai dengan yang kamu bisa. Sebab yang tidak dapat diterima bukanlah ketidakmampuan atau kelemahan pribadi, melainkan ucapan yang tak senada dengan perbuatan. Tidak sama dengan tidak, iya sama dengan iya.
Bagaimana pun, aku pasti bersandar. Karena kamu adalah pengisiku, laki-laki yang telah dipilih. Setelah cerita-cerita dan pengalaman buruk-baik. Aku bertahan dengan alasan. Jangan biarkan itu hilang dan mencipta kosong yang lebih besar, melompong lalu kehilangan akal.
Jadilah dirimu sendiri—tentang bagaimana kamu mendefinisi kamu, dan tunjukkan kenyataan yang sesuai. Dari situlah kamu menjadi laki-laki. Tak selalu harus dengan tubuh besar, suara berat, dan kata-kata perihal kebanggaan, yang barangkali tak semua benar. Tak selalu harus begitu.
Kita tidak sedang saling mendekati. Itu sudah berlalu lampau.
Aku selalu, dan ingin mencintai kamu sebagai laki-laki.
Semoga bisa dimengerti. Teruntuk manusiaku, laki-lakiku.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!