Luka besar, pada akhirnya ada untuk menutupi luka kecil. Ia hadir agar bersyukur kita telah hidup dalam kekuatan, dalam keengganan untuk berhenti berusaha. Ia adalah peringatan, bahwa hidup selalu memburuk di saat-saat yang tak terduga. Ia datang tanpa memilih waktu dan tempat. Ia mengabaikan kesiapan hati. Ia percaya, luka yang lebih besar akan menutupi luka besar.
Luka besar, telah menumpahkan air mata sama derasnya dengan pekat merah darah. Ia keluarkan pula segala isi perut kita, agar habis sumber tenaga. Ia merupakan pemberitahuan bahwa hidup tidak pernah mudah, dan gangguan selalu ada untuk menguji keterbatasan manusia. Ia semata muncul untuk menyadarkan kalau-kalau segalanya bisa menjadi lebih parah, dan selalu ada yang lebih tidak menguntungkan.
Dan di sinilah kita, berdoa diberi ketegaran diri agar mampu menghadapi luka-luka besar. Sebab luka kecil jadi terlupakan, tertinggal begitu saja. Serpih di antara gundukan duka. Terima kasih untuk luka-luka besar. Ia adalah sumber dari segala sumber kehidupan.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!