Sekali saja. Untuk terakhir kalinya. Aku ingin mengingatkan sesuatu yang membuat manusia tertawa. Tentang masa lalu yang telah diubahnya menjadi fitnah dan dusta. Harapan yang terkirakan bisa bertahan sekian lamanya, namun habis ditutup oleh kehadiran perempuan yang baru dan yang lama.
Pernah diungkapkan, aku pergi terlalu cepat atas resiko yang tidak cukup tepat kamu peroleh. Lantas kamu ingin membawaku ke suatu tempat di mana hanya kita yang tahu. Membagi waktu; mengenang memoar yang terasa membahagia seperti surga. Sayang, ada khuldi terlarang—kamu makan dan menyebabkan sesuatu terjadi dalam perjalanan menuju surga itu. Sialnya, kamu tidak bisa memperoleh maaf karenanya.
Kamu menghitung setiap napas yang kuambil. Berpikir meminta kata dan tanda dari terangnya sinar. Seraya membandingankannya dengan recehan, kamu berkata tidak bisa berhenti mencintaiku. Dingin yang menyeruak pada jiwa meminta agar kamu tidak sendirian. Berharap ada yang kembali padamu. Sebab terduganya aku sudah terlalu lama ada dalam pikiranmu dan sudah mampu menerima apa yang tidak sempurna. Terhimpun keinginan untuk menjadikan aku yang satu dan satu-satunya.
Nyatanya, tidak ada dua hati yang sebenar-benarnya percaya. Sumpah tanpa keyakinan akan membawamu entah ke mana. Dan aku tidak perlu dirasa akan selalu datang menggapai kamu, sampai sejauh-jauhnya. Kamu benci merasa kesepian. Memandang kesenangan orang. Pikirmu semua sudah tersiapkan—sampai kamu bersiasat untuk memanfaatkan seseorang.
Tetapi, kamu memang sepandai-pandainya pandai. Sebaik-baiknya baik. Maka kamu mengerti akan pilihan dan masing-masing putusannya. Tak apa bila kamu terluka. Pun merindu sampai pilu. Karena untukmu, kalau kamu mencintai seseorang, bebaskanlah ia.
Terima kasih!
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!