Jumat, Desember 10, 2010

Tangan

Tangan kananku yang manis.

Siapa yang mendidikmu sampai begitu agresif?

Menggoda, merangkul, memeluk, menggandeng, dan apa pun yang lainnya, yang tak kuketahui apa sebutannya. Sehingga tangan yang kamu jamah berbalik mengajakmu bercinta setelah foreplay yang kamu kerjakan.

Kamu tidak akan pernah kesepian. Kamu terlalu pandai tanpa didikan, semoga dirimu akan selalu baik-baik saja, tangan kananku yang manis.

Tangan kiriku yang juga, seharusnya, manis.

Jangan pemalu begitu..

Mungkin memang belum saatnya dirimu ditemukan dari balik tubuhku atau lengan kanan yang selalu menjadi rivalmu.. Tetapi, pernahkah kamu sadari, bahwa itu berarti peranmu adalah menunggu untuk dicintai, dan bukan untuk memulai lebih dulu seperti yang tangan kanan lakukan? Apakah kamu merasa indah dengan pernyataan itu? Merasa berharga? Dan tidak lagi kecewa atau berputus-asa untuk mencapai sentuhan halus, entah untuk niat yang kasar atau bukan?

Aku paham bahwa dirimu mengais-ngais benakku, berharap ditemukan, digenggam, dan dicintai, oleh tangan kanan lain seperti bagaimana pasanganmu, si tangan kananku, melakukannya pada tangan kiri orang lain. Bahkan mencapai titik yang lain-lain, dan aku tahu bahwa itulah memang maumu. Tetapi, ini belum saatnya, Sayang, belum saatnya dan tunggulah sampai waktu yang tepat. Aku berjanji bahwa akan kubawakan tangan kanan yang indah untukmu, beserta tangan kirinya yang juga akan menyentuhmu dengan adil dan tanpa penistaan.

Kedua tanganku, yang manis, milikku.

Jangan beradu.

Aku tahu bahwa kamu bahagia dan menyedihkan, tangan kananku. Aku tahu kamu lelah karena setiap kalinya kamu menyentuh atau disentuh, karena mereka menerimamu dari sudut-sudut napsu dan hasrat untuk mengobati duka hati mereka.

Aku tahu bahwa kamu bersedih dan kesepian, namun memiliki cukup rasa terhormat, tangan kiriku. Aku tahu kamu menatap nanar dengan apa yang dilakukan tangan kanan, tetapi kamu akan selalu menginginkan untuk menjadi dirimu sendiri yang berharga dan perawan. Kamu mencintai dirimu lebih dari apa pun dan tiada akan keluar dari benteng pertahananmu sampai kamu tahu posisi telah berubah.

Kedua tanganku yang manis, yang kusyukuri keberadaannya.

Tetaplah menjadi milikku dan jangan menyerang satu sama lain. Tidak ada posisi yang mnguntungkan di sini. Pada akhirnya, pikiranku mengendalikan kalian. Jangan berduka dan jangan mencipta luka. Kalau kalian menangis, siapa yang menyeka air mata? Jemari yang kucinta selalu menolong dengan dayanya.. Dan kita akan sama-sama paham bahwa pada waktunya, akan terkatup kalian berdua, menguncup, dan terkecup dengan seksama.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall