Rabu, September 01, 2010

Dari Mata

Ada sentuhan yang kurindu. Dengan seenaknya kau simpan semua di balik bola matamu. Meminta ampun pada ruhmu sendiri untuk berhenti menoleh mengikuti jalan yang kutapaki. Takut-takut kita akan saling menusuk pandangan di tepi waktu yang berhenti memabukkan.

Aku tidak tahu. Tapi pura-pura tahu agar bahagia. Kamu melihatku, mengingat aku. Sayangnya tidak ada yang bisa disampaikan. Karena gerik kitalah yang saling mencinta, bukan apa-apa selain itu.

Di balik matamu itu, fantasi liar bergerombol. Menunggu kesempatan yang biasa didapat di tengah kelapangan. Kadang kala kau mau bertanya, "Apa kabarmu? Dengan siapa kau pulang? Bolehkah aku berjalan bersamamu?" tapi sudah terlanjur nafsu yang merundung kita. Dipeluk beludru kelabu, kita hanya berdua saja.

Sayang. Sayang. Sayang. Tidak ada yang memihak kita. Bahkan Tuhan!

Masih perlukah kau melenggak-lenggok kepalamu, atau diam terpaku dengan aku yang melewati samping tubuhmu, sesekali mencoba menggenggam tangan tapi tiada yang tahu sejarah di antara kita?

Wajah kita bersentuhan sambil terburu-buru di waktu petang. Penuh keterpaksaan karena memang kita hanya orang yang kekurangan cinta. Bagian bawahmu memang selalu lebih jujur dari pada mata atau dadamu, bukan begitu?

Lantas, apa yang kita lakukan? Meminta maafkah? Pada Maha Agung yang menganugerahkan kita akal binatang yang mengendap mencuri makan?

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall