Rabu, Mei 05, 2010

Pertama Kalinya

Aku ingin bercerita dengan subtitusi kata, namun, aku menjadi tidak begitu pandai kini. Jadi, kukeluarkan saja semuanya. Dengan mengikuti prinsip seorang teman yang menulis tanpa memikirkan apa-apa.

Jemari tanganku terarus tanpa perlu kuperhatikan, karena aku cukup menghafal letaknya masing-masing, terutama kunci backspace dan delete, karena aku selalu membuat banyak kesalahan.. Entah kesalahan dalam apa yang ingin kuucapkan atau cara penulisan.

Masih dari teman yang sama, dia berkata bahwa aku akan lebih produktif. Pikirku pun juga begitu, seperti yang biasanya terjadi selama ini (mengapa post saya di bulan Maret dan April sedikit? Karena saya bahagia!). Sayangnya, kali ini tidak. Mungkin karena ini adalah kebodohan kedua yang kulakukan, sehingga aku kecewa dengan diriku sendiri dan tidak tahu apa yang baiknya kuucapkan.

Banyak yang ingin kuutarakan, namun semuanya kugeser ke selatan. Ekstrim, terlalu jauh. Apa lagi aku lewat jalan memutar, bukan berbalik hadap lalu berjalan atau langsung mundur ke belakang tanpa tengkok kiri dan kanan. Aku melakukan itu karena Tuhan selalu memegang katak-kataku.

Kubilang sebelumnya, idealisme menyiksaku. Ego juga menyiksaku, gengsi juga menyiksaku.. Tidak perlu kita bicara tentang harga diri, karena aku tidak mengenal kata formil penuh jilatan begitu. Yah, sudahlah, aku akan menjadi terbiasa.

Beberapa hal yang tidak baik terjadi pada diriku belakangan ini. Tidak perlu kusebutkan karena itu hal yang tidak perlu kubagi kepadamu. Aku berusaha untuk tidak mengeluh, namun nyatanya bersedih hati tanpa punya pelukan lebih menyenangkan dari pada sok berkuat-kuatan. Aku tetap menjadi orang yang berbeda di setiap perjumpaan.., yang berarti, aku telah kembali menjadi seperti dahulu, mungkin.

Menjadi yang tidak punya perasaan lagi.. Harusnya begitu.

Sempat kupikir bahwa aku tidak mau lagi menjadi seperti robot, namun aku membutuhkannya kini. Sayang aku tidak bisa sihir untuk mengubah diriku sesuai dengan apa yang aku mau. Ah, apa gunanya berkhayal.

Saat ini pun aku sedang mengeluh, bukan? Pikirmu, mungkin. Terserah apa pendapatmu, karena aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kutuliskan. Aku sedang menulis kepada yang mau membaca, sedang berbicara kepada yang mau mendengar. Aku tidak sedang bersedih-sedihan, aku hanya mengikuti langkah jemari dan gurat otak.

Gusiku sakit, bengkak. Tapi aku menikmati sakitnya.

Aku menikmati semuanya, tidak hanya yang satu itu.

Namun, memang dasar sifat makhluk, entah hidup atau mati, tidak akan menyerah untuk melukai kalau belum menangis. Aku tidak mau menangis.., air mataku terlalu mahal. Gengsi pula! Untuk apa terpancing pada sesuatu yang memancing? Aku tidak selapar itu hingga jadi buta.

Cih, mendadak aku lupa dengan apa yang mau kutuliskan!

Ah, ya, belakangan aku mencoba untuk menghilangkan kejahatan dalam diri. Insting psikopat masih terus mencoba untuk keluar, ingin membuat asap, namun api yang keburu dipadamkan membuatku menjadi manusia normal. Aku tahu bahwa seseorang akan berkata padaku untuk menjadi si psikopat saja, tetapi, kali ini aku tidak mau mendengarkan orang.

Aku pernah dengar kalau dendam bisa berubah menjadi ruh. Kalau benar begitu, aku tidak mau dendamku saja yang terbawa. Seluruhnya saja! Terbang di angkasa, mencari korban, mengintai, menjahati..

Aku baru ingat! Sejak kemarin aku ingin berkata bahwa, semakin banyak orang yang mencurahkan perasaan sedih hatinya padaku.., semakin tambah pengetahuanku akan cara untuk membuat orang lain berduka. Aku tahu aku bisa melakukannya, namun aku tidak mau. Idealisme menahanku, menyiksaku.

Terakhir untuk kujujurkan padamu: aku tidak butuh pendapat apa-apa darimu.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall