Kamis, Januari 28, 2010

Membicarakan Cinta

Mungkin sudah hampir 4 jam aku mencari-cari celah untuk terinspirasi menulis tentang cinta. Hingga akhirnya, aku mengubah posisi dan menjadi seperti sekarang ini. Duduk membungkuk di atas kursi berwarna kuning, sambil menyilangkan kaki. Jemariku yang acap kali bercinta dengan jemari lain semakin pandai menari.

Harusnya aku tidak perlu memaksa diri untuk menulis tentang cinta. Entah puisi-puisi cinta atau cerita cinta. Toh, aku sendiri tidak punya kisah cinta. Dan tidak tahu apa artinya jatuh cinta. Nah, apakah sebaiknya aku terus menulis tentang cinta?

Mereka..mereka bilang cinta. Sayangnya, aku tidak tahu cinta. Aku mengenal cinta dan menghormati keagungan cinta, sekali pun dalam hidup aku tidak bertemu dengan cinta. Ada yang pernah mendengar dari seseorang yang tidak kukenal, katanya cinta akan datang dengan aba-aba, sehingga kita bisa mengetahui lebih dahulu mencinta siapa, atau apa.

Kawan-kawanku membicarakan cinta. Aku sering ikut dalam pembicaraan itu. Hanya bicara, karena tidak ada pengalaman. Apa bedanya cinta dengan gairah? Itu pun aku juga tidak tahu. Kadang-kadang, bertanya tentang cinta hanya akan menjadi bentuk pengendalian tidak senonoh, atau pembodohan kepada yang lugu.

Katanya, mereka cemburu. Itu, namanya cinta. Aku juga cemburu. Tapi, aku tidak cinta. Katanya, mereka ingin perhatian. Itu, namanya cinta. Aku juga ingin perhatian. Tapi, aku tidak cinta. Katanya, mereka ingin disentuh. Itu, namanya cinta. Aku juga ingin disentuh. Tapi, aku tidak cinta. Katanya, mereka berharap-harap cemas. Itu, namanya cinta. Aku juga berharap-harap cemas. Tapi, aku tidak cinta. Katanya, mereka rindu. Itu, namanya cinta. Aku juga rindu. Tapi, aku tidak cinta. Katanya.., ah, sudahlah! Aku hanya tidak cinta.

Karena memang aku tidak mengenal cinta!

Bukan berarti aku tidak mencintai cinta.., tapi cinta itu apa? Aku masih sekadar bocah, kata sekelilingku. Belum saatnya mencari cinta, membicarakan cinta. Begitulah, akhirnya aku tidak mengenal cinta.

Tapi, aku rasa aku tahu caranya bercinta.., atau mencinta. Kalau pun benar permainannya, maka aku harus mendapat peringkat pertama. Dan kalau kita kembali ke awal.., maka tidak akan ada yang benar, karena nyatanya aku sama sekali tidak mengenal cinta.

Aku banyak bernegoisasi dengan mereka-mereka yang buta cinta, berkata bahwa aku pun tidak pernah bertemu cinta. Kemudian bertanya, apakah berarti aku adalah orang yang tidak berperasaan? Apakah suatu keberuntungan karena pada akhirnya aku tidak bersedih-sedihan dan menggigit bantal ketika lelap?

Mau bagaimana, aku tidak kenal cinta. Dan siapa yang bisa mengenalkan?

Aku.., aku, mungkin selamanya hanya akan terdiam dan menebar cinta yang serupa kebenaran dari diri sendiri. Lalu tidak akan pernah menerima cinta, dan lupa bahwa ada zat bernama cinta yang kegaibannya mengalahkan jin mana pun di dunia dan akhirat.

Cinta.., cinta. Kamu siapa? Apa? Di mana? Bilamana? Kenapa? Bagaimana?

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall